Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Peras Walikota Tanjungbalai, Penyidik KPK Ditangkap Propam Polri
Peristiwa
12 jam yang lalu
Peras Walikota Tanjungbalai, Penyidik KPK Ditangkap Propam Polri
2
Fadel Muhammad Bahas Penyediaan Vaksin Sputnik dengan Dubes Rusia
Kesehatan
13 jam yang lalu
Fadel Muhammad Bahas Penyediaan Vaksin Sputnik dengan Dubes Rusia
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Konsep Komarudin Simanjuntak Tak Jauh Beda Sahala Rajagukguk

Konsep Komarudin Simanjuntak Tak Jauh Beda Sahala Rajagukguk
Perempatfinalis Olimpiade Barcelona 1992, Albert Papilaya. (Ist)
Kamis, 26 November 2020 20:37 WIB
Penulis: Azhari Nasution

KONSEP yang ditawarkan Komarudin Simanjuntak tentang tata kelola organisasi dan pembenahan sistem pembinaan tinju secara berjenjang dan berkesinambungan yang ditawarkannya jika terpilih menjadi Ketua Umum PP Pertina periode 2020-2024 memang patut mendapat perhatian. Pasalnya, konsep ini kembali mengingatkan kita pada konsep yang dijalankan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Letjen TNI (Purn) Adolf Sahala Rajagukguk saat menjabat sebagai Ketua Umum PB Pertina periode 1988-1993.

Saat itu, Sahala Rajagukguk menata organisasi tinju Indonesia dengan menempatkan Hamidy Haroen sebagai Sekjen PB Pertina. Hamidy yang berduet dengan Ketua Harian PB Pertina, Kol CPM Imron ZS mampu menjadikan organisasi tinju Indonesia lebih dikenal dan mendapat perlakuan istimewa dari Presiden Asosiasi Tinju Amatir Internasional (AIBA), Anwar Chowdry.

Bukan hanya selalu hadir pada setiap pelaksanaan Turnamen Tinju Internasional Piala Presiden AIBA, Anwar Chowdry mendukung program peningkatkan kualitas pelatih maupun wasit tinju Indonesia melalui AIBA.

Di era kepemimpinan Sahala Rajagukguk dunia tinju Indonesia cukup bersinar. Lewat sentuhan pelatih kepala Tim Tinju Indonesia, Zulkaryono Arifin yang dibantu pelatih asal Jerman, Helmuth Kruger, Indonesia melalui program pembinaan berjenjang dan berkesinambungan lahir petinju berkualitas seperti Albert Papilaya yang menembus perempatfinalis Olimpiade Barcelona 1992 dan Pino Bahari yang sukses meraih medali emas Asian Games Beijing, China 1990.

Pembinaan olahraga tinju Indonesia saat itu benar-benar berjalan sesuai harapan. Petinju pelatnas yang dijaring melalui Tim Talents Couting dari berbagai kejuaraan itu difasilitasi untuk menjalani Trainning Camp (TC) di Jerman dan Korea Selatan. Bahkan, mereka diterjunkan ke berbagai pertandingan uji coba internasional (try out) pada berbagai event tingkat Asia maupun internasional yang menjadi kalender tetap AIBA. Hal itu diakui Ucok Sitompul yang menjadi asisten Zulkaryono Arifin.

Kejayaan itu diteruskan Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat (Aslog KASAD), Mayjen TNI Paul Toding yang menjabat Ketua Umum PB Pertina periode 1993-1997. Di bawah pelatih asal Kuba, Antonio Troutman dan Julio Lee, La Paena Masara mampu menembus perempatfinalis Olimpiade Atlanta 1996. Sedangkan Nemo Bahari terhenti di babak pertama.

Kesuksesan Indonesia meloloskan petinju ke Olimpiade juga dicatat Pangdam Mulawarman, Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma yang memimpin PB Pertina periode 1998-2002. Dengan meneruskan kontrak Antonio Troutman dan Julio Lee, La Paena Masara kembali lolos bersama Hermensen Ballo pada Olimpiade Sydney 2000.

Begitu juga saat posisi Sang Nyoman Suwisma digantikan Komandan Pasukan Pengaman Presiden (Danpaspampres) Letjen Mar (Purn) Nono Sampono Ketua Umum PP Pertina periode 2003-2007. Di Olimpiade Athena 2004, Bonix Saweho yang ditangani pelatih asal Kuba, J Penate Torres menjadi satu-satunya petinju Indonesia yang mendapatkan tiket untuk memperkuat Kontingen Indonesia.

Perlu dicatat saat mantan Komandan Korps Marinir ini menjabat terjadi perubahan nama Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Nasional (PB Pertina) menjadi Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PP Pertina).

Sayangnya, kejayaan itu mulai padam tatkala pengusaha Setya Novanto yang menjabat Ketua Umum PP Pertina periode 2008-2011 menggantikan posisi Nono Sampono. Tak ada lagi petinju Indonesia yang menembus Olimpiade Beijing, China 2008.

Daftar tidak tampilnya petinju Indonesia pada Olimpiade semakin panjang tatkala Reza Ali menjabat Ketua Umum PB Pertina periode 2012-2016 menggantikan posisi Setya Novanto yang saat itu menjabat Ketua DPR-Ri. Pada Olimpiade London 2012 pun tak ada petinju Indonesia.

Begitu juga saat Irjen Pol Jhony Asadoma menjabat sebagai Ketua Umum PP Pertina pada periode 2016-2020. Pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, petinju Indonesia juga tak masuk dalam daftar Kontingen Indonesia.

Tampaknya ini akan terulang kembali pada Olimpiade Tokyo 2021. Pasalnya, belum ada satupun tiket diraih petinju Indonesia pada Olimpiade Tokyo yang semula dijadwalkan 2020 hingga ditunda menjadi tahun 2021. Tiket terakhir yang tersedia hanya pada Kejuaraan Tinju Dunia Mei 2021. Praktis, peluang Aldom Sugoro dan kawan-kawan untuk bisa meraih gealr juara sebagai persyaratan untuk meraih tiket cukup berat. Apalagi, mereka akan menghadapi petinju dari Benua Asia, Amerika, Eropa, Australia, dan Afrika.

Ya, Komarudin Simanjuntak yang punya komitmen dalam membangun tinju memang harus mengikuti jejak pendahulunya jika memang mendapat kepercayaan memimpin PP Pertina. Apalagi, cabang olahraga tinju yang punya sejarah cukup bagus menjadi cabang olahraga prioritas seperti halnya bulutangkis, angkat besi dan panahan.

Penulis: Azhari Nasution, Wartawan Senior.

wwwwww