Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dianggap jadi 'Kutu Loncat', Warga Sumbar Enggan Dukung Faldo Maju Pilgub
Sumatera Barat
14 jam yang lalu
Dianggap jadi Kutu Loncat, Warga Sumbar Enggan Dukung Faldo Maju Pilgub
2
Kisah Febi, Kena UU ITE dan Dituntut 2 Tahun Penjara Akibat Tagih Utang 'Bu Kombes' Lewat IG
Hukum
14 jam yang lalu
Kisah Febi, Kena UU ITE dan Dituntut 2 Tahun Penjara Akibat Tagih Utang Bu Kombes Lewat IG
3
Tangis Petani Simalingkar Pecah saat Cerita Anak dan Suami di Penjara, Tanahnya Diserobot PTPN II
Politik
18 jam yang lalu
Tangis Petani Simalingkar Pecah saat Cerita Anak dan Suami di Penjara, Tanahnya Diserobot PTPN II
4
Kasus Denny Siregar, Dua Santri Diperiksa Polisi
GoNews Group
14 jam yang lalu
Kasus Denny Siregar, Dua Santri Diperiksa Polisi
5
18 Lembaga Akan Dibubarkan, Refly Harun: Semoga BPIP Juga, Sebab Nggak Guna
Politik
14 jam yang lalu
18 Lembaga Akan Dibubarkan, Refly Harun: Semoga BPIP Juga, Sebab Nggak Guna
6
Kuasa Hukum Korban Penganiayaan di Batipuh Selatan Minta Penyidik Kepolisian Usut Tuntas Motif Pelaku
Tanah Datar
10 jam yang lalu
Kuasa Hukum Korban Penganiayaan di Batipuh Selatan Minta Penyidik Kepolisian Usut Tuntas Motif Pelaku
Loading...
Home  /   Berita  /   Peristiwa

Terungkap Usai Meninggal, Ketua RT: Berkas Permohonan Ibu Yuli untuk Dapat Bansos Ditolak Pemerintah

Terungkap Usai Meninggal, Ketua RT: Berkas Permohonan Ibu Yuli untuk Dapat Bansos Ditolak Pemerintah
Ilustrasi. (GoNews.co)
Rabu, 22 April 2020 13:23 WIB
SERANG - Nаѕіb Ibu Yulі, wаrgа dі Kota Sеrаng, Prоvіnѕі Banten, уаng mеnіnggаl dunia setelah dikabarkan kеlараrаn bеrѕаmа keluarganya bеrhаrі-hаrі, ѕоntаk mеnаrіk perhatian publik.

Agus Jakaria, Ketua RT 03 RW 07, Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang tempat Ibu Yuli dan keluarganya tinggal mengaku pernah membawa berkas keluarga almarhumah ke pemerintah untuk mendapatkan bantuan sosial (bansos). Namun data keluarga itu ditolak, lantaran tertulis kepala keluarga bekerja sebagai petugas kebersihan yang dikira sudah mendapatkan gaji setiap bulan.

Benar, suami almarhumah, Mohamad Holik, bekerja sebagai "petugas kebersihan" yang mencari barang bekas dan layak jual dari tempat sampah atau tepatnya pemulung. Namun penghasilannya pun tak menentu.

Jika dirata-rata hanya Rp30 ribu pendapatan per hari paling besarnya. Uang sebesar itu harus dibagi untuk makan bersama Yulie, Holik, dan empat orang anak mereka.

"Saya bawa data 15 Kepala Keluarga (KK), 5 KK saya bawa lagi karena tidak masuk kategori, di situ termasuk Pak Holik, karena status pekerjaannya sebagai petugas kebersihan. Saya bawa berkasnya ke Kesos, saya bilang ke almarhumah, Berkasnya saya bawa lagi," kata Agus saat ditemui di kediaman Ibu Yuli, Selasa 21 April 2020.

Agus menjelaskan bahwa bantuan datang ke keluarga Ibu Yuli sejak Sabtu, 18 April 2020, usai ramai diberitakan oleh media massa bahwa keluarga itu sempat menahan lapar dengan hanya minum air galon selama dua hari. Bantuan diberikan langsung ke Ibu Yuli oleh para relawan.

"Bantuan dari pemerintah belum ada, adanya Sabtu, datangnya bantuan banyak sorenya," terang Agus.

Dia juga menjelaskan bahwa adik Ibu Yuli pernah bercerita kepada dia bahwa almarhumah sempat mengalami sakit kepala pada Minggu, 19 April 2020 dan tidak bisa tidur di malam hari. Kemudian, pada Senin, 20 April 2020 sekitar pukul 15.00 WIB, Ibu Yulie menghembuskan nafas terakhir.

"Saya pernah ngobrol sama adiknya, ada keluhan di kepala, kurang tidur. Kata Pak (petugas) Puskesmas (ingin ketemu dengan adiknya) untuk wawancara dengan adiknya, pingin tahu keluhannya (almarhum)," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa Ibu Yulie dan suaminya, Mohamad Holik, bersama empat anak mereka kelaparan hingga hanya meminum air galon selama dua hari. Usai ramai diberitakan, banyak bantuan kepada keluarga almarhum. Namun Ibu Yuli meninggal dunia pada Senin, 20 April 2020.***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : Tangerangonline dan Info Banten
Kategori : GoNews Group, Pemerintahan, Ekonomi, Peristiwa

Loading...
www www