Home  /  Berita  /  Feature

Syaikh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi, Jadi Imam Masjidil Haram Setelah Koreksi Bacaan Shalat Mertuanya

Syaikh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi, Jadi Imam Masjidil Haram Setelah Koreksi Bacaan Shalat Mertuanya
Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi saat masih muda (kanan) dan sudah tua. (gomuslim.co)
Rabu, 22 Juli 2020 11:33 WIB
JAKARTA - Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi merupakan ulama besar asal Minangkabau. Sejumlah muridnya, kemudian juga menjadi ulama besar di Nusantara.

Dikutip dari Republika.co.id, sejak merantau ke Makkah pada usia 11 tahun, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi hanya pernah sekali pulang kampung ke Sumatera Barat. Ia fokus belajar Islam di Tanah Suci. Walhasil, ia menjadi ulama besar dan diangkat menjadi imam Masjidil Haram.

Syaikh Ahmad Khatib lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 26 Mei 1860. Ia berasal dari keluarga dan keturunan yang taat beragama serta berpendidikan. Sebagai anak dari keluarga yang mapan, Ahmad Khatib sempat mengenyam pendidikan formal di sekolah guru/raja (Kweekschool) di Bukittinggi.

Ketika baru berusia 11 tahun (1871), Ahmad Khatib diboyong bapaknya, Abdullatif, untuk naik haji ke Makkah. Seusai melaksanakan ibadah haji, ia tak ikut bapaknya pulang ke kampung. Ia memilih bermukim di Tanah Suci untuk mendalami agama Islam.

Ads

Menurut Buya Hamka dalam buku catatan tentang ayahnya, Syaikh Ahmad Khatib hanya pernah sekali pulang kampung. Setelah berada di Ranah Minang selama beberapa bulan, ia kembali ke Makkah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.

Kendati sudah jadi orang terpandang di Makkah, kata Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), cinta Syaikh Ahmad Khatib pada Minangkabau tak pernah putus. Ia suka sekali jika dikirimi rendang, dan lebih suka lagi kalau dikirimi belut kering.

''Tetapi kalau diajak pulang ke Minang, beliau menggelengkan kepala, nampak mukanya muram!,'' kata Syaikh Abdul Karim Amrullah, yang merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib, sebagaimana dituliskan Buya Hamka dalam Ayahku (1982).

Jadi Imam Masjidil Haram

Selama menetap di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib belajar dengan sungguh-sungguh kepada banyak guru.

Fadhlan Mudhafier dalam Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy: Pemikiran dan Perjuangannya (2013), menulis, Syaikh Ahmad Khatib di Makkah berguru tentang Islam kepada Said Ahmad Zaini Dahlan, Said Bakri Satta, Syaikh Yahya Kabli, dan Syaikh Muhammad Nawawi Banten. Sedangkan untuk ilmu umum, ia belajar kepada Syaikh Abdul Hadi, ilmuwan Inggris yang hafal Alquran. 

Kesungguhannya belajar, tulis Hamka, akhirnya membuat Syaikh Ahmad Khatib menjadi ulama besar yang masyhur dan mendapat kedudukan tinggi dalam masyarakat Makkah. Karena keluasan ilmu, kesalehan, dan baik budinya, Syaikh Akhmad Khatib juga disayangi banyak orang.

Salah satu yang menyayanginya adalah Syaikh Shaleh Kurdi, seorang hartawan keturunan Kurdi. Syaikh Shaleh Kurdi pun menikahkan putrinya, Khadijah, dengan Syaikh Akhmad Khatib pada tahun 1890.

Momen mendebarkan sempat terjadi ketika Syaikh Akhmad Khatib dan Syaikh Shaleh Kurdi berbuka puasa di istana Syarif Husein di Makkah. Ketika Syarif menjadi imam shalat Magrib, terdapat bacaan yang salah, lalu Syaikh Ahmad Khatib seketika menegur. 

Seusai shalat, Syarif langsung bertanya kepada Syaikh Shaleh Kurdi: siapa pemuda yang menegur bacaan shalatnya tadi. Syaikh Shaleh menjelaskan bahwa pemuda itu adalah menantunya. Syarif ternyata tidak marah tapi malah memuji. Ia menyebut Syaikh Shaleh beruntung karena mendapatkan menantu pemuda yang demikian tampan, manis, alim, dan pemberani.

''(Kejadian) inilah yang kelak menjadi pintu dia (Syaikh Ahmad Khatib) diangkat menjadi Imam dari golongan Syafi'i di Masjidil Haram. Kemudian ditambah lagi menjadi khatib, merangkap pula guru besar, ulama yang diberi hak mengajarkan agama di Masjidil Haram,'' tulis Hamka (hlm. 272).

Setelah menjadi imam Masjidil Haram sekitar tahun 1892, Syaikh Ahmad Khatib pun makin terkenal. Tak terkecuali di Nusantara sehingga membuat banyak pemuda Indonesia datang berguru kepadanya. Terlebih, ia memakai metode pengajaran yang berbeda dengan ulama lainnya, yakni bertumpu pada pemahaman dan diskusi sehingga murid-muridnya lebih terlibat aktif.

Ia pun melahirkan murid-murid yang kemudian hari juga menjadi ulama terkemuka. Beberapa di antaranya adalah K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Jamil Jaho, Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syaikh Muhammad Saleh (Mufti Kerajaan Selangor).

Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi menjadi seorang guru hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia tahun 1916 pada usia 56. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Ma'la. Kompleks pemakaman itu tak begitu jauh dari Masjidil Haram, tapi terpaut ribuan kilometer dengan Ranah Minang, kampung halaman yang selalu ia rindukan.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Feature
wwwwww