Loading...

1.231 Titik Api Terdeteksi di Sumatera, BMKG: Pencemaran Udara di Pekanbaru Kategori Berbahaya

1.231 Titik Api Terdeteksi di Sumatera, BMKG: Pencemaran Udara di Pekanbaru Kategori Berbahaya
Ilustrasi kabut asap Riau. (Istimewa)
Jum'at, 13 September 2019 20:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta kepada masyarakat untuk terus mewaspadai sebaran asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Indonesia khususnya Sumatera dan Kalimantan.

Karena berdasarkan hasil pemantauan citra Satelit Himawari-8 dan analisis Geohotspot BMKG, akumulasi jumlah titik panas tanggal 12 September 2019 yang dirilis tanggal 13 September 2019 dengan frekuensi 1, di wilayah Sumatera terpantau 1.231 titik.

Demikian diungkapkan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, melalui siaran persnya, Jumat (13/9/2019) di Jakarta.

"Selain sumatera, jumlah titik api juga terpantau di Kalimantan sebanayak 1.865 titik, di Semenanjung Malaysia 412 titik dan Serawak- Sabah 216 titik panas.

"Mulai pagi tadi, asap terdeteksi sudah sampai ke Semenanjung Malaysia," tukasnya.

Hasil pemantauan kondisi kualitas udara wilayah karhutla yang dilakukan BMKG, titik pemantauan partikel pencemar udara ukuran 10 mikron (PM10) di wilayah Pekanbaru Sumatera dalam kategori berbahaya yang menyentuh angka hingga mencapai 404,71 µg/m3 pada jam 12 siang.

"Sedangkan di wilayah Pontianak Kalimantan Barat dikategorikan dalam kondisi sedang dengan besaran konsentrasi 95,89 µg/m3 pada saat yang sama," ujarnya.

Pada tanggal 13 September 2019 jam 08.00 WIB mulai terdeteksi adanya sebaran asap yang memasuki wilayah Semenanjung Malaysia dan wilayah Serawak. "Kondisi ini dimungkinkan karena adanya angin yang bertiup dari arah tenggara menuju ke Barat Laut. BMKG terus melakukan pemantauan sebaran asap setiap jam," urainya.

Menurutnya, kepedulian seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan sangat diperlukan, mengingat potensi terjadinya titik panas dan asap diprediksi masih dapat berlangsung hingga pertengahan Oktober, seiring dengan masih berlangsungnya periode musim kemarau di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan.

"Oleh karena itu, sejak bulan Juli yang lalu hingga saat ini BMKG terus memprediksi potensi kemudahan lahan terbakar, serta memonitor titik-titik panas dan sebaran asap," pungkasnya.***

Kategori : Pemerintahan, Peristiwa, Umum

Loading...
www www