'Chimera' Nama Virus di MI2, Hibrida yang Dikembangkan di Jepang

Chimera Nama Virus di MI2, Hibrida yang Dikembangkan di Jepang
Embrio Chimera manusia-hewan. (Getty Images)
Kamis, 15 Agustus 2019 09:09 WIB
JEPANG - "Chimera", nama sebuah virus mematikan yang menjadi objek misi Ethan Hunt dalan 'Mission Impossible 2', ternyata adalah nama Yunani kuno untuk hibrida antara manusia dan hewan.

Makhluk bernama Chimera ini, tengah diupayakan agar tak lagi sebatas mitologi ataupun materi kisah fiksi, setelah pemerintah Jepang menjadi pihak pertama yang mengizinkan tim peneliti untuk tidak hanya membiakkan organ manusia di dalam embrio binatang, tetapi membolehkan embrio ini dilahirkan.

Penelitian yang dipimpin Hiromitsu Nakauchi, dari Universitas Tokyo dan Stanford, melibatkan penyuntikan sel punca manusia pada tikus yang telah direkayasa, dan dapat diprogram ulang untuk mengembangkan pankreas.

Embrio kemudian akan dicangkokan pada binatang pengganti. Tujuan utama Nakauchi adalah agar binatang dapat membiakan organ manusia yang dapat dicangkokan pada manusia.

Sebelumnya, Jepang mewajibkan para peneliti untuk membunuh embrio binatang yang dicangkokan sel manusia setelah 14 hari dan melarang embrio tersebut ditempatkan dan tumbuh pada rahim binatang.

Tetapi pembatasan tersebut telah dicabut, sehingga memungkinkan para peneliti untuk mendapatkan izin bagi proyek penelitian.

Tujuan para peneliti adalah memasok organ manusia bagi pencangkokan, terutama yang sedikit persediaannya - seperti pankreas. Jadi, Chimera yang kini dikembangkan di Jepang untuk pengobatan, beda dengan Chimera di film aksi MI2 yang tak lain hanyalah virus mematikan.

Pada tahun 2017, Nakauchi berhasil menyembuhkan tikus berpenyakit diabetes dengan cara menumbuhkan pankreas tikus sehat pada embrio tikus sebelum dicangkokkan pada tikus sakit.

Penelitian ini, juga hampir dipastikan terkontrol penuh sehingga potensi lahirnya binatang berwajah manusia tak akan pernah terjadi. Kepada BBC, Nakauchi mengatakan, begitu seluruh masalah administrasi rampung, dia akan memulai penelitian pada bulan September 2019.

Pada sebuah percobaan yang dilakukan di Universitas Stanford, California sebelumnya, Nakauchi telah menempatkan sel punca manusia pada telur domba yang telah dibuahi dan mencangkokan embrio pada domba.

Embrio kemudian dibunuh setelah berkembang selama 28 hari. Di dalam embrio hanya terdapat sedikit sel manusia dan ciri manusia tidak tumbuh, kata Nakauchi kepada koran Asahi Shimbun.

"Jumlah sel manusia yang tumbuh di dalam tubuh domba sangatlah sedikit, sekitar satu dari seribu atau satu dari puluhan ribu. Pada tingkat itu, seekor binatang dengan wajah manusia tidak akan pernah dilahirkan," kata Nakauchi.

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Sumber:BBC Indonesia
Kategori:GoNews Group, Umum, Ekonomi

wwwwww