Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Puluhan Geng Motor Bersenjata Golok Serang Laskar FPI saat Pasang Spanduk Habib Rizieq
Hukum
18 jam yang lalu
Puluhan Geng Motor Bersenjata Golok Serang Laskar FPI saat Pasang Spanduk Habib Rizieq
2
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: "Saya bisa Menghilang Kapan Saja"
GoNews Group
11 jam yang lalu
Pengungkapan Asal Mula Covid-19: Saya bisa Menghilang Kapan Saja
3
Dokter Andhika Berpulang setelah Positif Covid, PMRJ: Riau Kehilangan Putra Terbaik
GoNews Group
20 jam yang lalu
Dokter Andhika Berpulang setelah Positif Covid, PMRJ: Riau Kehilangan Putra Terbaik
4
Terlibat Pelacuran, 3 Siswi SMA Diamankan Satpol PP
Peristiwa
22 jam yang lalu
Terlibat Pelacuran, 3 Siswi SMA Diamankan Satpol PP
5
PDI Perjuangan Bantah Ikut Koalisi Poros Baru di Pilgub Sumbar
Politik
22 jam yang lalu
PDI Perjuangan Bantah Ikut Koalisi Poros Baru di Pilgub Sumbar
6
Gubernur Sumbar: Lulusan PT Jadi Pengangguran Jika tak Berkualitas
Pendidikan
23 jam yang lalu
Gubernur Sumbar: Lulusan PT Jadi Pengangguran Jika tak Berkualitas
Loading...
Home  /   Berita  /   Politik

Wakil Ketua MPR Desak Rapat Paripurna DPR Agendakan Cabut RUU HIP

Wakil Ketua MPR Desak Rapat Paripurna DPR Agendakan Cabut RUU HIP
Kamis, 16 Juli 2020 14:43 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mendesak, Rapat Paripurna DPR RI penutupan masa sidang, yang akan digelar Kamis (16/7), memutuskan penghentikan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP).

Karena menurutnya, penghentian pembahasan RUU HIP, sejalan dengan komitmen pimpinan DPR yang disampaikan saat menerima delegasi Pimpinan Pengunjuk Rasa tolak RUU HIP. Apalagi, sidang paripurna, itu telah memiliki agenda merespons perkembangan penolakan Publik terhadap RUU HIP.

"Semakin banyak penolakan dari masyarakat, dan adanya kegaduhan akibat RUU HIP dengan sejumlah ketentuannya yang kontroversial, ini seharusnya sudah bisa menjadi alasan bagi DPR bersama dengan pemerintah untuk bersikap resmi menghentikan pembahasan dan bahkan mencabut RUU HIP dari Prolegnas Prioritas 2020 maupun Prolegnas Long List 2020-2024," ujar HNW dalama keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (15/7).

HNW juga menyayangkan hasil rapat Badan Legislasi DPR RI dan Pemerintah yang telah menarik 16 RUU dari daftar Prolegnas Prioritas Tahun 2020, tetapi tidak ada RUU HIP dari daftar RUU yang ditarik tersebut. Padahal, penolakan terhadap RUU ini sudah sangat masif dilakukan dari berbagai elemen bangsa, dari Ormas Keagamaan, Pemuda Pancasila, hingga Legiun Veteran. Sayangnya, aspirasi mereka belum didengarkan secara seksama oleh DPR RI.

"Suara dan aspirasi-aspirasi mereka juga sudah disampaikan oleh Anggota Badan Legislasi dari Fraksi PKS dalam Rapat Kerja Baleg DPR RI dengan Pemerintah (yang diwakili Menkumham) serta DPD, agar tripartit ini menyepakati untuk menghentikan pembahasan RUU HIP dan bahkan menariknya dari Prolegnas," ujarnya.

Oleh karena itu, Anggota Komisi VIII DPR RI ini mendesak agar Rapat Paripurna DPR RI sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi di DPR mengagendakan untuk membahas penghentian pembahasan dan atau pencabutan RUU HIP ini dari Prolegnas.

"Pimpinan DPR sudah berkomitmen secara terbuka kepada Pimpinan Ormas yang berdemonstrasi menolak RUU HIP untuk menghentikan pembahasan. Selain itu Menkopolhukam juga secara lisan pernah sampaikan bahwa Pemerintah tidak setuju dengan RUU HIP bermasalah ini. Jadi, apalagi yang mau ditunggu?" kata HNW.

Lebih lanjut, HNW mengingatkan, agar Pemerintah dan DPR tidak lagi jatuh pada lubang yang sama ketika RUU HIP ini diloloskan menjadi RUU Usul Inisiatif DPR. Sebab, ketikaRUU ini dibahas diawal juga sudah diingatkan oleh FPKS di Baleg terkait beberapa konten yang bermasalah. Lalu, tidak dihiraukan, sehingga dibawa ke Paripurna.

"Di Rapat Paripurna, penolakan dari FPKS dan Fraksi Partai Demokrat juga diabaikan, sehingga akhirnya menjadi kontroversi ketika isi dari RUU itu sampai ke masyarakat sangat luas,' ujarnya.

Sebagai informasi, beberapa konten dalam RUU HIP ini menimbulkan kontroversi di masyarakat. Di antaranya adalah tidak diakomodasinya TAP MPRS XXV/1966 yang mengatur larangan penyebaran ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, Pancasila yang diperas menjadi trisila dan ekasila, hingga banyak ketentuan pasal dalam RUU HIP soal 'ketuhanan' yang tidak sesuai dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila. Juga tentang Visi dan Ciri Manusia Pancasila dalam RUU HIP, yang tidak sesuai dengan Pancasila 18 Agustus 1945.

"Lebih baik dan sesuai dengan perwakilan Rakyat apabila DPR dan Pemerintah sepakat merespon banyak sekali kritik serta masukan publik untuk menghentikan pembahasan RUU HIP, bahkan mengeluarkan RUU HIP dari Prolegnas, agar kontroversi ini berhenti. Dengan begitu kepercayaan Rakyat serta marwah DPR dapat terselamatkan. Setelah itu semua pihak dapat berkontribusi dan fokus mengatasi dampai Covid-19 yang semakin meluas dan mengkhawatirkan itu," pungkasnya.***


Loading...
www www