Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Orang Tua Murid Waspadalah! Ada Gambar Porno di Tugas Belajar Siswa
Politik
9 jam yang lalu
Orang Tua Murid Waspadalah! Ada Gambar Porno di Tugas Belajar Siswa
2
Mahasiswi S2 Tewas Tergantung di Rumah Pacar, Ternyata Tengah Hamil Muda
Peristiwa
21 jam yang lalu
Mahasiswi S2 Tewas Tergantung di Rumah Pacar, Ternyata Tengah Hamil Muda
3
Delapan Warga Lengayang Pesisir Selatan Terinfeksi Corona
Kesehatan
20 jam yang lalu
Delapan Warga Lengayang Pesisir Selatan Terinfeksi Corona
4
Rasulullah Mengingatkan, Ini 3 Musuh Utama Umat Islam
Umum
22 jam yang lalu
Rasulullah Mengingatkan, Ini 3 Musuh Utama Umat Islam
5
Polisi Terus Usut Kasus Video Mesum Mantan Anggota DPRD
Peristiwa
19 jam yang lalu
Polisi Terus Usut Kasus Video Mesum Mantan Anggota DPRD
6
Hari Ini Pengumuman Hasil SBMPTN, Peserta Diminta Cermati Informasi dari PTN
Pendidikan
19 jam yang lalu
Hari Ini Pengumuman Hasil SBMPTN, Peserta Diminta Cermati Informasi dari PTN
Loading...
Home  /   Berita  /   Feature

Kagumi Ajaran Islam yang Mengatur Seluruh Aspek Kehidupan, Zan Christ Putuskan Bersyahadat

Kagumi Ajaran Islam yang Mengatur Seluruh Aspek Kehidupan, Zan Christ Putuskan Bersyahadat
Zan Christ. (republika.co.id)
Jum'at, 08 Mei 2020 10:01 WIB
JAKARTA - Allah SWT menganugerahkan hidayah kepada orang-orang yang dipilihnya. Maka beruntunglah mereka yang terpilih sebagai penerima hidayah tersebut. Salah seorang yang sangat beruntung tersebut adalah Zan Christ.

Dikutip dari Republika.co.id, mulanya Zan Christ tidak mengenal Islam sama sekali. Dia awalnya bahkan menyangka Islam adalah nama ras.

Zan tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristiani yang taat. Ayahnya merupakan seorang pendeta. 

Secara silsilah, ia masih campuran Norwegia-Jerman. Leluhurnya merantau ke Benua Amerika pada permulaan abad modern. Selain dibesarkan dalam norma-norma religius, Zan juga dididik untuk menghargai perbedaan. 

Ia menyadari Amerika Serikat (AS) sebagai suatu negara yang amat majemuk. Negeri ini dibangun para imigran dari berbagai penjuru dunia tak jauh berbeda dengan kakek-nenek moyangnya dulu dari Eropa. Bagaimanapun, pluralitas terkait agama tak begitu didalaminya.

Oleh karena itu, sewaktu masih anak-anak dirinya mengira Islam adalah identitas bangsa di Benua Asia, bangsa Arab. Pemahaman keliru ini terus melekat di benaknya hingga usia remaja.

Zan tumbuh sebagai gadis yang aktif. Di lingkungan gerejanya, ia bahkan didaulat sebagai asisten pengajar. Tiap Ahad, anak-anak sekitar berkumpul untuk mendengarkan Zan menuturkan kisah-kisah religi.

Tibalah saatnya Zan melanjutkan pendidikan tinggi. Sewaktu mengenyam sekolah dasar hingga menengah, perempuan itu selalu berada di daerah tempat kelahirannya, Minnesota, AS.

Kemudian, ia mesti merantau jauh dari keluarga. Sebagai mahasiswi, nalar kritisnya mulai terbangun. Ia menyadari, banyak kawannya yang tak terlalu peduli pada religiusitas. Demikian pula, ada teman-temannya yang tetap rutin beribadah. Beberapa di antaranya adalah Muslim.

Sampai di situ, Zan perlahan-lahan tersadar, Islam adalah suatu agama yang menyeluruh. Kenyataan ini semakin menarik perhatiannya sejak suatu ketika kuliah tentang agama-agama besar dunia.

