Home >  Berita >  Umum

Mahathir: Anda Bisa Salahkan Indonesia tapi Kebakaran Hutan dan Lahan Tetap akan Terjadi

Mahathir: Anda Bisa Salahkan Indonesia tapi Kebakaran Hutan dan Lahan Tetap akan Terjadi
Mahathir Mohamad. (int)
Jum'at, 27 September 2019 08:54 WIB
NEWYORK - Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengatakan negara lain bisa saja menyalahkan dan mengkritik Indonesia, tapi kebakaran hutan dan lahan itu akan tetap ada. Dan sistem juga tidak mengizinkan kita untuk mencampuri urusan dalam negeri di negara lain.

Mahathir melempar kritik soal penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Mahathir menilai dunia tidak bisa menekan Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, Malaysia mengeluhkan asap karhutla yang juga berimbas ke negaranya. Mahathir membandingkan kebakaran hutan di Indonesia dengan yang terjadi di Amazon, Brasil.

"Presiden Brasil yang baru tak mempermasalahkan pembakaran hutan untuk pertanian dan tak ada yang bisa menyetopnya. Saya pikir, sistem tidak mengizinkan kita untuk mencampuri urusan dalam negeri di negara lain," kata Mahathir seperti dilansir New Strait Times, Jumat (27/8/2019).

"Anda bisa menyalahkan Indonesia, Anda bisa mengkritik mereka, tapi kebakaran itu akan tetap ada," sambungnya.

Hal itu disampaikan Mahathir saat menghadiri dialog World Leaders Forum di Columbia University, New York. Dia menjawab pertanyaan apakah sanksi ekonomi atau sorotan komunitas internasional yang bertentangan dengan Indonesia bisa mengatasi masalah asap ini.

Mahathir mengatakan bisa jadi ada saatnya nanti kebakaran hutan menjadi sangat parah hingga seluruh dunia akan diselimuti asap. Jika itu terjadi, menurutnya PBB harus angkat bicara.

"Bila saat itu tiba, PBB bisa jadi berpendapat 'ini bukan lagi masalah nasional, ini adalah masalah bagi dunia dan dunia harus beraksi," ucapnya.

Menurutnya, saat ini PBB tak bisa berbuat apa-apa terkait kebakaran hutan Indonesia. Namun, Mahathir berpendapat cara persuasif bisa dilakukan.

Pemerintah RI Tegaskan Komitmen Tangani Karhutla

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan penanganan karhutla di Indonesia cukup sistematis. Sebanyak 300 juta liter air sudah digunakan untuk memadamkan api dan langkah penegakan hukum sudah dilakukan oleh LHK ataupun Polri.

Dia menambahkan, tingkat pencemaran asap dari Indonesia ke negara tetangga sudah mulai menurun. Tim yang dipimpin Menko Polhukam Wiranto, kata Siti, disebutnya belum ada pembahasan mengenai bantuan negara lain untuk mengatasi karhutla.

"Malaysia diuntungkan dengan posisi musim di mana bibit awan lebih duluan hadir dan cukup banyak. Sementara itu, transboundary haze yang dimulai sejak tanggal 13 September saat ini sudah mulai menipis. Jadi posisinya seperti itu. RI punya tim kerja yang dipimpin Menko Polhukam dan setahu saya belum ada pembahasan tentang bantuan negara lain," tuturnya, Sabtu (21/9).

Penyataan JK di Markas PBB

Sementara itu, Pemerintah Indonesia memastikan upaya pemadaman karhutla telah dilakukan.

''Indonesia sudah mengerahkan 40 helikopter. Terbesar dalam operasi kita,'' kata Wakil Presiden, Jusuf Kalla, di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, Kamis (26/9/2019) waktu setempat.

JK mengatakan asap karhutla sampai ke Malaysia tentunya bukan diatur atau kesengajaan. Tak ada yang dapat mengatur ke mana arah angin membawa asap tersebut.

"Saya selalu katakan, iklim dinikmati orang sedunia. Indonesia sebagai paru-paru dunia, yang menikmati juga Malaysia. Tidak ada negara yang berterima kasih," ucap JK.

Dia mengibaratkan kondisi kebakaran hutan ini seperti rumah tetangga yang terbakar. Tak ada yang bisa menjamin api tidak menyambar ke rumah sebelahnya. Pada kenyataannya, Indonesia dan Malaysia bertetangga.

"Kita tidak bisa atur angin, itu masalah alam. Itu karena kita tetangga. Kalau ada rumah tetangga kebakaran, ya mari kita sama sama bantu padamkan," ujarnya.

JK juga menyinggung perusahaan-perusahaan Malaysia yang beroperasi di lokasi karhutla. Yang pasti, kata JK, Indonesia tak bisa mengatur arah angin yang menyebabkan asap tersebar ke negara lain.

"Ini masalah domestik, kita masih sanggup mengatasi itu. Bahwa efeknya tinggi, tidak ada yang menyangka seperti in," pungkas JK.

Menteri Singapura Soal Kebakaran Hutan di Indonesia

Sementara itu, Singapura menyebut kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah melepas 360 juta ton karbondioksida.

Menteri Singapura untuk Lingkungan dan Sumber Daya Air Masagos Zulkifli mengatakan, kebakaran hutan berdampak besar pada iklim.

''Hilangnya penyerap karbon dalam pembakaran gambut tidak dapat dipulihkan,'' kata Masagos di facebook, Kamis (26/9/2019).

Jumlah emisi kebakaran Indonesia lebih besar dari emisi di Spanyol sepanjang tahun pada tahun 2018.

Masagos menambahkan, kebakaan hutan itu adalah momok untuk Asia Tenggara dan mendesak Indonesia untuk bertindak lebih.

''Singapura tidak akan mentolerir tindakan perusahaan yang salah, yang membahayakan kesehatan dan kehidupan orang-orang di sini dan di negara-negara lain, dan yang menghambat upaya kami untuk memerangi perubahan iklim,'' tegasnya seperti dimuat Channel News Asia.

Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia disalahkan pada teknik tebang-bakar yang dilakukan oleh petani untuk membersihkan lahan pertanian. Kebakaran tersebut menghasilkan kabut asap yang mengganggu Singapura dan Malaysia dalam beberapa minggu terakhir. ***

Editor : Hermanto Ansam
Sumber : detik.com
Kategori : Umum, Lingkungan, Peristiwa

Loading...
www www