Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalaupun Minta Maaf, Polisi Akan Tetap Proses Hukum Denny Siregar
GoNews Group
19 jam yang lalu
Kalaupun Minta Maaf, Polisi Akan Tetap Proses Hukum Denny Siregar
2
Anas Nasikhin: Debat Adian Vs Erick Tohir, Gak level
Pemerintahan
24 jam yang lalu
Anas Nasikhin: Debat Adian Vs Erick Tohir, Gak level
3
Larang Liput Kedatangan TKA China Takut Wartawan Ditunggai Teroris, AJI: Pernyataan Danlanud Berlebihan
Politik
4 jam yang lalu
Larang Liput Kedatangan TKA China Takut Wartawan Ditunggai Teroris, AJI: Pernyataan Danlanud Berlebihan
4
PKS Targetkan Menang 60 Persen Pilkada di Sumbar
Politik
17 jam yang lalu
PKS Targetkan Menang 60 Persen Pilkada di Sumbar
5
Polisi Padang Selidiki Pencabulan Anak Usia Lima Tahun di Pauh
Padang
17 jam yang lalu
Polisi Padang Selidiki Pencabulan Anak Usia Lima Tahun di Pauh
6
Ikut Mandikan dan Makamkan Jenazah Pasien Covid-19, Ratusan Warga Desa Diisolasi
Kesehatan
23 jam yang lalu
Ikut Mandikan dan Makamkan Jenazah Pasien Covid-19, Ratusan Warga Desa Diisolasi
Loading...
Home  /   Berita  /   Peristiwa

Minimnya Perhatian Pemerintah, Nasib Pesantren Kian Menyedihkan saat Pandemi

Minimnya Perhatian Pemerintah, Nasib Pesantren Kian Menyedihkan saat Pandemi
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid.
Sabtu, 27 Juni 2020 22:19 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
CIANJUR - Minimnya perhatian pemerintah terhadap Pondok Pesantren khususnya saat Pandemi Covid-19, bisa mengancam generasi bangsa.

Betapa tidak, jika Pondok Pesantren banyak yang tutup karena tidak bisa mencukupi kebutuhan operasional, dampaknya akan banyak generasi muda yang akan kehilangan asupan pendidikan agama.

Meskipun pelajaran Agama tetap ada di Sekolah umum, namun tidak selengkap dan detil seperti di pesantren. Demikian diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid, Sabtu (27/6/2020) di Pondok Pesantren Al Ittihad, Karangtengah, Cianjur, Jawa Barat.

"Bisa dibayangkan, Pondok Pesantren yang selama ini mencerdaskan anak bangsa kemudian tutup karena tak sanggup untuk melanjutkan poses belajar mengajar," ujarnya.

"Berapa banyak generasi muda kita yang akan kehilangan asupan pendidikan Agama Islam," timpalnya.

Untuk itu, Koordiantor Nasional Nusantara Mengaji itu, mendesak Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, segera turun tangan melihat langsung apa yang terjadi di Pesantren saat Pandemi. "Selama ini Pesantren itu seperti anak ayam yang kehilangan induk. Pesantren dianggap tidak penting dan bisa hidup sendiri, sehingga tidak diperhatikan sama sekali," tukasnya.

Ia juga menilai, Menteri Agama saat ini tidak memiliki sensitifitas untuk membantu Pesantren. "Melihat anggaran yang ada. Ini memang sepertinya tidak ada niatan untuk membantu dunia Pendidikan Pedantren. Jangan hanya melihat Pondok Pesantren di Kota yang besar dan megah. Coba cek ke Daerah-daeah khusunya di pelosok, banyak pesantren udah mau tutup," tandasnya.

Padahal kata Gus Jazil, sejarah berdirinya Pesantren adalah untuk melayani yang tidak mampu. "Jadi ini yang harus jadi fokus Pemerintah. Pesantren ini tidak punya akses anggaran. Jadinya dibiarkan hidup seperti rumput Alang-alang saja. Sampai saat ini, tidak ada tuh Pesantren yang ditanya berapa kerugian akibat pandemi, nasib guru, Ustaz, Kyai bagaimana, itu sama sekali tidak menjadi perhatian serius," urainya.

Sebelumnya, Gus Jazil juga menyoroti perhatian pemerintah di sektor pendidikan selama pandemik kali ini dinilai sangat kurang. Dia mencontohkan anggaran untuk kegiatan pendidikan keislaman seperti pesantren yang hanya dialokasikan sebesar Rp 2,3 triliun di era kenormalan baru (new normal). Alokasi tersebut dinilai sangat kecil dibanding jumlah pesantren yang disebutnya mencapai 28.000 pesantren.

"Kalau cuma Rp 2,3 triliun untuk pesantren tidak cukup. Terus dimana prioritas peningkatan SDM (sumber daya manusia) itu?" kata Jazilul, Rabu (17/6/2020).

Lebih lanjut dirinya menilai besaran dana untuk kalangan pesantren yang hanya diplot Rp 2,3 Triliun menunjukkan sektor pendidikan tidak menjadi prioritas perhatian pemerintah di era pandemi ini.

"Pandemi ini menjadi ancaman pendidikan ke depan. Jadi harus dapat prioritas utama. Jangan hanya pikir sistem keuangan dan pemulihan ekonomi. Tetapi, kemudian tidak kita sadari generasi kita lemah. Maka, bagaimana rumusannya menangani pendidikan," ungkap Jazilul.

"Pendidikan jarak jauh (virtual) itu apakah efektif? Terus bagaimana yang tinggal di daerah jauh, kan (akses) internet nggak bagus. Jadi, anggaran Rp 2,3 triliun itu harus ditambah," tambahnya.

Jazilul menambahkan apalagi alokasi anggaran tersebut tidak hanya untuk pesantren, tapi juga kegiatan keagamaan Islam lainnya. "Anggaran itu kecil sekali. Apalagi untuk lembaga pendidikan agama Islam yang lain. Untuk pesantren saja nggak cukup maka Rp 2,3 triliun itu ada gunanya. Pesantren saja ada 28 ribu," katanya.***


Loading...
www www