Peran CIA dalam Pembentukan Pemerintahan Terpisah dari Jakarta

Peran CIA dalam Pembentukan Pemerintahan Terpisah dari Jakarta
Sumitro Djojohadikusumo (kedua dari kiri) sedang berbincang dengan tokoh-tokoh Permesta, Mayor Dolf Runturambi (kedua dari kanan) dan Letkol H.N. Ventje Sumual (kanan), di Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1957. (Foto Repro Jejak Perlawanan Begawan Pejuang:
Selasa, 17 September 2019 15:52 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Upaya pemerintah pusat meredam pergolakan di Sumatra dan Sulawesi menemui jalan buntu. Pemerintah tak bisa memenuhi tuntutan para panglima daerah. Mereka juga tak mau berkompromi dengan tuntutannya, terutama pulihkan dwitunggal Sukarno-Hatta, ganti pimpinan TNI AD (KSAD Mayjen TNI A.H. Nasution diganti sebagai langkah pertama stabilisasi TNI), otonomi daerah yang luas, dan larang komunisme yang hakikatnya berorientasi internasional.

Sementara itu, Sumitro Djojohadikusumo, mantan Menteri Keuangan, segera menghubungi teman lamanya di Singapura: James Foster Collins.

“Menurut Sumitro, Foster Collins adalah temannya bermain tenis. Dia bekerja bukan di Kedutaan Besar Amerika, melainkan di Kantor PBB,” tulis Hendra Esmara dan Heru Cahyono dalam biografi Sumitro Djojohadikusumo, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang.

Pensiunan Laksamana Muda itu, seperti ditulis Hendri F. Isnaeni dan dipublikasikan historia.id, September 2019, berkantor di sebuah rumah yang terletak tak jauh dari Puncak Pass, Bogor.

James Foster Collins lahir pada 19 Januari 1922 di West Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Dia mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Yale. Dia kemudian menjadi perwira Angkatan Laut selama Perang Dunia II. Usai perang, dia bekerja sebagai asisten peneliti di Komisi Energi Atom Senat Amerika Serikat.

Setelah itu, Collins menjadi pejabat bidang politik di Sekretariat PBB. Dia ditugaskan di Indonesia pada sekretariat Komisi Tiga Negara yang dibentuk PBB untuk menengahi konflik Indonesia dan Belanda. Collins kemudian menjadi kepala stasiun CIA di Singapura.

Menurut Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, walaupun Sumitro merupakan saluran utama para pembangkang kepada pendukung luar negeri, para pemimpin militer lain, Kolonel Maludin Simbolon, Letkol H.N. Ventje Sumual, Kolonel Zulkifli Lubis, juga bertemu dengan agen intelijen Amerika; barangkali juga kemudian Letkol Achmad Husein.

“Pada akhir Desember 1957 Kolonel Simbolon dan rekannya sesama pemimpin militer di Sumatra, Letnan Kolonel Sjoeib, bertemu Kepala Kantor CIA Singapura James Foster Collins guna membicarakan bantuan militer Amerika kepada para pemberontak,” tulis sejarawan Baskara T. Wardaya dalam Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin, 1953-1963.

Ventje Sumual juga mengakui bertemu dengan Collins yang awalnya hanya mengenalnya sebagai konsul jenderal Amerika di Singapura. “Belakangan saya tahu dia kepala kantor CIA di sana,” katanya dalam Tempo, 7 Desember 2008.

“Waktu itu saya berterus terang saja, kami perlu senjata,” kata Sumual. Collins langsung menyanggupi. “Saya kaget ketika dia bilang, ‘It’s all free’, semuanya gratis, tanpa syarat,” kata Sumual.

Menurut Baskara merasa yakin akan bantuan Amerika Serikat, pada 9-10 Januari 1958 para pemimpin pemberontak mengadakan pertemuan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, dengan tujuan mematangkan rencana pemberontakan. Akhirnya, pada 10 Februari 1958, Kolonel Achmad Husein mengultimatum pemerintah pusat agar Kabinet Djuanda mengundurkan diri, Mohammad Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX ditunjuk sebagai formatur kabinet baru, dan Sukarno melanjutkan posisinya sebagai presiden konstitusional dan mendukung kabinet yang baru.

Pemerintah pusat menolak ultimatum itu. KSAD Mayjen TNI A.H. Nasution memecat para pemimpin pemberontak. Penolakan dan pemecatan itu membuat mereka mendeklarasikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 15 Februari 1958. Dua hari kemudian, Permesta menyatakan dukungan kepada PRRI dan pemisahan dari pemerintah pusat.

