Loading...
Home >  Berita >  Politik

Meski MOS Sering Menelan Korban Jiwa, DPR Anggap Masih Perlu Guna Mendidik Disiplin Siswa

Meski MOS Sering Menelan Korban Jiwa, DPR Anggap Masih Perlu Guna Mendidik Disiplin Siswa
Senin, 15 Juli 2019 16:26 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Meski sudah sering menelan korban, Masa Orientasi Siswa (MOS) dianggap masih perlu dipertahankan untuk mendidik kedisiplinan siswa di sekolah.

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi X DPR RI, dari Fraksi PKB, Arzety Bilbina menanggapi kasus meninggalnya siswa SMA Taruna Indonesia, Delwyn Berli (14) saat mengikuti MOS sekolah di Palembang, Sabtu (13/7/2019) kemarin.

"Pertama saya ikut prihatin dengan musibah tersebut. Namun MOS sendiri sejatinya semua kontrol ada di pihak sekolah. Secara langsung saya sudah melihat proses MOS di sekolah anak saya kemarin, kegiatanya sangat positif," ujarnya saat dihubungi GoNews.co, Senin (15/7/2019).

"Jadi intinya tergantung kontrol sekolah, MOS ini jangan sampai jadi alat untuk perpeloncoan," tegasnya.

Sejatinya kata Arzety, MOS harus dijadikan atau dimanfaatkan sebagai sarana untuk memaparkan visi dan misi sekolah, serta mengajarkan disiplin baik di sekolah maupun di rumah.

"Anak-anak ini kan dari latar belakang yang berbeda, disinilah momentum menyatukan mereka dalam menghadapi proses belajar di sekolah," tandasnya.

Tujuan didakanya MOS itu sendiri kata dia, untuk mengenalkan peserta didik dalam lingkungan belajar yang baru agar memiliki kesiapan belajar yang baik.

"Mereka dikenalkan tentang fasilitas belajar, strategi belajar, kurikulum, tata tertib siswa, kultur akademik, pendidik dan tenaga kependidikan, serta teman-teman, baik seangkatan, maupun kakak-kakak kelasnya," pungkasnya.

Untuk diketahui, pada Sabtu kemarin, seorang siswa SMA Taruna Indonesia, Delwyn Berli (14) meninggal dunia saat mengikuti MOS sekolah.

Dia diantar ke sekolah dan pulang dalam kondisi meninggal dunia. Keluarga pun berharap korban memiliki mental seperti sang ayah yakni pelayar.

Masuk SMA Taruna memang sudah jadi keinginan korban sejak masih di SMP 1 Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir (OKI).

Herman, sang paman menyebutkan, fisik keponakannya itu sangat baik. Bahkan sebelum MOS, korban sempat menjalani pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan sehat.

Selain itu, korban disebut sangat aktif semasa duduk masih di SMP. Bahkan, prestasinya ketika mengikuti kegiatan Pramuka dan bela diri pencak silat tak perlu diragukan lagi.

"Orangnya aktif di sekolah, prestasinya banyak. Aktif Pramuka dan bela diri ya. Jadi kalau dibilang dia lemah itu nggak mungkin, makanya kami kaget" imbuh Herman.

Lebih lanjut, keluarga baru mengetahui korban tewas saat Kepala Sekolah SMA Taruna, Tarmizi menghubungi orang tua korban, Sabtu (13/7) Pukul 04.00 WIB dini hari. Padahal orang tua korban, satu hari sebelumnya sempat menghubungi pihak sekolah karena ada firasat buruk.

"Sempat dihubungi, tapi yang ngangkat staf sekolah. Katanya suruh hari ini aja langsung jemput karena ini kan terakhir MOS. Nggak nyangka kalau jemputnya dalam kondisi meninggal begini," imbuh Herman.

Ibu kandung korban yang tidak terima, langsung melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian. Dalam laporannya itu, keluarga menduga korban tewas akibat penganiayaan. Bahkan ada luka memar di tubuh korban.

Sementara dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim forensik RS Bhayangkara Polda Sumsel melalui dr Indra Sakti Nasution menyebut banyak luka di tubuh korban.

"Saya tidak hitung pasti jumlahnya, tapi lumayan banyak luka di tubuh si korban. Ada luka lebam di kepala, dada sama di kaki," ujar Indra di RS Bhayangkara, Sabtu (13/7/2019).***


Loading...
www www