Home  /  Berita  /  Politik

Wakil Ketua MPR: Santri harus Berani Tampil ke Depan

Wakil Ketua MPR: Santri harus Berani Tampil ke Depan
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid saat Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada para santri Pesantren Qamarul Huda Bagu, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (3/11/2020). (Foto: Humas MPR)
Selasa, 03 November 2020 20:19 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid meminta para santri untuk berani tampil ke pentas nasional dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Para santri adalah calon pemimpin di masa depan.

"Para santri dahulu telah berbuat banyak untuk memerdekakan Indonesia. Kini saatnya para santri mengisi kemerdekaan dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Jazilul Fawaid dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada para santri Pesantren Qamarul Huda Bagu, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa (3/11/2020).

Hadir dalam sosialisasi kerjasama MPR dengan Lembaga Pemuda Nusantara, Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi Badruddin.

Gus Jazil, sapaan Jazilul Fawaid, mengatakan kehadiran di Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu, mengingatkan kala menjadi santri. "Dulu ketika saya masih menjadi santri tidak ada bayangan menjadi Wakil Ketua MPR. Sekarang saya bangga berada di sini, di depan para calon pemimpin bangsa," ucapnya.

Menurut Gus Jazil, dalam suasana mengisi kemerdekaan ini mencari ilmu mudah sekali, misalnya dengan browsing di internet atau tinggal mengetik di Google. "Kalau membaca kitab kuning, akidah, para santri sudah mahir. Tapi ilmu pengetahuan dan teknologi harus juga dikuasai anak-anak pesantren. Dulu ada BJ Habibie dari keluarga santri bisa membuat pesawat terbang," tuturnya.

Gus Jazil mempertanyakan generasi milenial sekarang yang belum bisa menyamai prestasi B.J. Habibie. "Makanya untuk mengisi kemerdekaan ini para santri harus tampil ke depan. Tidak perlu minder. Biasanya anak-anak pesantren sering minder dan tidak percaya diri," katanya.

"Para santri tidak perlu minder karena negara ini ada berkat perjuangan para santri dan kiai. Jadi santri memiliki saham dalam negara ini," imbuhnya.

Gus Jazil berpesan kepada para santri untuk mencari ilmu dan tidak menunda-nunda dan jangan mempunyai angan yang panjang. "Salah satu bukunya K.H. Hasyim Asyhari, Etika Guru dan Murid, mengingatkan hendaklah kepada anak-anakku menggunakan umurnya untuk memperoleh ilmu. Jangan terpedaya dengan kebiasaan menunda-nunda dan angan-angan panjang. Waktu yang sudah dilewati tidak akan kembali lagi," pesannya.

Menurut Gus Jazil, biasanya anak muda sering menunda-nunda. "Anak muda agar menyegerakan diri dan jangan terpedaya kebiasaan untuk menunda-nunda. Yang bisa dilaksanakan, jangan ditunda-tunda karena waktu yang sudah lewat tidak akan kembali lagi. Anak muda juga angan-angannya panjang. Inginnya itu, maunya ini. Tapi tidak mengerjakan apa-apa," katanya.

Gus Jazil berharap para santri Qamarul Huda memiliki semangat untuk mencari ilmu yang tinggi, rajin membaca, tidak menunda-nunda dan jangan berangan-angan panjang.

Terkait sosialisasi Empat Pilar, Gus Jazil mengungkapkan Empat Pilar merupakan komitmen kebangsaan agar Indonesia ini lestari. Untuk utuh dan lestari harus ditopang dengan Empat Pilar (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). "Di pesantren sudah diajarkan hubbul wathon minal iman, cinta kepada negara dan tanah air adalah bagian dari iman. Agama dan negara tidak dipertentangkan," jelasnya.

Hubbul wathon minal iman, lanjut Gus Jazil, adalah perjuangan murni pemikiran Nahdlatul Ulama. Ini menjadi pondasi bahwa negara ditopang oleh agama, dan agama ditopang oleh negara. "Indonesia negara hebat. Agama bermacam-macam, beragam suku, tapi rakyatnya tentram dan tidak bertengkar apalagi menggunakan kekerasan. Ini merupakan salah satu kontribusi para alim ulama dan para kiai, khususnya umat Islam," katanya.***

wwwwww