Home  /  Berita  /  Nasional

Fahri: 10 Tahun Dipimpin SBY Kita Menikmati Ketenangan dan Pertumbuhan

Fahri: 10 Tahun Dipimpin SBY Kita Menikmati Ketenangan dan Pertumbuhan
Fahri Hamzah. (tirto.id)
Kamis, 10 September 2020 08:53 WIB

JAKARTA - Mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menuturkan, zaman Orde Baru, anak keturunan Bung Karno dalam masalah. Lalu musim berganti, anak keturunan Bung Karno berkuasa, giliran anak keturunan Soeharto dalam masalah.

''Bikin partai pun dirampas orang. Kedewasaan kita anak cucu Adam diuji dalam setiap perjalanan,'' kata pendiri Partai Gelora itu, seperti dikutip dari Suara.com.

Menurut Fahri, kesalahan kabinet Joko Widodo sejak awal adalah terseret pada dendam yang tidak jelas.

Menurut dia selama  periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak pernah terdengar situasi semacam itu.

''Pak SBY tentara, menantu Jenderal Sarwo yang terkenal memimpin penumpasan PKI. Tapi, tidak kita dengar beliau terusik atau terganggu lalu memakai negara untuk mencipta dikotomi di akar rumput massa. 10 tahun kita menikmati ketenangan dan pertumbuhan,'' kata Fahri.

Menurut Fahri semuanya kembali kepada pemimpin, bisakah pemimpin menciptakan perdamaian dan persahabatan. Atau sebaliknya, apakah pemimpin justru akan menciptakan musim perang.

''Kalau perang dengan negara lain mendingan. Ini perang dengan saudara sendiri. Dalam krisis pula. Mau dapat apa kita?'' kata Fahri.

Kemudian Fahri menyinggung pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi yang soal anak good loking untuk menggambarkan strategi untuk menyusupkan ajaran radikalisme ke masjid-masjid, juga soal rencana program penceramah bersertifikat.

''Kemarin, saya mencari tahu mengapa saya kecewa sekali dengan komentar Menteri Agama tentang good looking dan rencana kementrian meneruskan kebijakan sertifikasi muballig seperti yang dulu dilakukan rezim Orde Baru. Saya masih cari tau,'' kata Fahri.

Setelah mencari-cari tahu, Fahri mengatakan menemukan alasan yang kata Fahri agak rumit.

''Ternyata karena saya sangat berharap bahwa kementrian agama adalah salah satu juru bicara penting dalam krisis pandemi global ini. Sebagian orang percaya betul bahwa virus ini kiriman Tuhan maka agama adalah medium komunikasinya,'' kata dia.

''Jadi kadang juga, saya terus memeriksa kembali mengapa kita harus berhadapan dengan pemerintah yang keadaan krisis ini seharusnya menjadi tempat bagi suara damai dan tenang agar kita melalui krisis ini bersama-sama.''

Menurut Fahri, sekarang ini waktunya bagi semua pihak untuk saling membesarkan hati dan saling menguatkan. Sebab tidak pernah seluruh umat manusia, bahkan menghadapi ancaman krisis yang sama. Pandemi global, menurut dia, dalam waktu panjang akan mengoyak pondasi dasar kehidupan manusia dan menyikapinya perlu kebersamaan.

Fahri mempertanyakan apakah semua pihak bisa menggunakan momen ini untuk saling mendekati dan tidak saling menjauh.

''Apa sulitnya? Mengapa pemerintah menjadi polisi pikiran? Mengapa negara melakukan standarisasi pikiran? Sejak kapan kita kembali percaya bahwa negara harus melarang perbedaan pikiran?'' katanya.

''Nasi belum menjadi bubur Pak Jokowi. Meski ketololan berbicara para elit bikin rusuh rakyat yang sedang menyelamatkan diri dari serangan pandemi, para elite tetap harus mengatur agar kita bisa melihat agenda bersama sebagai bangsa, agenda yang mempersatukan,'' katanya.

Tapi, kata Fahri, nasib pemerintah bukan nasib rakyat. Pemerintah silih berganti, rakyat akan tetap ada. Jadi kalau pemerintah tidak relevan, kata Fahri, maka rakyat akan selalu relevan. ''Silahkan mau pilih yang mana. Wassalam,'' kata Fahri dalam akun Twitternya.*** 

Editor:hasan b
Sumber:suara.com
Kategori:Nasional, Politik
wwwwww