Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalaupun Minta Maaf, Polisi Akan Tetap Proses Hukum Denny Siregar
GoNews Group
19 jam yang lalu
Kalaupun Minta Maaf, Polisi Akan Tetap Proses Hukum Denny Siregar
2
Anas Nasikhin: Debat Adian Vs Erick Tohir, Gak level
Pemerintahan
24 jam yang lalu
Anas Nasikhin: Debat Adian Vs Erick Tohir, Gak level
3
Larang Liput Kedatangan TKA China Takut Wartawan Ditunggai Teroris, AJI: Pernyataan Danlanud Berlebihan
Politik
4 jam yang lalu
Larang Liput Kedatangan TKA China Takut Wartawan Ditunggai Teroris, AJI: Pernyataan Danlanud Berlebihan
4
PKS Targetkan Menang 60 Persen Pilkada di Sumbar
Politik
17 jam yang lalu
PKS Targetkan Menang 60 Persen Pilkada di Sumbar
5
Polisi Padang Selidiki Pencabulan Anak Usia Lima Tahun di Pauh
Padang
17 jam yang lalu
Polisi Padang Selidiki Pencabulan Anak Usia Lima Tahun di Pauh
6
Ikut Mandikan dan Makamkan Jenazah Pasien Covid-19, Ratusan Warga Desa Diisolasi
Kesehatan
23 jam yang lalu
Ikut Mandikan dan Makamkan Jenazah Pasien Covid-19, Ratusan Warga Desa Diisolasi
Loading...
Home  /   Berita  /   Internasional

Dampak Pandemi, India Krisis Pembalut Wanita dan Malaysia Krisis Kondom

Dampak Pandemi, India Krisis Pembalut Wanita dan Malaysia Krisis Kondom
Warga India membikin pembalut dari kain. (BBC)
Selasa, 16 Juni 2020 18:01 WIB
JAKARTA - Akibat Covid-19 yang menyerang seluruh dunia, berdampak ke hal-hal yang selama ini dianggap sepele. Di India misalnya, Perempuan usia pelajar mengalami kekurangan pembalut karena sekolah yang selama ini menjadi tempat distribusi tutup selama pandemi.

"Ini membuat jutaan remaja di seluruh India cemas," tulis wartawan BBC Geeta Pandey dari Delhi.

Selama beberapa tahun, Priya menerima 10 paket pembalut setiap bulan dari sekolahnya. Anak berumur 14 tahun ini tinggal di Badli, daerah kumuh di barat laut Delhi bersekolah di sekolah negeri yang membagikan pembalut kepada seluruh murid perempuan di bawah skema kesehatan reproduksi pemerintah.

Ini merupakan kampanye penting di negeri di mana hanya 36% dari 355 juta perempuan menstruasi menggunakan pembalut. Sisanya menggunakan kain bekas, sekam atau abu untuk menghentikan pendarahan.

Ditambah lagi fakta bahwa 23 juta perempuan putus sekolah sesudah usia menstruasi mereka.

Karena sekolah tutup, terhenti pula pasokan pembalut. "Paket terakhir saya bulan Februari. Sesudah itu saya harus beli di apotek terdekat. Harganya 30 rupee untuk satu paket, berisi tujuh pembalut," kata Priya.

Priya termasuk beruntung orang tuanya mampu membelikan pembalut. Banyak tetangganya kehilangan pekerjaan bahkan tak mampu membeli makanan. Perempuan di keluarga-keluarga itu mulai mengganti pembalut dengan kain.

Di Bhalaswa Dairy sebuah daerah kumuh tempat tinggal sekitar 1.900 keluarga, seorang pegiat bernama Madhu Bala Rawat, juga menyatakan kekurangan pembalut untuk perempuan usia sekolah.

"Menstruasi tidak berhenti di masa pandemi. Pembalut sangat penting buat perempuan, sama seperti makanan. Kenapa pemerintah mengabaikan permintaan kami," tanyanya.

Di beberapa kota, polisi membagikan pembalut saat karantina wilayah atau lockdown.
Kebayakan perempuan di daerah itu, termasuk anaknya yang berumur 14 tahun, tergantung pada pasokan dari sekolah karena mereka tak mampu membeli pembalut, katanya. "Anak-anak ini khawatir. Mereka tak mau memakai kain lagi karena sudah terbiasa dengan pembalut sekali pakai. Pemerintah harus memasok bersama dengan jatah makanan bulanan."

Sesudah Madhu mengirim pesan, lembaga amal Womenite menyalurkan 150 paket pembalut ke Badli dan Bhalaswa Dairy bulan April. Harshit Gupta, pendiri Womenite, mengatakan mereka telah mengumpulkan dana untuk menyalurkan 100.000 paket pembalut di Delhi dan daerah sekitarnya pada tanggal 28 Mei, seiring peringatan Hari Menstruasi Internasional.

Satu perusahaan pembuat pembalut menyalurkan 80.000 paket di Delhi dan Punjab. Polisi di beberapa kota seperti Bangalore, Hyderabad, Jaipur, Chandigarh, Bhubaneshwar dan Kolkata diperbantukan untuk menyalurkan kepada penduduk di daerah kumuh dan mmigran yang terjebak di kamp pengungsian.

