Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jangan Hapus Pelajaran Sejarah!
Pendidikan
15 jam yang lalu
Jangan Hapus Pelajaran Sejarah!
2
Tiga Hari Setelah Ibunya Dinikahi, 2 Gadis Kakak Beradik Dicabuli Ayah Tiri
Peristiwa
17 jam yang lalu
Tiga Hari Setelah Ibunya Dinikahi, 2 Gadis Kakak Beradik Dicabuli Ayah Tiri
3
DPR minta Cakada jadi 'Influencer' Protokol Kesehatan
Politik
14 jam yang lalu
DPR minta Cakada jadi Influencer Protokol Kesehatan
4
Ajukan Praperadilan, Irjen Napoleon Minta Penyidikan Kasusnya Dihentikan
Nasional
17 jam yang lalu
Ajukan Praperadilan, Irjen Napoleon Minta Penyidikan Kasusnya Dihentikan
5
Bekal 10 Kali WTP, Puan Yakin DPR Mampu Jaga Kepercayaan Rakyat
Ekonomi
14 jam yang lalu
Bekal 10 Kali WTP, Puan Yakin DPR Mampu Jaga Kepercayaan Rakyat
6
Pemerintah dan DPR Sepakat Pilkada Dilanjutkan, Kemendagri: Kita Semua Harus Sukseskan!
GoNews Group
12 jam yang lalu
Pemerintah dan DPR Sepakat Pilkada Dilanjutkan, Kemendagri: Kita Semua Harus Sukseskan!
Home  /  Berita  /  Feature

Syaikh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi, Jadi Imam Masjidil Haram Setelah Koreksi Bacaan Shalat Mertuanya

Syaikh Ahmad Khatib Al- Minangkabawi, Jadi Imam Masjidil Haram Setelah Koreksi Bacaan Shalat Mertuanya
Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi saat masih muda (kanan) dan sudah tua. (gomuslim.co)
Rabu, 22 Juli 2020 11:33 WIB
JAKARTA - Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi merupakan ulama besar asal Minangkabau. Sejumlah muridnya, kemudian juga menjadi ulama besar di Nusantara.

Dikutip dari Republika.co.id, sejak merantau ke Makkah pada usia 11 tahun, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi hanya pernah sekali pulang kampung ke Sumatera Barat. Ia fokus belajar Islam di Tanah Suci. Walhasil, ia menjadi ulama besar dan diangkat menjadi imam Masjidil Haram.

Syaikh Ahmad Khatib lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 26 Mei 1860. Ia berasal dari keluarga dan keturunan yang taat beragama serta berpendidikan. Sebagai anak dari keluarga yang mapan, Ahmad Khatib sempat mengenyam pendidikan formal di sekolah guru/raja (Kweekschool) di Bukittinggi.

Ketika baru berusia 11 tahun (1871), Ahmad Khatib diboyong bapaknya, Abdullatif, untuk naik haji ke Makkah. Seusai melaksanakan ibadah haji, ia tak ikut bapaknya pulang ke kampung. Ia memilih bermukim di Tanah Suci untuk mendalami agama Islam.

Menurut Buya Hamka dalam buku catatan tentang ayahnya, Syaikh Ahmad Khatib hanya pernah sekali pulang kampung. Setelah berada di Ranah Minang selama beberapa bulan, ia kembali ke Makkah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.

Kendati sudah jadi orang terpandang di Makkah, kata Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), cinta Syaikh Ahmad Khatib pada Minangkabau tak pernah putus. Ia suka sekali jika dikirimi rendang, dan lebih suka lagi kalau dikirimi belut kering.

''Tetapi kalau diajak pulang ke Minang, beliau menggelengkan kepala, nampak mukanya muram!,'' kata Syaikh Abdul Karim Amrullah, yang merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib, sebagaimana dituliskan Buya Hamka dalam Ayahku (1982).

Jadi Imam Masjidil Haram

Selama menetap di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib belajar dengan sungguh-sungguh kepada banyak guru.

Fadhlan Mudhafier dalam Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy: Pemikiran dan Perjuangannya (2013), menulis, Syaikh Ahmad Khatib di Makkah berguru tentang Islam kepada Said Ahmad Zaini Dahlan, Said Bakri Satta, Syaikh Yahya Kabli, dan Syaikh Muhammad Nawawi Banten. Sedangkan untuk ilmu umum, ia belajar kepada Syaikh Abdul Hadi, ilmuwan Inggris yang hafal Alquran. 

Kesungguhannya belajar, tulis Hamka, akhirnya membuat Syaikh Ahmad Khatib menjadi ulama besar yang masyhur dan mendapat kedudukan tinggi dalam masyarakat Makkah. Karena keluasan ilmu, kesalehan, dan baik budinya, Syaikh Akhmad Khatib juga disayangi banyak orang.

Salah satu yang menyayanginya adalah Syaikh Shaleh Kurdi, seorang hartawan keturunan Kurdi. Syaikh Shaleh Kurdi pun menikahkan putrinya, Khadijah, dengan Syaikh Akhmad Khatib pada tahun 1890.

