Loading...

Ratusan Ribu Keping Sampah Angkasa akan Ditangani Robot dan Dibakar di Atmosfer

Ratusan Ribu Keping Sampah Angkasa akan Ditangani Robot dan Dibakar di Atmosfer
Ilustrasi Clear Space1: ESA
Rabu, 11 Desember 2019 11:07 WIB
JAKARTA - Saat ini, ada lebih dari 500.000 keping sampah luar angkasa yang ada di orbit Bumi. Kepingan sampah ini dulunya merupakan bagian dari satelit-satelit yang diluncurkan dan sudah tak berfungsi lagi.

Celakanya, sampah-sampah ini berputar di sekitar planet dengan kecepatan yang luar biasa, mencapai 28.000 kilometer/jam.

Kalau dibiarkan, risiko tabrakan dengan satelit yang masih aktif tentu akan terjadi. Puing-puing juga berbahaya bagi misi luar angkasa dan mencemari pandangan astronom saat mengamati langit.

Badan Antariksa Eropa (ESA) pun mengungkapkan rencananya untuk membersihkan sampah-sampah ini. Pada 2025, ESA berencana meluncurkan pengumpul sampah luar angkasa bernama ClearSpace-1.

ClearSpace-1 akan diluncurkan hingga ketinggian 500 kilometer di atas permukaan Bumi. Robot empat tangan itu akan melacak sampah seperti permainan Pac-Man.

Misi tersebut mulai mengumpulkan sampah dari yang terkecil untuk membuktikan konsep robot pengumpul itu berhasil.

Potongan sampah yang dimaksud ini beratnya kira-kira sama dengan satelit kecil dan memiliki bentuk sederhana yang membuatnya mudah untuk digenggam dengan empat lengan robot.

Setelah aman, maka sampah tersebut akan diseret keluar dari orbit dan dibiarkan terbakar di atmosfer.

Sayangnya cara itu juga akan menghancurkan pengumpul. Namun di masa depan, ESA berharap dapat menciptakan cara bagi robot untuk mengambil dan mengeluarkannya dari orbit secara aman.

"Masalah sampah luar angkasa ini lebih mendesak daripada sebelumnya. Saat ini kita memiliki hampir 2000 satelit aktif dan 3000 non aktif. Tahun-tahun mendatang jumlah satelit tentu akan terus meningkat," kata Luc Piguet, CEO ClearSpace.

Tantangan dari misi pengumpulan sampah ini terdapat pada biayanya yang mahal. Misi ClearSpace sendiri menelan biaya sekitar 129 Juta dollar Amerika atau sekitar Rp 1,8 triliun.

Sementara opsi lain yang lebih murah, seperti menggunakan sampah sebagai bahan bakar, belum ada yang berhasil.***

Editor : Muhammad Dzulfiqar
Sumber : Gizmodo, Sains Alert
Kategori : GoNews Group, Lingkungan

Loading...
www www