Home  /  Berita  /  Politik

Singgah di Warung Bumdes, Gus Jazil Sebut Kopi Ende Rasanya Khas

Singgah di Warung Bumdes, Gus Jazil Sebut Kopi Ende Rasanya Khas
Kamis, 30 Juli 2020 17:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
ENDE - Saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu (29/7/2020), Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid singgah di salah satu warung yang berada di pinggir jalan. Di warung itu ia bersama rombongan disuguhi jagung, pisang dan ketela bakar serta kopi khas Ende. Warung tersebut dikunjungi sebab ia merupakan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Saat menikmati kopi khas Ende, Jazilul Fawaid mengatakan, 'rasanya khas'. Kopi yang diteguk menurutnya berbeda dengan kopi-kopi di tempat yang lain.

"Saya pikir tidak kalah dengan kopi dari luar," ungkapnya.

Kepada para wartawan, ia mendorong agar Bumdes itu lebih dikembangkan dan harus bisa menjadi contoh Bumdes di daerah-daerah lainnya. Bumdes yang ada menurut politisi PKB itu sudah semestinya dan seharusnya dijadikan sarana untuk memberdayakan masyarakat desa.

Bila ada yang kurang, maka pemerintah wajib membantu. Diungkapkan di Bumdes yang dikunjungi itu tidak ada alat untuk mengemas dan meracik kopi. "Padahal alat yang demikian pemerintah sudah mempersiapkan," tuturnya.

Di desa itu ada potensi kopi namun alat pengeolaannya masih minim. Padahal pasar terbuka sebab Bumdes yang ada berada di jalur lalu lintas ke tempat wisata Danau Kelimutu. "Kalau ke Kelimutu bisa mampir ke sini," ucapnya.

Sebagai wakil rakyat, Gus Jazil berjanji akan membantu apa yang kurang di Bumdes itu. "Pemerintah pusat dan daerah harus berkoordinasi untuk melihat Bumdes-Bumdes yang punya potensi," ujarnya.

Di era pandemi Covid-19 menurutnya, Bumdes secepatnya mengkoordinir potensi desa dan langsung dikerjakan karena hal yang demikian akan membuat pertumbuhan ekonomi di desa menggeliat. Dengan adanya aktivitas ekonomi maka ada produk yang diserap.

"Bila ada demand maka produksi meningkat sehingga menciptakan lapangan pekerjaan," paparnya.

Gus Jazil senang kepala desa di tempat itu lulusan Amerika Serikat dan masih muda. Hal demikian menunjukan banyak anak desa yang memilih pulang kampung dan berkarya di sana.

"Lebih memilih mengelola desa," tuturnya.***

wwwwww