''Saya mengambil kelas Islam untuk belajar tentang sesuatu yang baru bagi saya. Belajar tentang Islam atau agama apa pun adalah upaya yang saya tempuh sebagai mahasiswi. Pada akhirnya, secara personal saya memutuskan untuk (mempelajari) Islam. Bahkan, inilah yang kemudian terkuak sebagai pilihan terbaik dalam hidup saya,'' kata Zan Christ saat menuturkan kisahnya, seperti dilansir Muslim Covert Stories.

Setelah berhasil meraih gelar sarjana, ia meneruskan studi ke jenjang magister. Pada tahun pertama di sekolah pascasarjana, Zan memiliki kian banyak teman dan jaringan. Apalagi, kampus tempatnya belajar memiliki banyak mahasiswa internasional. Di antara sahabat-sahabat Zan kala itu berasal dari Somalia dan Pakistan, dua negara dengan populasi Muslim yang signifikan.

Zan pun belajar banyak dari mereka tentang apa itu Islam dan bagaimana umat Islam pun bersifat heterogen di seluruh dunia. Yang mengesankannya, sahabat-sahabat Muslimnya itu memiliki sifat ramah dan dermawan yang luar biasa. Bahkan, Zan mulai merasa, kehidupan mereka tenteram dan penuh visi.

Suatu kali, ia bertanya kepada sahabatnya itu tentang tujuan penciptaan semesta dan kehidupan ini. Mereka berkata, visi kehidupan tiap insan adalah pada Tuhan. Sebab, begitulah Islam mengajarkan umatnya. Hal ini membuat Zan kian penasaran terhadap Islam. Zan menceritakan, dirinya mulai mendalami Islam melalui pendekatan akademis. Sebab, perspektif ini baginya memberikan keleluasaan untuk lebih mengenal objek yang ingin dikaji. 

Untuk itu, ia kerap meminta bantuan kepada sahabat-sahabatnya yang Muslim. Mereka merasa antusias. Tak sedikit yang memberikan kepadanya buku-buku tentang agama ini, khususnya terjemahan kitab suci Alquran. 

''Saya belajar tentang Islam dan mencoba melihat pemahaman dasarnya,'' kata dia.

Seiring waktu, Zan merasa Islam cocok dengan caranya memandang kehidupan. Ia menyadari, agama ini tak sekadar membicarakan ritual per pekan atau doa-doa, melainkan seluruh aspek kehidupan itu sendiri. Cakupannya juga tak hanya hubungan personal antara seseorang dengan Tuhan, melainkan juga antarmanusia dan bahkan manusia dengan semesta.

''Saya tahu waktu itu bahwa Islam tepat untuk saya. Namun, saya masih bimbang, belum tahu kapan waktu yang tepat untuk secara resmi menerimanya,'' ucap Zan mengenang.

Dalam keadaan seperti itu, ia mengalami suatu hari yang cukup berbeda dari biasanya. Waktu itu, musim panas. Jadwal kuliah dan tugas sedang padat-padatnya. Zan merasa cukup exhausted. 

''Malam harinya, saya merasa keadaan menjadi sangat buruk. Saya pun memutuskan untuk istirahat sejenak. Maka, saya melangkahkan kaki, mengitari bangunan-bangunan kampus malam itu,'' kata Zan.

''Dalam hati, saya merasa, batin ini sedang memanggil Tuhan. Saya merasa bersyukur, memiliki Tuhan sebagai tempat kembali dari segala jerih-payah kehidupan ini. Saya merasa waktu itu begitu dekat dengan-Nya. Ini adalah satu momen terindah dalam hidup saya,'' lanjut dia. 

Keesokan paginya, Zan menghubungi sahabatnya. Kepadanya, ia mengungkapkan tekad yang kuat untuk memeluk Islam.  

Seakan-akan semesta mendukung. Tak ada kesulitan berarti bagi Zan untuk sampai ke momen itu. Dengan ditemani beberapa sahabatnya yang Muslimah, ia pun menyambangi suatu masjid di dekat kampus. Di sana, ia mengucapkan dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya. 

Saat ini, Zan Christ tercatat sebagai pemateri dalam berbagai forum multi-agama di kampusnya. Keaktifannya dalam isu dialog antarumat beragama kian intens, terutama sejak berhasil meraih gelar dari Hamline University jurusan World Religions. Zan kini sudah berumah tangga. Suaminya Ather Syed, seorang yang juga aktif dalam kampanye dialog antarkeyakinan di Minnesota.***

Editor : hasan b
Sumber : kompas.com
Kategori : Feature

Loading...
www www