Home  /  Berita  /  Internasional

Macron Dukung Pertunjukkan Kartun Nabi Muhammad, Umat Islam Timur Tengah Boikot Produk Prancis

Macron Dukung Pertunjukkan Kartun Nabi Muhammad, Umat Islam Timur Tengah Boikot Produk Prancis
Swalayan di Kuwait telah menurunkan produk-produk Prancis dari rak pada Ahad (25/10/2020). (reuters/detikcom)
Senin, 26 Oktober 2020 13:22 WIB

JAKARTA - Umat Islam (Muslim) di sejumlah negara di Timur Tengah (Timteng) melakukan aksi boikot terhadap barang-barang Prancis.

Pemboikotan tersebut merupakan bentuk kemarahan dan protes umat Islam terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendukung mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad.

Dikutip dari detik.com, produk Prancis telah ditarik dari beberapa toko di Kuwait, Yordania, dan Qatar. Sementara itu, aksi protes terjadi di Libya, Suriah, dan Jalur Gaza.

Sebelumnya, seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Paty, tewas dipenggal setelah mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswa dalam kelas.

Macron berkomentar, ''guru itu, Samuel Paty, dibunuh karena para Islamis menginginkan masa depan kami'', tetapi Prancis ''tidak akan menyerahkan kartun kami''.

Padahal, penggambaran Nabi Muhammad sangat menyinggung bagi umat Islam karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad dan Allah.

Pada Ahad, Macron menegaskan kembali pembelaannya terhadap nilai-nilai Prancis dalam sebuah twit yang berbunyi: ''Kami tidak akan menyerah, selamanya.''

Murka ke Prancis

Para pemimpin politik di Turki dan Pakistan telah murka kepada Macron, menuduhnya tidak menghormati ''kebebasan berkeyakinan'' dan memarjinalkan jutaan Muslim di Prancis.

Pada hari Ahad, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan untuk kedua kalinya, bahwa Macron harus melakukan ''pemeriksaan mental'' pada pandangannya tentang Islam.

Komentar serupa mendorong Prancis memanggil duta besarnya untuk Turki untuk konsultasi pada hari Sabtu.

Produk-produk Prancis, di antaranya berupa produk kecantikan dan perawatan rambut pada beberapa rak supermarket di Yordania, Qatar, dan Kuwait, pada Ahad tidak lagi dipajang.

Di Kuwait, serikat pengecer besar telah memerintahkan pemboikotan barang-barang Prancis.

Serikat Masyarakat Koperasi Konsumen, yang merupakan serikat non-pemerintah, mengatakan telah mengeluarkan arahan sebagai tanggapan atas ''penghinaan berulang'' terhadap Nabi Muhammad.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Prancis mengakui adanya boikot terhadap produk-produk Prancis tersebut.

Ia menulis, "Seruan untuk boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, beserta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh kelompok minoritas radikal.''

Seruan boikot terhadap produk Prancis telah tersebar lewat dunia maya di negara-negara Arab. Imbauan seruan boikot produk-produk Prancis juga juga beredar di Arab Saudi.

Tagar yang menyerukan boikot jaringan supermarket Prancis, Carrefour, adalah topik paling tren kedua di Arab Saudi, ekonomi terbesar di dunia Arab.

Sementara itu, unjuk rasa anti-Prancis berskala kecil digelar di Libya, Gaza, dan Suriah utara, tempat yang dikuasai milisi yang didukung Turki.

Mengapa Prancis terlibat dalam perselisihan ini?

Pembelaan keras Macron terhadap sekularisme Prancis dan kritik terhadap Islam radikal menyusul pembunuhan Paty telah membuat marah beberapa sosok di dunia Muslim.

Presiden Erdogan bertanya dalam pidatonya: ''Apa masalah individu bernama Macron dengan Islam dan Muslim?''

Sementara pemimpin Pakistan, Imran Khan menuduh sang pemimpin Prancis ''menyerang Islam, jelas tanpa memahami apapun tentangnya''.

''Presiden Macron telah menyerang dan melukai sentimen jutaan Muslim di Eropa dan di seluruh dunia,'' katanya dalam sebuah twit.

Awal bulan ini, sebelum pembunuhan sang guru, Macron mengumumkan rencana undang-undang yang lebih ketat untuk mengatasi hal yang ia sebut ''separatisme Islam'' di Prancis.

Ia mengatakan, kelompok minoritas Muslim di Prancis - terdiri dari kira-kira enam juta orang - berpotensi membentuk ''masyarakat tandingan''. Ia menggambarkan Islam sebagai agama ''dalam krisis''.

Kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad memiliki warisan politik yang gelap dan intens di Prancis.

Pada 2015, sebanyak 12 orang tewas dalam serangan di kantor majalah satir Prancis, Charlie Hebdo, yang menerbitkan kartun tersebut.

Beberapa komunitas Muslim terbesar di Eropa Barat menuduh Macron berusaha menekan agama mereka dan mengatakan kampanyenya berisiko melegitimasi Islamofobia.***

Editor:hasan b
Sumber:detik.com
Kategori:Ekonomi, Internasional
wwwwww