Home  /  Berita  /  GoNews Group

Besok, Pemerintah akan Sampaikan Bahasan Libur Panjang 2020

Besok, Pemerintah akan Sampaikan Bahasan Libur Panjang 2020
Mainan anak yang dijajakan di pinggir jalan, di bilangan Serpong, Tangerang Selatan. Penjual berharap animo libur akhir tahun meningkatkan penjualan barang dagangannya. (foto: zul/gonews.co)
Senin, 23 November 2020 17:53 WIB
JAKARTA - Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyatakan, bahasan mengenai libur panjang Desember 2020 akan disampaikan dalam konferensi pers esok, Selasa (24/11/2020).

Alih-alih menjawab pertanyaan wartawan pada Senin (23/11/2020), Wiku meminta agar wartawan mengutip pernyataan resmi yang akan disampaikan esok.

"Mohon dikutip dari live streaming Sekretariat Presiden," kata Wiku, Senin sore.

Hingga Senin sore, kata Wiku, "materi preskon (konferensi pers) esok hari masih kami diskusikan detailnya,".

Seperti diketahui, Presiden RI Joko Widodo menyatakan, pemerintah akan mengkaji bagaimana pelaksanaan libur panjang agar tak berdampak serius pada peningkatan kasus kasus Covid-19.

"Secara khusus akan kita bicarakan mengenai libur panjang yang nanti akan ada di bulan Desember," ujar Jokowi saat memimpin rapat terbatas seperti disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (23/11/2020).

Masa liburan sebagaimana diketahui, memiliki dampak tersendiri bagi perputaran ekonomi di daerah yang menjadi tujuan masyarakat untuk berlibur. Ekonomi kreatif, UKM (usaha kecil mikro) lokal, bisnis akomodasi dan penginapan, relatif terstimulasi oleh animo libur panjang dan bermuara pada peningkatan konsumsi rumah tangga.

Tapi situasi pandemi Covid-19 juga menuntut pemerintah untuk untuk cermat dalam membuat kebijakan mengenai libur panjang. Penanggulangan pandemi bukan hanya soa ekonomi, tapi juga soal kesehatan warga negara.

Mengutip kembali pernyataan menteri keuangan Sri Mulyani dalam sebuah seminar, Minggu (1/11/2020) lalu, jika pelaksanaan libur panjang berakibat pada meningkatnya kasus positif Covid-19 tentu akan mempengaruhi perekonomian dan kondisi sosial di Tanah Air. Akibatnya, pemerintah harus kembali melakukan rem darurat.

"Jika naik lagi, maka pemerintah harus melakukan pengereman lagi, dan itu berarti akan berdampak negatif pada ekonomi," kata Sri Mulyani.

Diketahui, sebagaimana disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito pada Senin (9/11/2020) di Jakarta, "biasanya (memang, red) kenaikan kasus terjadi pada 10-14 hari setelah libur panjang,".

Terkait dengan kemungkinan dipangkasnya masa libur panjang Desember 2020, Ekonom Indef Bhima Yudistira berpendapat, pemangkasan tersebut masih kecil pengaruhnya pada ekonomi.

"Karena masyarakat kelas menengah ke atas masih membatasi diri untuk berlibur. Kekhawatiran Covid-19 masih cukup tinggi," kata Bhima di Jakarta, Senin (23/11/2020).

Belum didapat pernyataan dari para wakil rakyat di DPR RI yang mewakili daerah-daerah yang kerap menjadi tujuan berlibur warga seperti, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Bali, dan wilayah Trans Sumatera. Daerah-daerah ini adalah daerah yang tercatat mengalami peningkatan potensi kunjungan berlibur pada libur panjang Oktober 2020 berdasarkan data agen perjalanan daring, Traveloka.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Umum, Ekonomi, Nasional, GoNews Group
wwwwww