Home  /  Berita  /  Umum

Lokasi Tambang Emas Ilegal yang Longsor di Solok Selatan Ternyata Bekas Tambang Emas Belanda

Lokasi Tambang Emas Ilegal yang Longsor di Solok Selatan Ternyata Bekas Tambang Emas Belanda
Kepala Polres Solok Selatan, AKBP Imam Yulisdianto (kiri) didampingi Wakil Kepala Polres Solok Selatan, Komisaris Polisi Ediwarman (kanan) usai meninjau lokasi, Minggu (19/4/2020).(ho/antara)
Minggu, 19 April 2020 18:53 WIB
PADANG ARO - Lokasi tambang emas ilegal yang menyebabkan sembilan warga Nagari Ranah Pantai Cermin, Kecamatan Sangir Batanghari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, tewas tertimbun Sabtu petang (18/4/2020 ternyata merupakan lokasi penambangan emas peninggalan zaman penjajahan Belanda.

''Informasi yang kami peroleh itu bekas tambang peninggalan di zaman Belanda. Jadi mereka mencari emas dengan mendulang atau tradisional di lokasi tersebut,'' ujar Kepala Kepolisian Resor Solok Selatan, AKBP Imam Yulisdianto, Minggu (19/4/2020).

Imam Yulisdianto yang ditemui usai meninjau lokasi tertimbunnya sembilan warga Ranah Pantai Cermin tersebut di Jorong Talakiak, Nagari Ranah Pantai Cermin, Minggu mengatakan, saat memindahkan korban yang dilakukan hingga Minggu dini hari, tidak ditemukan alat berat yang digunakan untuk menambang emas. Pemindahan korban juga dilakukan dengan cara manual, tanpa alat berat.

Saat kejadian, sebutnya, ada 12 orang yang tengah mendulang emas. Tiga orang mendulang di bagian luar, sementara sembilan orang yang menjadi korban mendulang di bagian dalam lubang. ''Tiga orang yang selamat tersebut yang memberikan informasi dan melakukan evakuasi awal,'' ujarnya.

Polisi kini tengah melakukan olah tempat kejadian peristiwa (TKP) yang berjarak sekitar empat sampai lima kilometer jalan utama dengan kondisi jalan perbukitan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Bupati Solok Selatan, Abdul Rahman, menyebutkan di Nagari Ranah Pantai Cermin itu banyak lokasi penambangan emas peninggalan zaman Belanda.

''Pandemi Covid-19 ini saat mempengaruhi ekonomi masyarakat. Masyarakat Sangir Batanghari ini sebagai besar petani komoditas ekspor seperti sawit, pinang, karet yang harganya saat ini anjlok. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka menambang secara tradisional di Jorong Talakiak yang terdapat banyak bekas tambang emas Belanda,'' katanya.

Ia memastikan penambangan yang dilakukan para korban yang tertimbun itu memakai cara tradisional, karena dari sembilan korban tersebut satu di antaranya perempuan yang ikut mendulang. ''Kalau memang menggunakan alat berat nggak mungkin ada perempuan di dalam (lubang tambang),'' ujarnya.

Ia menyebutkan, warga yang tertimbun tersebut masih memiliki talian kekerabatan. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:Antara
Kategori:Umum, Peristiwa, Sumatera Barat, Solok Selatan

wwwwww