Loading...
Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI

Fary Djemy Prancis: Terindikasi Kuat Adanya Operasi Senyap

Fary Djemy Prancis: Terindikasi Kuat Adanya Operasi Senyap
Calon ketua umum PSSI 2019-2023 Fary Djemy Francis (tengah) bersama Vijaya Fitriyasa (kiri) dan Yesayas Oktavianus (kanan) mengumumkan deklarasi "PSSI Baru Menuju Perubahan" di Jakarta, Jumat (1/11/2019).
Jum'at, 01 November 2019 22:18 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Sebanyak sembilan dari 11 calon ketua umum PSSI periode 2019-2023 menuding bahwa Kongres Luar Biasa (KLB) pemilihan PSSI yang digelar pada 2 November 2019 berat sebelah. Pasalnya, prosesnya diduga menguntungkan salah satu calon.

"Terindikasi kuat adanya operasi senyap dari beberapa oknum komite eksekutif PSSI untuk memenangkan salah satu calon ketua umum di kongres," ujar Fary Djemy Francis, yang menjadi juru bicara 'tim sembilan' tersebut, di Jakarta, Jumat (1/11/2019).

Selain Fary, kesembilan calon ketua umum itu beranggotakan Vijaya Fitriyasa, Yesayas Oktavianus, Rahim Soekasah, Arif Putra Wicaksono, Aven Hinelo, Benny Erwin, Bernhard Limbong dan Sarman El Hakim.

Mereka menuduh kongres luar biasa pemilihan PSSI kental dengan permainan uang antara salah satu calon ketua umum dengan para pemilik suara (voter).

Tim sembilan tersebut menuangkan setidak-tidaknya 10 tuduhan-tuduhan dan kekecewaan mereka terhadap kongres pemilihan PSSI 2 November 2019 dalam sebuah deklarasi berjudul "PSSI Baru Menuju Perubahan".

Selain mengungkapkan keberpihakan kongres kepada salah satu calon, deklarasi itu juga berisi kritikan terhadap tata cara pelaksanaan kongres luar biasa pemilihan yang disebut mereka aneh.

Indikasi keanehan itu, menurut mereka, salah satunya adalah ketiadaan sosialisasi tata cara pemilihan di kongres sampai Jumat (1/11) atau satu hari menjelang acara.

Lalu, para calon ketum tidak merasa mendapatkan medium yang layak untuk mendekatkan diri kepada para voter.

Satu-satunya jalan untuk itu, yakni debat yang sejatinya digelar pada Kamis (31/10), dibatalkan. Padahal, tim sembilan menilai bahwa debat tersebut sangat penting sebagai jalan para calon ketum untuk meraih perhatian para voter.

"Jika sudah begini, maka federasi kita, PSSI dan sepak bola Indonesia secara keseluruhan, dalam kondisi bahaya dan akan makin parah jika tidak ada perbaikan untuk menuju perubahan," kata Fary.

Seandainya ini tidak dicegah, lanjut Fary, situasi makin rusak karena kongres hanya akan menghasilkan exco-exco lama yang selama ini, mereka adalah pelaku terdepan perusak sepak bola Indonesia. Kompetisi domestik Indonesia menjadi amburadul dan tim nasional kita babak belur.

Sembilan calon ketua umum PSSI periode 2019-2023 itu pun memiliki harapan kepada para voter dalam kongres luar biasa pemilihan PSSI pada 2 November 2019 di Jakarta.

"Kami mengimbau para voters, semuanya, untuk menggunakan hati nuraninya. Mari kita bergandengan tangan, dengan hati yang tulus, dengan cinta, untuk membawa sepak bola Indonesia menjadi lebih baik," tutur Fary seperti dilansir Antara.

Adapun 11 calon ketua umum PSSI periode 2019-2023 adalah Arif Wicaksono, Aven Hinelo, Bernhard Limbong, Benny Erwin, Fary Djemy Francis, La Nyalla Mattalitti, Mochamad Iriawan, Rahim Soekasah, Sarman El Hakim, Vijaya Fitriyasa dan Yesayas Oktavianus.

Kongres pemilihan 15 personel Exco PSSI 2019-2023 yaitu ketua umum, dua wakil ketua umum dan 12 anggota exco digelar pada 2 November 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta. ***

Kategori : GoNews Group, Olahraga

Loading...
www www