Home  /  Berita  /  Feature

Kisah Karima Menjadi Muslimah, Bermula dari Tugas Kelompok Meneliti Perayaan Idul Adha

Kisah Karima Menjadi Muslimah, Bermula dari Tugas Kelompok Meneliti Perayaan Idul Adha
Ilustrasi Muslimah berdoa. (int)
Senin, 17 Agustus 2020 07:00 WIB

LAHIR dan dibesarkan di Amerika Serikat, di tengah keluarga yang tidak peduli agama, membuat Karima awalnya juga menganggap agama tidak begitu penting.

''Keluarga saya tidak pernah religius. Ibu saya selalu merendahkan agama yang terorganisir, sedangkan ayah saya adalah seorang ateis penuh,'' ujar dia seperti dikutip dari Republika.co.id yang melansir About Islam, Ahad (9/8) lalu.

Dituturkan Karima, saat berusia 16 tahun, ketika duduk di bangku sekolah menengah, dirinya mulai mengenal Islam. Bermula ketika mendapat tugas kelompok di kelas sejarah, yakni meneliti perayaan Idul Adha yang dilakukan umat Islam.

Setelah mengetahui asal-usul perayaan Idul Adha, Karima langsung terkejut, sehingga menguatkan keinginannya untuk mengetahui Islam lebih dalam.

Ads

''Itu terus melekat pada diri saya,'' ucap wanita yang kini berusia 23 tahun itu. Sebagai pengumpul informasi utama untuk festival itu, Karima tak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar agama yang asing baginya. Hingga ia tiba di satu titik dan jatuh cinta pada Islam. ‘'Saya hanya mendengar hal-hal mengerikan tentang Islam, tapi belum pernah bertemu Muslim sebelumnya, jadi itu mengejutkan saya,'' tuturnya.

Pada saat yang sama, ia mengaku ingin langsung menjadi mualaf, namun ada kendala besar yang ia rasa menghalanginya. Tak sampai di situ, untuk memastikannya, Karima lalu membandingkan kebaikan dan makna dari setiap agama lain, meski itu hanya keinginan pribadinya.

Sadar tak ada yang mendekati, ia semakin mantap belajar Islam lebih lanjut. Terlebih ketika sebagian besar agama ia sebut merupakan ciptaan manusia.

''Sampai suatu waktu, saya berjalan pulang dari sekolah, mengeluarkan transliterasi syahadat dan tulisan tangan saya. Saya mengatakannya (syahadat) di depan Gereja Mormon,'' ucap dia.

Meski merasa gugup saat melafalkan kalimat itu, Karima mengakui ada rasa senang yang tersembunyi. Dia mengatakan, rasa tersebut dimungkinkan bagian dari cobaan Allah SWT.

''Saya mulai belajar shalat dan langsung jatuh cinta dengan hijab,'' ujar perempuan yang kini mantap berhijab itu.

Penolakan Keluarga

Setelah menjadi Muslimah karena keinginannya sendiri, cobaan, kata dia masih berdatangan. Salah satunya adalah penolakan dari orang tua.

Karima mengenang, saat orang tuanya agnostik, ibunya memang mendukung Karima untuk memilih jalannya sendiri. Namun demikian, ketika sang ibu mengetahui Karima menjadi Muslim, ia merobek Alquran miliknya.

Bahkan, sang ayah yang lebih tak percaya anaknya menjadi Muslim, menyebutnya dengan berbagai umpatan dan hal buruk.

''Saya tidak bisa ibadah di depan mereka untuk waktu yang lama, tapi saya tidak pernah melepaskan keyakinan saya pada Islam,'' ungkap dia.

Waktu berselang, sang ibu ia sebut semakin lembut seiring berjalannya waktu, meski masih belum setuju pada keputusannya. Hal itu berbeda dengan ayahnya, yang masih menentang kepercayaan Islam.

''Tapi jujur, jika Allah menghendaki, dia bisa menjadi Muslim yang lebih kuat dari saya suatu hari nanti!'' kata dia.

Karima melanjutkan, selama mempelajari Islam, ia akui pribadinya semakin utuh. Pasalnya, ia menganggap bahwa Islam adalah yang paling cocok dengan fitrah manusia.

''Bagi saya, Quran tidak berubah karena dihafal oleh begitu banyak orang, itu salah satu keajaiban Tuhan. Shalat sendiri adalah momen pemersatu bagi banyak Muslim,'' ungkap dia.

Karima menambahkan, ada banyak cerita serupa yang di luaran. Oleh sebab itu, ia menyarankan kepada siapapun yang juga mengalami cobaan, untuk tetap sabar dan kembali demi mendapat kedamaian sejati.

''Saya hanya memutus siklus tekanan terhadap masyarakat dan agama buatan manusia, Anda tidak akan kehilangan apa pun jika terhubung dengan Dia yang menciptakan Anda seperti yang Dia kehendaki,'' ujarnya.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Feature
wwwwww