Loading...

Perlunya Revolusi Pengurus Olahraga

Perlunya Revolusi Pengurus Olahraga
Lifter Eko Yuli Irawan, peraih emas Asian Games 2018. (Antara)
Minggu, 27 Oktober 2019 21:00 WIB
Penulis: Azhari Nasution

DUNIA olahraga Indonesia semakin kelam saja tatkala Imam Nahrawi di ujung masa jabatan sebagai Menpora kedua menjadi tersangka kasus bantuan dana hibah Kemenpora kepada KONI Pusat. Sebelumnya, Andi Alfian Mallaranggeng tercatat menjadi tersangka dan dijatuhi hukuman empat tahun atas kasus Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Di era Imam Nahrawi, prestasi olahraga Indonesia mengalami keterpurukan dimana hanya mampu menempati peringkat kelima pada SEA Games Singapura 2015 dan SEA Games Kuala Lumour Malaysia 2017. Padahal, Indonesia pernah 11 kali menjadi juara umum pesta olahraga negara-negara Asia.

Olahraga Indonesia kembali terangkat tatkala sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games Jakarta-Palembang 2018 sekaligus menembus peringkat empat besar. Namun, perolehan medali 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu.

Dari jumlah 31 medali emas itu, cabor pencak silat yang tidak menjadi cabor resmi Olimpiade menyumbangkan 14 medali emas. Sisanya, panjat tebing (3), bulutanhgkis (2), paralayang (2), balap sepeda gunung (2), dayung (1), sepak takraw (1), wushu (1), jetski (1), karate (1), tenis (1), taekwondo (1) dan angkat besi (1).

Sementara dari cabor yang paling banyak memperebutkan medali emas yakni atetik hanya meraih 2 perak dan satu perunggu. Yang lebih mengenaskan, cabor renang yang juga banyak memperebutkan medali dengan biaya pelatnas cukup tinggi tak ada satupun medali yang mampu disumbangkan kepada Kontingen Indonesia pada pesta olahraga empat tahunan negara-negara Asia tersebut.

Jika dilihat dari perolehan medali emas itu apalagi cabang atletik dan renang tak banyak berbicara pada Asian Games 2018 itu, peluang Indonesia untuk meningkatkan peringkat pada SEA Games Filipina 2019 cukup berat. Bukan hanya bersaing dengan empat peringkat teratas pada SEA Games Malaysia 2017 yakni Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura tetapi Indonesia juga menghadapi ambisi tuan rumah Filipina yang dipastikan akan berupaya untuk meraih gelar juara umum.

Wajar bilamana Sesmenpora Gatot Dewa Broto tidak berani menyebut berapa jumlah medali emas yang bakal diraih Kontingen Merah Putih di Filipina nanti. Dan, wajar juga jika disebutkan bahwa SEA Games tidak lagi menjadi sasaran prestasi olahraga Indonesia karena adanya cabang olahraga unggulan tuan rumah yang tidak dipertandingkan pada SEA Games sebelumnya.

Revolusi

Pasca Asian Games 2018, Kemenpora sudah mengambil kebijakan untuk membidik sasaran ke Asian Games dan Olimpiade. Dengan adanya keputusan itu, praktis hanya cabang olahraga yang masuk Olimpiade mendapatkan prioritas. Dan, perubahan sasaran ini akan berdampak cukup bagus dimana atlet yang meraih prestasi di Asian Games dan Olimpiade itu secara otomatis akan memperbesar peluangnya meraih emas pada SEA Games.

Tidak mudah memang mewujudkan keinginan pemerintah untuk bisa menggapai prestasi pada Asian Games maupun Olimpiade. Tetapi, hal itu bisa diwujudkan bilamana Menpora Zaenudin Amali mengajak Komite Olimpiade Indonesia (KOI) di bawah kepemimpinan Raja Sapta Oktohari dan pengurus induk-induk organisasi (PB/PP) untuk bersama-sama membangun prestasi olahraga.

