Home  /  Berita  /  Peristiwa

Sepasang Pelajar SMP Dinikahkan karena Telat Pulang Berwisata

Sepasang Pelajar SMP Dinikahkan karena Telat Pulang Berwisata
Sepasang pelajar SMP di Lombok Tengah terpaksa menikah karena telat pulang berwisata. ((suara.com)
Kamis, 17 September 2020 12:34 WIB

LOMBOK TENGAH - Sepasang pelajar SMP di Desa Pangajek, Kecamatan Tonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dinikahkan karena terlambat pulang setelah jalan-jalan ke tempat wisata.

Dikutip dari Suara.com, Kepala Dusun Montong Praje, Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Ehsan, membenarkan adanya pernikahan dini tersebut. Dituturkannya, kedua remaja tersebut menikah lantaran diminta orang tua mempelai perempuan.

''Tapi orang tua (mempelai wanita) memaksa kedua mempelai untuk menikah,'' ujar Ehsan.

Pernikahan pasangan bocah itu bermula saat keduanya pergi berwisata pada Rabu (9/9). Menurut pengakuan sang mempelai pria, saat itu dirinya mengantar pulang kekasihnya pada pukul 19.30 WITA. Namun dianggap kemalaman oleh orang tua kekasihnya.

''Jalan-jalan ke (wisata) Abangan. Saya antar pulang ke rumah bapaknya. Terus dipaksa nikah,'' ucapnya.

Orang tua sang gadis meminta remaja SMP itu untuk menikahi putrinya lantaran memegang teguh peraturan adat Sasak.

''Karena adat sih katanya. Kalau bawa gadis sampai malam harus dinikahi. Kita sempat larang untuk menikah dan mau pisahkan. Tapi, orang tua (mempelai perempuan) tetap ngotot mau menikahkan mereka,” sambung Kepala Dusun.

Kaget dengan permintaan itu, pihak keluarga laki-laki sempat mendatangi orang tua mempelai perempuan untuk membatalkan pernikahan.

Namun, permintaan tersebut ditolak hingga kemudian digelarlah pernikahan pada Sabtu (12/9).

Sempat Syok

Rahimin, orang tua pengantin laki-laki, mengatakan sempat syok mendengar permintaan dari orang tua pacar anaknya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa dan menyetujui pernikahan tersebut.

''Saya hanya bisa diam. Kaget awalnya. Masa anak saya nikah. Kan masih kecil. Kita sudah minta untuk dipisah. Tapi katanya kalau tidak nikah sekarang. Anaknya (mempelai perempuan) bakal dicap buruk di kampung halamannya,'' ucap Rahimin.

Akhirnya, kedua bocah SMP menikah dengan mahar Rp2 juta. Keluarga laki-laki juga memberikan uang pisuka (salah satu adat Sasak) sebesar Rp4 juta kepada pihak keluarga perempuan.

''Saya hanya kasih segitu. Cuma Rp6 juta. Untuk mas kawin dan pisuka,'' kata Rahimin.

Setelah resmi menikah, kedua remaja tersebut kini dikabarkan berhenti sekolah.***

Editor:hasan b
Sumber:suara.com
Kategori:Peristiwa
wwwwww