Tokoh Perempuan Minang Rohana Kudus Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

Tokoh Perempuan Minang Rohana Kudus Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional
Rohana Kudus (foto: Wikipedia)
Kamis, 07 November 2019 18:04 WIB
WARTAWATI pertama di Indonesia yang merupakan tokoh perempuan asal Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar), Rohana Kudus atau Ruhana Kuddus ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun 2019.

Penetapan wartawan perempuan pertama Indonesia sebagai Pahlawan Nasional tersebut berdasarkan pertemuan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo pada 6 November 2019 lalu.

Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Jasman Rizal membenarkan bahwa Rohana Kudus sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

"Alhamdulillah, akhirnya wartawati pertama di Indonesia asal Minangkabau, Rohana Kudus ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2019," kata Jasman Rizal seperti dilansir dari TribunPadang.com.

Atas hal tersebut sejumlah pihak keluarga diundang ke Istana untuk penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tersebut.

Undangan tersebut disampaikan melalui Surat Menteri Sosial Rl nomor: 23/MS/A/09/2019 tanggal 9 September 2019, yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan, Pepen Nazaruddin.

Dalam surat itu, mengundang Gubernur Sumbar Irwan Prayinto untuk hadir di Istana Negara pada Jumat (8/11/2019).

Begitu juga dengan ahli waris pertama Gelar Pahlawan Nasional yang berdomisili di luar DKI Jakarta diharapkan sudah berada di Jakarta pada hari ini, Kamis (7/11/2019).

Proses Panjang Mendapatkan Penghargaan

Jasman Rizal menyebut, perjuangan untuk mendapatkan penghargaan itu cukup panjang.

Ada beberapa tahapan yang dilakukan. Mulai dari mempersiapkan syarat umum dan khusus hingga persyaratan administrasi.

Dia mengatakan, untuk mendapatkan penghargaan itu selama bertahun-tahun juga melibatkan banyak pihak.

"Ini semua berkat kerja sama semua pihak, mulai dari masyarakat, Pemprov, DPRD, dan DPR RI. Alhamdulillah di tahun 2019 dikabulkan," kata Jasman Rizal.

Sejarah Singkat Rohana Kudus

Diketahui, Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, 20 Desember 1884, dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun.

Dilansir dari wikipedia, pada 1911, Rohana Kudus mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang.

Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Rohana Kudus menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika dibredel pemerintah Belanda, Rohana Kudus berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Rohana Kudus lahir dari ayahnya yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam.

Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Dia juga sepupu H Agus Salim.

Rohana Kudus hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, di mana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

Rohana Kudus adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan.

Pada zamannya Rohana Kudus termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan.

Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Roehana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Walaupun Rohana Kudus tidak bisa mendapat pendidikan secara formal, namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana Kudus bahan bacaan dari kantor.

Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana Kudus cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya.

Dalam umur yang masih sangat muda Rohana Kudus sudah bisa menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda.

Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu.

Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Roehana bertetanga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya.

Dari istri pejabat Belanda itu Rohana Kudus belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda.

Di sini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Rohana Kudus.

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Roehana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.

Rohana Kudus pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan.

Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Koran Perempuan Bergerak

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan.

Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak.

Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra.

Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

Roehana Koeddoes menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik.

Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia.

Dan pada tanggal 6 November 2007 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama. (tpc)

Editor : arie rh
Sumber : tribunnews.com
Kategori : GoNews Group, Umum, Sumatera Barat

Loading...
www www