Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Otong Tewas Usai Ditangkap dan Kepalanya Dibungkus Lakban, Polisi Sebut Karena Sesak Napas
Peristiwa
20 jam yang lalu
Otong Tewas Usai Ditangkap dan Kepalanya Dibungkus Lakban, Polisi Sebut Karena Sesak Napas
2
Viral Pedagang Nangis Dilarang Jualan Usai Tegur 'Istri Wakapolda'
Peristiwa
20 jam yang lalu
Viral Pedagang Nangis Dilarang Jualan Usai Tegur Istri Wakapolda
3
Otong Tewas Diduga Disiksa Polisi, Jokowi dan DPR Didesak Revisi KUHAP
Hukum
20 jam yang lalu
Otong Tewas Diduga Disiksa Polisi, Jokowi dan DPR Didesak Revisi KUHAP
4
Akibat Pandemi, Ratusan Mama Muda Bakal jadi Janda Baru
Peristiwa
19 jam yang lalu
Akibat Pandemi, Ratusan Mama Muda Bakal jadi Janda Baru
5
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
Kesehatan
20 jam yang lalu
Tito Karnavian: Air Wudhu Tidak Membunuh Virus Corona
6
Berharap Anak Masuk Akpol, Anggota Polisi Tertipu Rp1,35 Miliar, Pelakunya Tersangka Korupsi Rp5,9 Miliar
Hukum
24 jam yang lalu
Berharap Anak Masuk Akpol, Anggota Polisi Tertipu Rp1,35 Miliar, Pelakunya Tersangka Korupsi Rp5,9 Miliar
Loading...
Home  /   Berita  /   Kesehatan

Dokter Sugih Sendirian Rawat 190 Pasien Covid-19, Begini Tanggapan Gugus Tugas

Dokter Sugih Sendirian Rawat 190 Pasien Covid-19, Begini Tanggapan Gugus Tugas
Ilustrasi dokter. (tribunnews)
Jum'at, 03 Juli 2020 21:05 WIB
MAKASSAR - Dokter Sugih Wibowo (37) sudah lebih sebulan menjalankan tanggung jawab merawat pasien positif Covid-19 di Hotel Harper, Makassar, Sulawesi Selatan.

Pria yang tergabung dalam program duta wisata Covid-19 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan itu satu-satunya dokter yang bertugas di Hotel Harper. Padahal, jumlah pasien yang harus dirawat sangat banyak, 190 orang. Dokter Sugih pun tidak menerima insentif sama sekali atas tugas berat tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, Wakil juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel Syafri Kamsul Arif mengaku heran, dr Sugih belum menerima insentif dan hanya menjadi satu-satunya yang menangani pasien di program pemerintah yang bertajuk wisata Covid-19 tersebut.

''Saya secara teknis meminta klarifikasi dari Dinkes (Dinas Kesehatan) Maros dan Dinkes Provinsi (Sulawesi Selatan),'' kata Syafri kepada Kompas.com melalui telepon, Jumat (3/7/2020).

Syafri mengatakan, seharusnya para tenaga kesehatan dan dokter yang secara langsung menangani pasien Covid-19 sudah mendapatkan haknya.

Direktur Rumah Sakit Pendidikan Unhas ini mengimbau Dinas Kesehatan Maros segera menelusuri hal yang menimpa dr Sugih.

''Insentif di Rumah Sakit itu sudah dicairkan yang bulan Maret, April. Makanya saya pertanyakan kenapa dokter itu belum dicairkan. Harus diusulkan oleh institusinya misalnya kalau dia dari Diskes harusnya Diskes Maros atau Sulsel yang mengusulkan. Harus dapat!'' tegas dia.

Terkait penyebab hanya dr Sugih yang sendirian menangani pasien di Hotel Harper, Syafri lagi-lagi berujar, hal itu juga menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Maros.

''Tanggung jawab dari Dinas Kesehatan Maros kenapa dia sendiri. Saya kira akan diklarifikasi dan perlu penambahan dokter di situ,'' kata Syafri. 

Hanya Berjaga

Sementara Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Maros Syarifuddin menjelaskan, tugas Dokter Sugih Wibowo di Hotel Harper hanya menangani pasien Covid-19 bergejala ringan.

"Hotel Harper itu bukan rumah sakit darurat, tapi tempat karantina terpusat yang diberi nama rekreasi duta Covid-19," kata Syarifuddin kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (3/7/2020).

Dokter Sugih hanya didampingi 3 perawat, relawan, admin, serta sopir ambulans yang siap mengantarkan pasien bila ditemukan ada gejala.

Mereka hanya bertugas mengantisipasi peserta duta Covid-19 bila sewaktu-waktu mengalami sakit berat yang perlu dirujuk.

''Kenapa sendiri? Karena memang hanya berjaga bukan merawat karena bukan rumah sakit. Setiap periode penugasan selama 14 hari, disiapkan kamar untuk menginap,'' ujar Syarifuddin.

Syarifuddin menambahkan, dr Sugih telah melalui tiga periode masa penugasannya dan belum digantikan lantaran belum ada dokter di Maros yang mendaftar menjadi relawan untuk bertugas di hotel tersebut.

Bila dr Sugih keberatan dengan perpanjangan masa periode tugasnya, seharusnya bisa menolak pada periode kedua.

''Penugasan beliau berdasarkan keikhlasan untuk menjadi relawan dan berkali-kali membuat statement biar seterusnya beliau bersedia bertugas sebagai relawan,'' ucap dia.

Pernyataan dr Sugih yang pada akhirnya mengeluhkan perpanjangan masa periode penugasan, kata Syarifuddin, diduga dari pembayaran insentif yang belum cair.

Dia menjelaskan, insentif tenaga medis, relawan, dan dokter yang bertugas di hotel program wisata Covid-19 kini sedang dalam proses pembuatan SK Bupati sebagai payung hukum.

''Kenapa terlambat? Karena 14 hari pertama kami Dinkes Maros menganggap itu kewenangan provinsi karena program ini adalah kegiatan Pemerintah Provinsi Sulsel. Dan peserta rekreasi Duta Covid-19 berasal dari 24 Kab/Kota se-Sulsel,'' pungkasnya. ***

Editor : hasan b
Sumber : kompas.com
Kategori : Kesehatan

Loading...
www www