Home  /  Berita  /  GoNews Group

Kata Abhiram soal Ketegangan China-India

Kata Abhiram soal Ketegangan China-India
Pengamat Politik Hubungan Internasional/mantan Vice President Pemuda ASEAN, Abhiram Singh Yadaf. (Foto: Ist.)
Minggu, 06 September 2020 20:49 WIB

JAKARTA - Pengamat Politik Hubungan Internasional, Abhiram Singh Yadaf menilai, konflik perbatasan India-China tidak terlepas dari dinamika geopolitik dan geostrategi International yang lebih luas.

"China dengan konsep Belt and Road Initiative (BRI) dan India dengan konsep inklusif Indo-Pacific bersama-sama dengan Amerika Serikat, Jepang, Austrlia dan ASEAN. Bahkan sekarang negara-negara Uni-Eropa juga mulai melirik Indo-Pasifik sebagai konsep yang strategis," kata Abhiram dalam siaran pers, Minggu (6/9/2020).

Baca Juga: PR bagi Aparat Keamanan dan Penyelenggara Pemilu menurut mantan 'Vice President' Pemuda Asean

Di konsep Indo-Pasifik ini, kata Abhiram, China seolah-olah menjadi antagonis. Meskipun, Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden China Xi Jingping juga menunjukkan kemesraan justru pada saat tensi perbatasan dimulai pada bulan Mei lalu.

India, jelas Abhiram, menjadi harapan dunia politik global untuk menjadi penyimbang (balancing power) antara persetujuan yang sesungguhnya, yakni perseteruan antara China dengan Amerika Serikat.

"Konsep Indo-Pasifik yang inklusif saat ini sedang diuji ombak. Kita menanti tidak hanya bagaimana tensi eskelasi ini bisa diturunkan, melainkan bagaimana tensi ini bisa di-defuse secara total," ujar Abhiram.

Sejauh ini, sepanjang 4 bulan ketegangan perbatasan berlangsung, memang belum nampak akan adanya perang pada skala besar (full scale war). Sehingga, kata Abhiram, muncul pertanyaan, "Apakah sifat agresif China di perbatasan India-China hanya sebagai sebuah latihan perang untuk menghadapi kemungkinan tensi sesungguhnya di Laut China Selatan?".

Sementara itu, lanjut Abhiram, Indonesia bersikap netral dalam isu China-India. Indonesia bahkan aktif meredakan ketegangan China-India sebagai wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif yang selama ini dianut.

Meskipun, "Indonesia tegas terhadap pelanggaran Norma-Norma International di Laut China Selatan,".***


Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Politik, Internasional, GoNews Group

wwwwww