Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PBNU Usul Tarik RUU HIP Ganti Jadi RUU BPIP
Politik
23 jam yang lalu
PBNU Usul Tarik RUU HIP Ganti Jadi RUU BPIP
2
Polisi Belum Pastikan Kapan Periksa Denny Siregar
GoNews Group
23 jam yang lalu
Polisi Belum Pastikan Kapan Periksa Denny Siregar
3
Citilink Gratiskan Rapid Test Untuk Calon Penumpang
Pemerintahan
22 jam yang lalu
Citilink Gratiskan Rapid Test Untuk Calon Penumpang
4
Oprasi Lutut, Ketut Mahadewi: Takut Banget
GoNews Group
19 jam yang lalu
Oprasi Lutut, Ketut Mahadewi: Takut Banget
5
Cerita Akbar/Winny Soal Sulitnya Saling Adaptasi
GoNews Group
19 jam yang lalu
Cerita Akbar/Winny Soal Sulitnya Saling Adaptasi
6
Sebut Terlambat Persiapan, Zainudin Amali Bagi Tugas
GoNews Group
19 jam yang lalu
Sebut Terlambat Persiapan, Zainudin Amali Bagi Tugas
Loading...
Home  /   Berita  /   GoNews Group

Kasus Wahyu, Marr'ie: Memuluskan Proses PAW, Biasanya Komisioner KPU Harus Dikasih 'Sajen'

Kasus Wahyu, Marrie: Memuluskan Proses PAW, Biasanya Komisioner KPU Harus Dikasih Sajen
Foto: Ist.
Minggu, 12 Januari 2020 12:30 WIB
JAKARTA - Pengakuan dari salah satu tersangka skandal pergantian antar waktu (PAW) DPR RI, Saeful Bahri terkait sumber dana suap yang berasal dari Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristianto, diragukan kebenarannya.

Koordinator Masyarakat Indonesia Pemantau Komisi Pemilihan Umum (KPU), Marr'ie Andi Muh. Dyah mengaku tak yakin dengan kebenaran dari pengakuan Saeful Bahri. Pasalnya, sebagaimana pengakuan dari tersangka, Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan, inisiatif terjadinya suap justru datang darinya.

"Inisiatif terjadinya suap datang dari KPU (Wahyu Setiawan)," katanya dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Minggu (12/1/2020).

Menurut hasil pemantauan Marr'ie, kuat dugaan bahwa kasus seperti yang dilakukan oleh Wahyu Setiawan sering terjadi di KPU. Diduganya KPU sering nenghambat proses penetapan seorang anggota dewan, agar bisa mendapatkan uang suap.

"Sekalipun ada putusan hukum atau peraturan yang memangnya KPU harus menjalankan putusan hukum dan peraturan yang ada. Jadi diduga terjadinya suap itu datang dari birokrasi KPU yang sengaja diperlambat oleh KPU," jelasnya.

Lebih lanjut Marr'ie menegaskan bahwa, pernyataan Saeful Bahri yang mengatakan uang untuk menyuap Komisioner KPU Wahyu Setiawan berasal dari Hasto Kristianto tidak bisa dijadikan bukti.

Sebab, bukan tidak mungkin Saeful melontarkan itu hanya untuk mencari perlindungan. Hal semacam itu kata dia lumrah terjadi di partai politik. Dimana kadang-kadang banyak staf di partai maupun DPR, sengaja menggunakan kekuasaan atasannya untuk mencari keuntungan pribadi.

Misalnya, tambah dia, terkait pengurusan administrasi PAW, biasanya si calon anggota DPR RI harus melewati para staff di kesekretariatan partai. Agar proses berjalan cepat, mereka harus menyuap para staf partai atau sekedar memberi uang.

"Nah setelah rekomendasi untuk PAW telah ditanda tangani Ketum dan Sekjen, biasanya dibawa oleh staf partai ke KPU. Nah disana juga banyak terpentok birokrasi macam-macam. Hingga untuk memuluskan proses PAW, biasanya komisioner KPU harus di kasih "sajen" alias suap. Nah akhirnya staf partai sendiri yang baku atur bersama calon anggota DPR yang akan dilantik melalui PAW," urainya.

Maka dari itu, ditekankannya bahwa pimpinan partai seperti Ketum dan Sekjen yang sudah menyetujui proses PAW sudah pasti tidak tahu sama sekali akan praktik-praktik haram tersebut.

"Jadi Saeful Bahri bisa dikenakan pasal pencemaran baik dengan mengatakan uang suap itu berasal dari Hasto. Karena sangat sulit dan sangat tidak mungkin uang tesebut dari Hasto," pungkasnya.

Editor : Muhammad Dzulfiqar
Kategori : GoNews Group, Hukum, Politik

Loading...
www www