Minggu ini partai yang berkuasa di India Partai Bharatiya Janata (BJP) mengumumkan akan memberi 600.000 paket kepada polisi untuk disalurkan kepada perempuan remaja di kawasan kumuh Delhi.

Tak hanya di desa, kekurangan pembalut juga menimpa, bahkan lebih buruk di pedesaan dan kawasan semi-urban, kata Shailja Mehta, dari Dasra, organisasi amal untuk urusan remaja."Hasil pembicaraan dengan mitra kami di beberapa negara bagian, kami dengar hanya 15% perempuan punya akses ke pembalut selama karantina,".

Masalah berawal ketika India menerapkan karantina tanggal 25 Maret, dan pembalut tidak dimasukkan ke dalam barang esensial yang tak dibatasi peredarannya. Akibatnya, tanggal 29 Maret apotek, toko dan situs belanja daring kehabisan. Barulah pemerintah memasukkan sebagai barang esensial. Keterlambatan ini menyebabkan kehilangan waktu produksi selama 10 hari. "Ketika pemerintah memperbolehkan kami beroperasi, butuh tiga sampai empat hari untuk membuka pabrik lagi karena perlu ada izin bagi pekerja kami," kata Rajesh Shah, Presiden Asosiasi Feminine and Infant Hygiene India.

Shah mengatakan produksi baru beroperasi sebagian karena ada kekurangan pekerja yang telah meninggalkan kota menuju kampung halaman mereka. "Hanya 60% pabrik yang beroperasi, dan tak ada yang beroperasi dengan kapasitas penuh. Banyak terjadi kekurangan pekerja, atau pabrik yang terletak di kawasan tertutup sehingga tidak boleh buka. Juga ada gangguan terhadap pasokan dan distribusi".


Sementara itu, Lockdown yang diberlakukan di negeri jiran, Malaysia untuk menghambat penyebaran virus corona baru, COVID-19, menyebabkan dunia dilanda krisis atau kekurangan kondom.

Produsen alat kontrasepsi terbesar di dunia adalah Karex Berhad yang berbasis di Malaysia. Lockdown telah memaksa perusahaan itu menghentikan produksinya. Sekadar diketahui, Karex Berhad (KARE.KL) memproduksi satu dari setiap lima kondom global. Perusahaan itu belum menghasilkan satu kondom pun dari tiga pabriknya di Malaysia selama lebih dari seminggu karena terpengaruh dampak lockdown yang diberlakukan pemerintah.

Berhentinya produksi membuat dunia saat ini kekurangan 100 juta alat kontrasepsi tersebut. Biasanya, produk perusahaan Malaysia itu dipasarkan secara internasional oleh merek-merek top seperti Durex.

Selain itu juga dipasok ke sistem perawatan kesehatan berbagai negara seperti NHS (Layanan Kesehatan Nasional) Inggris atau pun didistribusikan oleh program bantuan internasional seperti UN Population Fund (Dana Populasi PBB).

Perusahaan diberi izin untuk memulai kembali produksi pada hari Jumat, tetapi dengan hanya 50 persen dari tenaga kerjanya, di bawah pengecualian khusus untuk industri kritis. "Ini akan memakan waktu untuk memulai pabrik dan kami akan berjuang untuk memenuhi permintaan dengan kapasitas setengahnya," kata Kepala Eksekutif Karex Berhad, Goh Miah Kiat, kepada Reuters.

"Kita akan melihat kekurangan global kondom di mana-mana, yang akan menakutkan," katanya lagi. “Kekhawatiran saya adalah bahwa untuk banyak program kemanusiaan di Afrika, kekurangannya bukan hanya dua minggu atau sebulan. Kekurangan ini bisa berlangsung berbulan-bulan."

Malaysia adalah negara yang terkena dampak terburuk COVID-19 di Asia Tenggara, dengan memiliki 2.161 kasus infeksi dan 26 kematian. Lockdown nasional di negara itu berlaku hingga 14 April. Negara-negara penghasil kondom utama lainnya adalah China tempat virus corona Covid-19 pertama kali muncul, India dan Thailand.

Pembuat barang-barang penting lainnya seperti sarung tangan medis juga menghadapi masalah dalam operasi mereka di Malaysia.

Dalam komentar melalui email, juru bicara Durex mengatakan operasi terus berjalan seperti biasa dan perusahaan tidak mengalami kekurangan pasokan. "Bagi konsumen kami, banyak di antaranya tidak dapat mengakses toko, toko online Durex kami tetap terbuka untuk bisnis."

"Hal yang baik adalah bahwa permintaan kondom masih sangat kuat karena suka atau tidak, itu masih penting untuk dimiliki," kata Goh. “Mengingat bahwa pada saat ini orang mungkin tidak berencana untuk memiliki anak. Ini bukan waktunya, dengan begitu banyak ketidakpastian."***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : Reuters dan BBC
Kategori : Peristiwa, Pemerintahan, Politik, Internasional

Loading...
www www