Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dianggap jadi 'Kutu Loncat', Warga Sumbar Enggan Dukung Faldo Maju Pilgub
Sumatera Barat
15 jam yang lalu
Dianggap jadi Kutu Loncat, Warga Sumbar Enggan Dukung Faldo Maju Pilgub
2
Kisah Febi, Kena UU ITE dan Dituntut 2 Tahun Penjara Akibat Tagih Utang 'Bu Kombes' Lewat IG
Hukum
15 jam yang lalu
Kisah Febi, Kena UU ITE dan Dituntut 2 Tahun Penjara Akibat Tagih Utang Bu Kombes Lewat IG
3
Tangis Petani Simalingkar Pecah saat Cerita Anak dan Suami di Penjara, Tanahnya Diserobot PTPN II
Politik
19 jam yang lalu
Tangis Petani Simalingkar Pecah saat Cerita Anak dan Suami di Penjara, Tanahnya Diserobot PTPN II
4
Kasus Denny Siregar, Dua Santri Diperiksa Polisi
GoNews Group
15 jam yang lalu
Kasus Denny Siregar, Dua Santri Diperiksa Polisi
5
18 Lembaga Akan Dibubarkan, Refly Harun: Semoga BPIP Juga, Sebab Nggak Guna
Politik
15 jam yang lalu
18 Lembaga Akan Dibubarkan, Refly Harun: Semoga BPIP Juga, Sebab Nggak Guna
6
Kuasa Hukum Korban Penganiayaan di Batipuh Selatan Minta Penyidik Kepolisian Usut Tuntas Motif Pelaku
Tanah Datar
11 jam yang lalu
Kuasa Hukum Korban Penganiayaan di Batipuh Selatan Minta Penyidik Kepolisian Usut Tuntas Motif Pelaku
Loading...
Home  /   Berita  /   Pemerintahan

Gara-gara Proyek Senilai Rp17 Miliar, Wabup Ancam Bunuh Bupati Aceh Tengah

Gara-gara Proyek Senilai Rp17 Miliar, Wabup Ancam Bunuh Bupati Aceh Tengah
Senin, 18 Mei 2020 04:24 WIB
JAKARTA - Hawa politik di Aceh Tengah menghangat. Duet pemimpin Shabela-Firdaus dilanda konflik. Bupati Shabela mengatakan bahwa wakilnya itu mengancam akan membunuh dan melakukan kekerasan terhadapnya.

Shabela menuturkan, pada Rabu (13/5) sekitar pukul 21.15 WIB dirinya menerima sejumlah tamu di rumah dinas. "Tiba-tiba dari arah depan Firdaus datang. Dan dari luar sudah mengeluarkan kalimat tidak pantas terhadap saya," katanya.

Firdaus yang datang bersama beberapa orang itu menanyakan masalah proyek. Merasa tidak aman, Shabela memilih bertahan di dalam rumah. Dia berniat melaporkan masalah tersebut ke polisi.

Sementara itu, Firdaus mengatakan bahwa tindakannya tersebut spontan. Selama ini dia merasa posisinya sebagai wakil bupati kurang dihargai. "Sadarilah, dia (Shabela) jadi bupati karena ada wakil, mungkin enggak dia calon jadi bupati tanpa ada wakil, kan tidak bisa," kata Firdaus kemarin (15/5).

Kejadian itu, kata Firdaus, merupakan puncak kekesalannya terhadap Shabela. Soal proyek, menurut dia, hanya pencetus. "Ini sebenarnya telah terakumulasi sejak lama, pencetusnya saja tiba-tiba," ujar Firdaus.

Proyek yang dimaksud Firdaus adalah pengerjaan di sejumlah instansi. Di antaranya, dinas kesehatan dan RSUD Datu Beru dengan total sekitar Rp 17 miliar. Menurut Firdaus, keretakan dirinya dan Shabela telah berlangsung lama. Dia mengaku tidak pernah dilibatkan dan tidak mengetahui kebijakan bupati, termasuk soal mutasi.

"Memang bisa saja itu kewenangan bupati, tapi yang sebenarnya menurut aturan ada musyawarah dahulu," ucapnya.

Selain itu, kata Firdaus, semestinya mereka saling bertukar pikiran saat membicarakan anggaran. "Tapi, saya tidak tahu sama sekali karena tidak dilibatkan, masak satu atap, sama-sama berkorban, sama-sama berjuang, ketika berhasil, ditinggalkan," kata Firdaus.

Selama tidak ada perubahan, menurut Firdaus, hubungannya dengan Shabela tetap akan bermasalah. Dia mau saja berdamai asalkan ke depan lebih dilibatkan dalam menjalankan roda pemerintahan.

"Sama siapa saja maunya baik kan tidak ingin cari permusuhan. Cuma kalau tetap seperti selama ini, kan kejadian lagi," katanya.

Terkait rencana Shabela melapor ke polisi, Firdaus mempersilakan hal tersebut. "Laporkan saja. Saya juga ada bahan. Terserah dia," ujar Firdaus.

Sementara itu, Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Akmal Malik Piliang mengatakan, pihaknya masih mencari tahu pokok persoalan yang mengakibatkan konflik antara bupati Aceh Tengah dengan wakilnya. Lantaran hal itu sensitif, dia ingin mempelajari dulu sebelum berkomentar.

"Saya belum mau berkomentar. Kalau belum tahu terus komentar, malah salah," ujarnya.

Akmal menjelaskan, karena kasusnya di level kabupaten, penanganan masih dilakukan pemerintah provinsi. Hingga tadi malam, dia mengaku masih menunggu penjelasan dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah. "Pak Gubernur belum membalas WA saya ini," imbuhnya.***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : Jawapos
Kategori : Peristiwa, Pemerintahan

Loading...
www www