Peningkatan SDM yang sudah menjadi visi dan misi serta mendirikan Olympic Centre dengan sport science yang diinginkan Raja Sapta Oktohari memang perlu diwujudkan Menpora Zaenudin Amali. Sebab, dari Olympic Centre yang menampung atlet-atlet potensial yang dipilih dengan melihat struktur tubuhnya oleh Tim Talents Couting yang dibentuk PB/PP itu diharapkan muncul atlet-atlet berkualitas yang bisa bersaing di Asian Games dan Olimpiade.

"Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan pengurus PB/PP dalam meningkatkan kualitas pelatih dan wasit tanpa menggunakan APBN tetapi melalui bantuan KOI. Hanya saja, tidak semua PB/PP yang mau memanfaatkan peluang itu. Bisa dihitung dengan jari, PB/PP yang mau mengajukan programnya dan telah diwujudkan KOI melalui Olimpic Solidarity dari Dewan Olimpiade Asia (OCA) dan Komite Olimpiade Internasional (IOC)," kata mantan Plt Sekjen KOI, Hellen Sarita de Lima.

Di era KONI Pusat kepemimpinan Surono, hampir setiap bulan KONI Pusat melakukan program peningkatan kualitas pelatih melalui Coaching Clinic untuk pelatih dan wasit yang didukung IOC melalui Olympic Solidarity. Setelah itu, coaching clinic dari Olympic Solidarity tidak pernah lagi dilakukan. Terakhir, program ini dimulai kembali pada era kepengurusan KOI pimpinan Erick Thohir. Namun, ini tidak berjalan dengan mulus melihat minimnya perhatian PB/PP cabor Olimpiade.

Apa yang diungkapkan Hellen Sarita de Lima itu harusnya dijadikan patokan bagi Kemenpora untuk merevolusi pengurus PB/PP. Apalagi, PB/PP sudah menggantungkan dana pembinaan sepenuhnya dari APBN.

Revolusi pengurus PB/PP dengan menetapkan posisi Sekjen dan Bidang Pembinaan dan Prestasi harus diisi tenaga profesional di bidang olahraga memang perlu dilakukan. Tak ada lagi penunjukkan Sekjen dan Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi berdasarkan kedekatan atau bawaan ketua umum PB/PP terpilih. Dengan demikian, sasaran membangun prestasi menuju Asian Games dan Olimpiade bisa diwujudkan. Semoga....!!!!

Penulis : Azhari Nasution (Wartawan/Wakil Ketua SIWO PWI Pusat)

Daftar Cabor Peraih Medali Kontingen Indonesia di Asian Games 2018 :

Cabor Emas Perak Perunggu Total Medali

1. Pencak Silat (14-0-1-15) 
2. Panjat Dinding (3-2-1-8) 
3. Bulutangkis  (2-2-4-8) 
4. Paralayang (2-1-3-6) 
5. Sepeda Gunung  (2-0-1-3) 
6. Dayung (1-2-2-5) 
7. Sepak Takraw (1-1-3-5) 
7. Wushu (1-1-3-5) 
9. Jet Ski (1-1-1-3) 
9. Angkat Besi (1-1-1-3) 
10. Karate (1-0-3-4) 
11. Tenis (1-0-0-1) 
12. Taekwondo (1-0-0-1) 
13. Kano/Kayak Sprint (0-3-2-5) 
14. Skateboard (0-2-2-4) 
15. Atletik (0-2-1-3) 
16. Soft Tenis (0-1-3-4) 
17. Voli Pantai (0-1-2-3) 
18. Panahan (0-1-1-2) 
19. Balap Sepeda BMX (0-1-1-2) 
20. Senam Artistik (0-1-1-2) 
21. Menembak (0-1-0-1) 
22. Bridge (0-0-4-4) 
23. Tinju  (0-0-2-2) 
24. Kurash (0-0-1-1)

Tanpa Medali '

1. Anggar 
2. Balap Sepeda 
3. Baseball 
4. Berkuda 
5. Bola Basket 
6. Bola Tangan 
7. Bola Volley 
8. Bowling 
9. Golf 
10. Gulat 
11. Hockey 
12. Judo 
13. Kabadi 
14. Layar 
15. Sepakbola. ***

Kategori : GoNews Group, Olahraga

Loading...
www www