Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Soal Bantuan Karyawan dengan Upah di Bawah Rp5 Juta, Ini Catatan Komisi XI
GoNews Group
14 jam yang lalu
Soal Bantuan Karyawan dengan Upah di Bawah Rp5 Juta, Ini Catatan Komisi XI
2
Usai Diajak Nonton Video Porno, Gadis 18 Tahun Digilir 4 Pria dan Dibiarkan Terkapar di Halaman Rumah
Peristiwa
12 jam yang lalu
Usai Diajak Nonton Video Porno, Gadis 18 Tahun Digilir 4 Pria dan Dibiarkan Terkapar di Halaman Rumah
3
Ekonomi Anjlok, Wakil Ketua MPR: Bukti Kebijakan Pemerintah Tak Efektif
GoNews Group
13 jam yang lalu
Ekonomi Anjlok, Wakil Ketua MPR: Bukti Kebijakan Pemerintah Tak Efektif
4
Total 118.753 Orang, 1.882 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 29 Provinsi, Ini Rinciannya
Kesehatan
8 jam yang lalu
Total 118.753 Orang, 1.882 Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 29 Provinsi, Ini Rinciannya
5
Memilukan, Buruh Tani Terpaksa Curi HP Agar Putrinya Kelas I MTs Bisa Belajar Online
Peristiwa
8 jam yang lalu
Memilukan, Buruh Tani Terpaksa Curi HP Agar Putrinya Kelas I MTs Bisa Belajar Online
6
Daripada Ribut, Abdul Fikri Faqih: Alihkan Anggaran POP Untuk Internet Gratis
GoNews Group
10 jam yang lalu
Daripada Ribut, Abdul Fikri Faqih: Alihkan Anggaran POP Untuk Internet Gratis
Loading...
Home  /   Berita  /   GoNews Group

Sebut Surat Awalnya Gelondongan, Formappi Tegas Desak Kinerja Sekjen DPD Dievaluasi

Sebut Surat Awalnya Gelondongan, Formappi Tegas Desak Kinerja Sekjen DPD Dievaluasi
Sekjen DPD RI, Reydonnyzar Moenek saat Konferensi Pers di Kantor BK DPD RI. (GoNews.co/Muslikhin)
Rabu, 21 Agustus 2019 16:00 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Sekjen DPD RI, Reydonnyzar Moenek mengakui terjadi kekeliruan soal undangan DPD RI ke Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Ratu Hemas untuk di Sidang Tahunan bersama DPR/MPR/DPD pada Jum’at (16/8/2019) lalu.

Atas kekeliuran itu, jadi alasan Donny sapaan akrab Reydonnyzar Moenek melakukan pembatalan undangan kepada GKR Hemas. "Ini berawal (banyaknya surat) gelondongan. Undangan yang sudah terkirim ke Ibu Ratu Hemas. Kemudian kami berkirim surat kepada Ibu Ratu Hemas dan Sekjen MPR RI untuk memberitahukan, bahwa undangan yang sudah terkirim ke ibu Ratu Hemas ditarik kembali dan tidak berlaku,” ujar Donny kepada wartawan di Ruang Badan Kehormatan DPD RI, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Dijelaskannya, ada ribuan undangan gelondongan dan kemudian dilakukan tahap akhir atau penyisiran dikelompokkan berdasarkan tata urut keprotokalan dan didistribusikan.

Namun Donny saat ditanya wartawan soal dirinya mencari pembenaran, lantaran tidak mengakui kesalahan, karena anggota yang sudah diberhentikan sudah jelas-jelas oleh Badan Kehormatan (BK) DPD RI mengapa namanya masih lolos, sekalipun surat sudaj ditarik, Donny, membantah dan tidak mengakui telah terjadi kesalahan. "Ini bukan mencari pembenaran," katanya.

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus mengatakan, setiap kesalahan kekeliruan administratif yang dilakukan oleh pejabat negara, apalagi Kesekjenan suatu lembaga negara harus mendapat sanksi berupa evaluasi.

"Setiap kesalahan serius yang dilakukan oleh Pejabat, yang memunculkan persoalan tata negara, sudah seharusnya dievaluasi. Kerja sekjen itu harus berdasarkan aturan, bukan pesanan pihak tertentu," kata Lucius kepada wartawan, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Lucius mengungkapkan, ada beberapa kemungkinan terkait pencabutan nama GKR dari daftar undangan Sidang Tahunan MPR/DPD. Pertama, klaim pemecatan yang dilakukan oleh BK DPD nampaknya tak dikoordinasi dengan jajaran kesekretariatan DPD yang membuat sekjen DPD masih tetap mencatat Ratu Hemas sebagai anggota DPD.

Kecolongan Surat Undangan, Kinerja Sekjen DPD RI Dipertanyakan
Kedua, lanjut Lucius, bisa juga pemecatan itu memang cacat secara prosedural maupun substantif. Oleh karena itu, keputusan pemecatah itu tak bisa dieksekusi oleh Kesekjenan DPD. Menurutnya, Kesekjenan pasti paham prosedur administratif soal pemberhentian anggota.

"Kalau sekjen hanya menjadi "kaki tangan" pihak lain, saya kira tak ada alasan untuk mempertahankannya," pungkas Lucius.***


Loading...
www www