“Menjadi nampak bahwa dukungan CIA telah membuat para pemberontak berani untuk membentuk sebuah pemerintahan yang terpisah dari Jakarta. Hal ini tentu saja bukanlah sebuah keputusan yang terpisah, melainkan merupakan bagian dari skenario besar Amerika terhadap Indonesia,” tulis Baskara.

Menurut Hendra dan Heru, memang benar para pemberontak menjalin kontak dengan CIA dan mendapatkan pasokan senjata, namun Sumitro menolak keras tuduhan bahwa dia orang CIA. Sebab, menurutnya sebagaimana gerakan bawah tanah, kontak juga dilakukan dengan intelijen-intelijen lain seperti intelijen Korea dan Prancis.

"Saya tahu George Kahin, profesor dari Universitas Cornell, mengidentifikasi saya sebagai agen CIA. Dia benar-benar ngawur. Banyak orang CIA justru membenci saya sebab saya nggak mau terlalu tunduk. Mereka kan mau mandori alias mendikte. Saya menolak didikte. Kalau mau kerja sama oke-lah, tinggal tukar pikiran dan informasi. Tapi, tidak hanya dengan Amerika, dengan intelijen dari Malaysia saya juga bina hubungan. Demikian pula dengan intelijen dari Thailand," kata Sumitro.

Sumual juga membantah bahwa para pentolan PRRI/Permesta adalah agen CIA. “Saya paham, banyak orang salah persepsi,” kata Sumual kepada Tempo. “Amerika membantu kami demi mengamankan kepentingannya. Kalau kemudian Amerika meninggalkan kami dan membantu jenderal di Jakarta, itu juga demi kepentingan negara mereka sendiri.”

Dukungan SIS

Ternyata, intelijen Inggris, Secret Intelligence Service (SIS atau lebih dikenal dengan MI6) juga terlibat dalam membantu CIA mendukung pemberontak. James Foster Collins mengungkapkan kepada Maurice Oldfield, kepala stasiun SIS di Singapura, tentang rencana CIA membiayai dan mempersenjatai para perwira pemberontak di Sumatra yang akan menyebabkan masalah pada Sukarno.

Menurut Tom Bower dalam The Perfect English Spy: Sir Dick White and the Secret War, 1935-90, respons Oldfield antusias. Apalagi dia telah berhubungan dengan Sumitro Djojohadikusumo dan dua politisi senior lainnya.

“Proposal Foster Collins untuk membiayai dan mempersenjatai para kolonel di Sumatra ($30.000 setiap kolonel dan $100.000 untuk partai politik mereka) dikirim oleh Oldfield ke London untuk minta persetujuan,” tulis Bower.

Namun, proposal itu ditolak oleh Kepala SIS, Dick White. Bahkan, dengan dukungan Kementerian Luar Negeri, Oldfield diperintahkan membatasi diri untuk “netral”. Maurice Harold Macmillan kemudian turun tangan. Ketika mengunjungi Washington, sang Perdana Menteri Inggris diminta oleh Presiden Dwight D. Eisenhower untuk membantu para pemberontak.

“Tanpa diketahui SIS, tim CIA sudah beroperasi di Sumatra dan telah membangkitkan pemberontakan,” tulis Bower. “Bantuan SIS diperlukan untuk memasok para pemberontak. Macmillan setuju.”

Stasiun SIS di Singapura menerima perintah baru diawali dengan frasa: “Perdana Menteri telah setuju…” Stasiun itu menyediakan “fasilitas lengkap” kepada CIA. Di bawah arahan Oldfield, pesawat angkut Amerika yang diawaki pilot Polandia terbang dari Filipina, diam-diam mengisi bahan bakar di pangkalan RAF (Royal Air Force) di Bandara Changi. Lambang Amerika dihapus sebelum terbang di atas Sumatra untuk menjatuhkan senjata kepada para pemberontak. Selain lewat udara, persenjataan juga dikirim dengan kapal USS Thomaston yang dikawal kapal selam USS Bluegill.

“Dalam lima bulan, operasi CIA gagal dengan memalukan,” tulis Bower.

Setelah selesai menjabat kepala stasiun CIA di Singapura, James Foster Collins kembali ke Amerika. Dia kemudian bekerja di Badan Keamanan Nasional, Departemen Luar Negeri, dan Departemen Keuangan. Dia pensiun pada akhir Juni 1982. Collins, meninggal dunia pada 4 September 2002.***


Loading...
www www