Home  /  Berita  /  Politik

Sering Bela HRS, Benarkah Gatot Nurmantyo hanya Cari Modal Untuk Dukungan Pilpres 2024

Sering Bela HRS, Benarkah Gatot Nurmantyo hanya Cari Modal Untuk Dukungan Pilpres 2024
Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. (Foto: Istimewa)
Minggu, 06 Desember 2020 10:21 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dianggap cukup sering membela Rizieq Shihab. Hal itu disinyalir sebagai upaya mencari modal dukungan untuk menghadapi Pilpres 2024.

Menanggapi hal itu, Pengamat politik Emrus Sihombing berpendapat, siapapun yang memiliki kemampuan berhak untuk menjadi apapun di negeri ini. "Sah-sah saja, Politik itu kan cair dan selalu dinamis. Jadi kalau Pak Gatot Nurmantyo membela HRS untuk kepentingan maju dalam Pilpres 2024 ya hal yang biasa," tukasnya.

Sebagai warga sipil biasa aktor kata Emrus, Gatot juga berhak untuk menarik simpati dari kalangan manapun. "Di dalam politik tidak ada istilah kawan abadi maupun lawan abadi. Politik itu sangat cair, contoh saat Pilpres tahun lalu pak Prabowo adalah rival dari pak Jokowi, tapi faktanya mereka berdua bisa menyatu," urainya

Jadi ketika Pak Gatot saat ini dianggap membela HRS hanya karena kepentingan Pilpres, menurutnya tidak semuanya bisa dibenarkan juga. "Satu contoh, saat pak Gatot minta Polisi tidak hanya memeriksa kerumunan di Petamburan, tapi juga minta kasus kerumunan di Solo juga diproses, itu menurut saya bukan membela HRS. Tapi Pak Gatot ingin adanya keadilan," ujarnya.

Namun menurut Emrus, harusnya Gatot terlebih dulu mencari bukti-bukti yang kemudian didiskusikan dengan para pakar untuk dilanjutkan sebagai laporan ke pihak Kepolisian.

"Setelah ada bukti, dibahas dan ada indikasi pelanggaran, baru bisa mendesak sekaligus melelaporkan ke Polisi," tandasnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Maksimus Ramses Lalengkoe menilai, ngototnya Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo membela Habib Rizieq Shihab adalah cara mantan Panglima TNI menggalang dukungan untuk misi politik.

Saya menganalisa, Gatot sedang mencari arus dukungan kelompok Rizieq, sebab hanya kelompok itu bisa Dia garap secara politik karena lebih terorganisir ketimbang kelompok lainnya," ujarnya, Sabtu (05/12/2020) di Jakarta.

Hal yang sama juga diungkapkan Pegamat Politik Ujang Komarudin. Menurutnya bukan hal aneh jika Gatot bela mati-matian HRS.

"Tidak aneh dan bukan hal baru. Karena keduanya memiliki garis yang sama, yaitu menjadi kritikus terhadap pemerintah," ujar Ujang kepada GoNews.co Minggu (6/12/2020).

Tidak hanya sama dalam konteks mengkritisi pemerintah, menurut Ujang, langkah perjuangan Gatot dan Rizieq juga memiliki kesamaan, yaitu ingin meluruskan pemerintah jika dinilai salah jalan.

"Jadi pada intinya, Gatot juga butuh HRS (Rizieq Shihab) dan massanya. Jika Gatot maju jadi capres atau cawapres, maka dia membutuhkan HRS. Jadi HRS bisa menjadi teman dan aset bagi Gatot," ujar Ujang.

Diketahui, baru-baru ini, Gatot tampil dalam acara Dialog Nasional 100 Ulama dan Tokoh yang disiarkan Front TV.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan masih ada praktik ketidakadilan dalam pemeriksaan Rizieq Shihab oleh Kepolisian terkait kasus kerumunan di Petamburan.

"Apa yang terjadi belakangan ini tentang pemeriksaan Habib Rizieq, kalau memang negara ini adil dan benar-benar beradab maka semua yang kumpulan-kumpulan, periksa semuanya," tegas Gatot.

Mantan Panglima TNI sekaligus Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo mati-matian bela Rizieq Shihab.

Gatot Nurmantyo menyebut penegakkan hukum di Indonesia sudah tebang pilih, tanpa mengedepankan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Gatot Nurmantyo saat acara Reuni 212 bertema Dialog Nasional 100 Ulama dan Tokoh secara virtual, Jakarta, Rabu (2/12/2020).

"Apa yang terjadi belakangan ini tentang pemeriksaan Habib Rizieq Shihab. Kalau memang negara ini adil dan beradab, maka semua yang perkumpulan diperiksa semuanya," kata Gatot.

Menurut Gatot, para pemegang kekuasaan saat ini telah melakukan penyimpangan. Padahal pemerintah hanya sebagai penerima mandat dari rakyat dan rakyat menjadi pemilik kedaulatan tertinggi.

"Jadi revolusi akhlak ini sangat penting, karena sudah parah, berubah keburukan menjadi kebaikan," ujar mantan Panglima TNI itu.

Selain itu, penangkapan sejumlah petinggi KAMI, kata Gatot, sebuah bentuk penegakkan hukum yang tidak benar dilakukan karena tanpa alat bukti yang kuat.

"Saya kasihan sama penyidiknya, karena penyidik Kepolisian adalah orang yang pintar, cerdas dan pasti mempunyai hati nurani," paparnya.

"Dia batinnya tersiksa, karena dia harus melakukan pelanggaran hukum untuk menangkap saudara-saudara KAMI," sambung Gatot.

Hal itu lantaran penyidik dari Polda Metro Jaya yang kembali mengantarkan surat panggilan kedua kasus kerumunan kepada HRS pada Rabu (2/12/2020) siang.

Awalnya, para penyidik Polda Metro Jaya sempat meninggalkan kediaman Rizieq, tetapi kembali datang mengunjungi rumah imam besar FPI itu.

Kedatangan penyidik ke lokasi dikarenakan surat panggilan ternyata diduga belum bisa disampaikan dan diterima oleh pihak perwakilan keluarga Rizieq sebelumnya.

Pihak penyidik datang kembali sekira pukul 13.20 WIB ke kediaman HRS. Namun, lagi-lagi aparat mendapat halangan dari pasukan laskar FPI yang berjaga di lokasi.

Para punggawa Laskar meminta aparat menunggu dahulu, sembari dirinya melakukan koordinasi dengan keluarga dan pengacara Rizieq.

"Kalau bapak berpihak kepada orang yang salah, hati bapak akan salah Dekat ulama hati bapak Insyaallah bersih. Jangan dikit-dikit panggil, jangan pilih kasih," kata salah satu perwakilan massa menceramahi penyidik Polda Metro Jaya, Rabu (2/12/2020).

Tak berselang lama salah satu penyidik diberkenankan masuk ke dalam kediaman Rizieq. Akan tetapi, sekitar lima menit kemudian penyidik itu keluar dan meninggalkan lokasi secara bersama-sama.

Ketika mengonfirmasi kepada penyidik, laskar mengamuk dan meneriakkan makian kepada polisi.***

wwwwww