Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Awalnya Nantang Netizen, Kini Denny Siregar Nuntut Telkomsel gegara Data Pribadinya Tersebar
Politik
14 jam yang lalu
Awalnya Nantang Netizen, Kini Denny Siregar Nuntut Telkomsel gegara Data Pribadinya Tersebar
2
Kalaupun Minta Maaf, Polisi Akan Tetap Proses Hukum Denny Siregar
GoNews Group
5 jam yang lalu
Kalaupun Minta Maaf, Polisi Akan Tetap Proses Hukum Denny Siregar
3
Anas Nasikhin: Debat Adian Vs Erick Tohir, Gak level
Pemerintahan
10 jam yang lalu
Anas Nasikhin: Debat Adian Vs Erick Tohir, Gak level
4
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
Kesehatan
14 jam yang lalu
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
5
Sherina Anggap Kalung Anti Corona Takhayul, Semoga Nyawa Tidak Melayang
Kesehatan
14 jam yang lalu
Sherina Anggap Kalung Anti Corona Takhayul, Semoga Nyawa Tidak Melayang
6
Tok! Timja Pimpinan DPD RI Rekomendasikan Tolak RUU HIP
Politik
12 jam yang lalu
Tok! Timja Pimpinan DPD RI Rekomendasikan Tolak RUU HIP
Loading...
Home  /   Berita  /   Ekonomi

Menkeu Sri Mulyani Mengaku Sakit Perut Dengar Janji-janji Kampanye Jokowi

Menkeu Sri Mulyani Mengaku Sakit Perut Dengar Janji-janji Kampanye Jokowi
Menkeu Sri Mulyani. (bisnis.com)
Kamis, 30 Januari 2020 17:42 WIB
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengaku saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan janji-janji dalam kampanye pemilihan presiden pada 2019 lalu, dirinya sempat sakit perut mendengarnya.

Dikutip dari vivanews.com, diantara janji-janji kampanye Jokowi yang membuatnya sakit perut adalah kartu-kartu sakti.

''The beauty of election, tapi hanya menjanjikan apa yang gratis, apa yang gratis, saya banyakan sakit perut. Ya curcol itu waktu selesai election, bill-nya datanglah itu,'' kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara di acara Bank Dunia, Aspiring Indonesia- Expanding Middle Class di Soehanna Hall, The Energy Building, Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Dikatakannya, dia sakit perut, karena harus menyesuaikan kembali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan kebutuhan untuk merealisasikan janji-janji itu. Apalagi, janji kampanye saat itu yang paling jadi andalan adalah kartu prakerja.

''Salah satu yang dipromise presiden kartu prakerja Rp10 triliun, saya tanya ini gimana caranya. Pak Presiden bilang pokoknya campaign dulu. Kartu prakerja Rp10 triliun untuk dua juta orang, cari ini supply demand-nya gimana,'' tuturnya.

Namun, lanjut dia, janji kampanye tersebut ternyata sejalan dengan tujuan utama pemerintah untuk memperbaiki kualitas sosial masyarakat Indonesia. Hal itu menjadi salah satu cara untuk menjaga ketahanan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah dan memacunya untuk naik kelas.

''Memperkuat middle class akan dilakukan banyak policy choices melalui direct transfer memberikan akses education, training dan lain-lain, policy instrument menjadi beragam, bahkan dengan fiscal instrument policy,'' papar dia.***

Editor : hasan b
Sumber : vivanews.com
Kategori : Ekonomi, Pemerintahan

Loading...
www www