Home  /  Berita  /  Ekonomi

Minim Penumpang, Bus AKAP dan AKDP Tetap Beroperasional

Minim Penumpang, Bus AKAP dan AKDP Tetap Beroperasional
Salah satu bus AKAP sepi penumpang mangkal di Terminal Simpang Aur, Bukittinggi. (doc, ist)
Rabu, 28 Oktober 2020 13:35 WIB
Penulis: Jontra
SUMBAR - Sejak pandemi corona menyebar, frekuensi perjalanan ke luar kota sangat berkurang, begitu juga penumpang bus antar-kota antar-provinsi (AKAP) ataupun antar kota dalam provinsi (AKDP). Kendati begitu, sejumlah sopir bus ini tetap nekat beroperasi meskipun tak mendapat keuntungan dan malah mengeluarkan lebih banyak uang alias nombok biaya operasional.

Pantauan gosumbar, aktivitas kedatangan dan keberangkatan penumpang di Terminal Simpang Aur Bukittinggi terlihat lengang. Hanya ada satu bus dari luar kota seperti Jambi yang menurunkan tiga penumpang. Selebihnya, bus hanya ngetem, menunggu penumpang naik.

Sopir Bus Jambi Transpor (Jatra) Jurusan Bukittinggi - Jambi Abdul mengaku tetap menarik penumpang meskipun menanggung beban berat operasional yang tidak sedikit. Beberapa hari terkahir, dia mengaku hanya mendapatkan Rp90.000. Padahal, untuk operasional, seperti beli solar, membutuhkan biaya Rp250.000.

"Ya nombok enggak masalah, pemilik angkutan saya juga tidak menarget harus sekian. Yang penting narik, saya juga enggak ada pekerjaan lainnya," katanya di Terminal Simpang Aur, Rabu 28 Oktober 2020.

Abdul mengatakan, selama masa pandemi Covid-19 ia tetap mematuhi protokol kesehatan. Semua penumpang yang naik wajib menggunakan masker. Hanya saja, fasilitas hand sanitizer belum bisa dipenuhi karena berbagai keterbatasan, ungkapnya.

"Kami minta mereka para penumpang untuk cuci tangan dulu sebelum naik kendaraan. Wajib pakai masker. Kalau duduk jaga jarak, tapi karena memang sedikit yang naik, ya duduknya otomatis terpisah juga, " katanya.

Dia berharap agar situasi dan kondisi pandemi Corona segera berakhir agar moda transportasi berjalan normal.

Hal serupa juga dikatakan oleh salah seorang sopir bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) trayek Padang - Bukittinggi, Edi. Menurut Edi, saban hari dia tetap melajukan mobil dari Padang - Bukittinggi tapi nggak pernah yang full penumpangnya. Meski terisi hanya dua atau tiga orang kami tetap jalan, dan kondisi ini sudah berlangsung bulanan.

Kami tetap harus beroperasional, bagaimanapun situasinya, kalau nggak jalan, tentu kami tidak punya pendapatan sama sekali untuk menafkahi keluarga kami di rumah, karena kehidupan terus berjalan dan membutuhkan biaya harian, tuturnya(**)

wwwwww