Momen mendebarkan sempat terjadi ketika Syaikh Akhmad Khatib dan Syaikh Shaleh Kurdi berbuka puasa di istana Syarif Husein di Makkah. Ketika Syarif menjadi imam shalat Magrib, terdapat bacaan yang salah, lalu Syaikh Ahmad Khatib seketika menegur. 

Seusai shalat, Syarif langsung bertanya kepada Syaikh Shaleh Kurdi: siapa pemuda yang menegur bacaan shalatnya tadi. Syaikh Shaleh menjelaskan bahwa pemuda itu adalah menantunya. Syarif ternyata tidak marah tapi malah memuji. Ia menyebut Syaikh Shaleh beruntung karena mendapatkan menantu pemuda yang demikian tampan, manis, alim, dan pemberani.

''(Kejadian) inilah yang kelak menjadi pintu dia (Syaikh Ahmad Khatib) diangkat menjadi Imam dari golongan Syafi'i di Masjidil Haram. Kemudian ditambah lagi menjadi khatib, merangkap pula guru besar, ulama yang diberi hak mengajarkan agama di Masjidil Haram,'' tulis Hamka (hlm. 272).

Setelah menjadi imam Masjidil Haram sekitar tahun 1892, Syaikh Ahmad Khatib pun makin terkenal. Tak terkecuali di Nusantara sehingga membuat banyak pemuda Indonesia datang berguru kepadanya. Terlebih, ia memakai metode pengajaran yang berbeda dengan ulama lainnya, yakni bertumpu pada pemahaman dan diskusi sehingga murid-muridnya lebih terlibat aktif.

Ia pun melahirkan murid-murid yang kemudian hari juga menjadi ulama terkemuka. Beberapa di antaranya adalah K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Jamil Jaho, Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syaikh Muhammad Saleh (Mufti Kerajaan Selangor).

Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi menjadi seorang guru hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia tahun 1916 pada usia 56. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Ma'la. Kompleks pemakaman itu tak begitu jauh dari Masjidil Haram, tapi terpaut ribuan kilometer dengan Ranah Minang, kampung halaman yang selalu ia rindukan.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Feature

GoSumbar.com Noor Makki, Bocah Usia 4 Tahun yang Hafal Alquran
GoSumbar.com Kisah Mualaf Profesor Matematika, Bersyahadat Setelah Baca Surat Az-Zariyat Ayat 52-53
GoSumbar.com Kisah Mualaf Santiago, Pria Tampan Asal Ekuador yang Bersyahadat di Bandung karena Kumandang Azan
GoSumbar.com Brigjen TNI Tetty Melina Lubis: Jilbab Tak Halangi Karier di Militer
GoSumbar.com Kisah Mualaf Ornella, Mahasiswi Teknik Sipil yang Bersyahadat Setelah Baca Buku Rahmatan Lil Alamin
GoSumbar.com Kisah Mualaf Caroline, Pekerja Bar yang Bersyahadat Saat Pandemi Corona, Kini Jadi Penjahit Jilbab
GoSumbar.com Kisah Karima Menjadi Muslimah, Bermula dari Tugas Kelompok Meneliti Perayaan Idul Adha
GoSumbar.com Kisah Natalia Iriani, Bersyahadat Setelah Mantap Meyakini Nabi Isa Hanyalah Utusan Allah
GoSumbar.com Kisah Mualaf Jaksa Farai Museta, Bermula dari Guru Ateis yang Mendorongnya Berpikir Kritis
GoSumbar.com Kisah Mualaf Uskup Agung yang Menggemparkan, Rumahnya Dibom Saat Ibadah Haji dan 3 Bayinya Terbunuh
GoSumbar.com Kisah Mualaf Wilfred Hoffman, Publikasikan Buku Menggegerkan Saat Jadi Dubes Jerman di Maroko
GoSumbar.com Amalan Suami-Istri Ini Membuat Allah SWT Tertawa
GoSumbar.com Kisah Greta, Bersyahadat di Usia Senja Setelah Saksikan Putrinya Sujud
GoSumbar.com Kisah Mayjen TNI Dudung, Pernah Jualan Kue dan Ditabok Tentara Berpangkat Mayor Saat Jadi Loper Koran
GoSumbar.com Kisah Mualaf Lisha, Mantap Bersyahadat Setelah Tak Sengaja Telepon Imam Besar Masjid
GoSumbar.com Jahnke Pelajari Islam dan Bersyahadat Setelah Mimpi Bertemu Pria Tampan di Gurun
GoSumbar.com Ketika Umar Minta Izin Dimakamkan di Samping Muhammad dan Abu Bakar, Begini Jawaban Aisyah
GoSumbar.com Tertegun Baca Surat Al Ikhlas, Ku Wie Han Putuskan Bersyahadat dan Kini Jadi Ustaz
wwwwww