Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sukamta Sebut New Normal Hanya Kedok Pemerintah Tutupi Kegagalan Tangani Covid-19
Politik
21 jam yang lalu
Sukamta Sebut New Normal Hanya Kedok Pemerintah Tutupi Kegagalan Tangani Covid-19
2
Ruslan Buton Ditangkap, Kolonel Sugeng Waras: Anda tidak Sendirian, Banyak Orang di Belakangmu
Hukum
4 jam yang lalu
Ruslan Buton Ditangkap, Kolonel Sugeng Waras: Anda tidak Sendirian, Banyak Orang di Belakangmu
3
Rekam Jejak Dirut TVRI yang Baru, Penggemar 'Bokep' Eks Kontributor Majalah Dewasa
Pemerintahan
6 jam yang lalu
Rekam Jejak Dirut TVRI yang Baru, Penggemar Bokep Eks Kontributor Majalah Dewasa
4
Dijerat Pasal Berlapis, Ruslan Buton Terancam Penjara Hingga 8 Tahun
Hukum
4 jam yang lalu
Dijerat Pasal Berlapis, Ruslan Buton Terancam Penjara Hingga 8 Tahun
5
Tak Setuju 'New Normal'? Ini Pesan Hergun...
GoNews Group
22 jam yang lalu
Tak Setuju New Normal? Ini Pesan Hergun...
6
Eks Kontributor Playboy Jadi Dirut TVRI, Hidayat: Dewas Kangkangi TAP MPR Etika Kehidupan Berbangsa
Politik
7 jam yang lalu
Eks Kontributor Playboy Jadi Dirut TVRI, Hidayat: Dewas Kangkangi TAP MPR Etika Kehidupan Berbangsa
Loading...
Home  /   Berita  /   GoNews Group

Intelijen Dinilai Gagal, Suhendra Hadikuntono Direkomendasikan Pimpin BIN

Intelijen Dinilai Gagal, Suhendra Hadikuntono Direkomendasikan Pimpin BIN
Minggu, 20 Oktober 2019 07:05 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Sebagian tokoh dari Aceh hingga Papua menginginkan BIN dipimpin oleh sipil. Suhendra Hadikuntono menjadi nama yang direkomendasikan kepada Presiden Jokowi untuk mempimpin badan mata-mata nasional itu.

Sejarah kepimpinan sipil di BIN, tercatat setidaknya saat BIN era Bung Karno dipimpin Dr. Soebandrio (1959-1965), dan Assad Ali sebagai Wakil Kepala BIN, belum lama ini.

"Sudah saatnya Kepala BIN dari sipil," ujar Ketua Umum Pemuda Adat Papua, Timotius D. Telimolo dalam rilisnya.

Hasrat mengembalikan kepemimpinan BIN ke tangan sipil ini, menyusul insiden penyerangan terhadap Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto. Peristiwa ini, dianggap sebagai bukti kegagalan BIN yang kesekian kalinya dalam dalam menjalankan tugas deteksi dini ancaman keamanan dan pertahanan negara.


Bukti gegagalan sebelumnya adalah rusuh Papua, serta aksi demonstrasi massa yang berujung kerusuhan pada 21 Mei dan 22-23 September 2019 di Jakarta.

"Saya yakin Pak Jokowi sepakat dengan supremasi sipil. Jangan semua lembaga dipimpin oleh figur polisi atau tentara," tukasnya.***

Editor : Muslikhin Effendy
Kategori : GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik

Loading...
www www