Setuju Ada Regenerasi Parpol, Tapi Maruar Sirait Tetap Dukung Megawati Sebagai Ketum PDI-P

Setuju Ada Regenerasi Parpol, Tapi Maruar Sirait Tetap Dukung Megawati Sebagai Ketum PDI-P
Kamis, 20 Juni 2019 16:08 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Regenerasi Partai Politik dianggap penting guna menyiapkan para pemimpin handal baik di internal partai maupun pemimpin bangsa. Namun beberapa parpol masih terkesan basa-basi terhadap para kader muda dan tetep mempertahankan senior dalam kepengurusan parpol itu sendiri.

Sebelumnya, beredar kabar sejumlah Partai Politik akan melakukan regenerasi dengan memberikan tongkat kepemimpinan pengurus ke genereasi baru. Sebut saja partai Demokrat, yang sempat menggadang-gadangkan AHY sebagai Ketua Umum partai berlambang bintang mersi itu.

Kemudian sempat menyeruak isu pergantian Ketua Umum PDI-P, dari Megawati ke puteranya yakni Prananda Prabowo. Namun hingga saat ini, baik Demokrat maupun PDI-P, justeru masih mempertahankan sosok SBY dan Megawati sebagai Ketum.

Menanggapi hal tersebut, Politisi PDIP Maruarar Sirait mengatakan, regenerasi itu adalahsuatu hal yang sangat positif. Namun bagi dia, dalam berpolitik juga butuh sosok yang ideologis dan memiliki track record serta memiliki prestasi yang menjadi parameternya.

"Saya mengurus partai sudah 4 priode, dimulai dari DPD di Jabar hingga ke DPP selam 2 priode 2005-2015. Namun sesudah itu saya tak lagi menjadi pengurus partai. Itu artinya saya memberikan kesempatan buat kader PDI-P yang lain. Di PDI-P, kami punya ciri khas sendiri, dan kita terkadang tidak memerlukan dan tidak bisa memaksa orang lain faham tentang apa yang ada di rumah tangga kita," ujarnya saat menjadi narasumber dalam diskusi Dialektika Demokrasi
dengan Tema 'Regenerasi Parpol, Hanya Basa-Basi atau Harga Mati', Kamis, (20/6/2019) di Media Center Parlemen, Jakarta.

Menurutnya, gabungan antara figur, sejarah, psikologis suasana kebatinan, tradisi dan juga kebutuhan kedepan di setiap partai menjadi suati hal yang secara pilosofis, fundamental dan kekinian menjadi menjadi satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan.

Itulah mengapa pihak PDI-P memiliki cara tersendiri dalam regenerasi partainya."Karena kalau kita pisahkan akan membuat kita kehilangan satu orientasi.

Kita enggak bisa hanya bicara soal kedepan tanpa melihat apa yang sudah terjadi kebelakang dan saat ini, terlalu spekulatif kalau kita melihat seperti itu apalagi kalau kita melihat sejarah partai yang cukup banyak pecahannya kader atau tokohnya membuat yang membuat partai partai baru," tandasnya.

Setidaknya kata Maruar, ada 5 alasan kenapa dirinya kembali mendukung Mega kembali menjadi ketua Umum PDI-Perjuangan. Pertama adalah alasan ideologi. "Hari ini Indonesia ada dalam situasi politik yang sangat rawan. Masalah radikalisme, masalah persatuan bangsa menjadi isu yang sangat kuat sekarang, kita tahu dalam kehidupan sehari-hari teman-teman sekolah, tetangga, kita bisa merasakannya," tandasnya.

Kedua kata dia adalah alasan soal soliditeri maker. Mega adalah orang yang bisa diterima karena punya sejarah panjang dengan Gus Dur dalam memperjuangkan demokrasi. "Demokrasi Indonesia tidak datang tiba-tiba dan tidak banyak yang berani memperjuangkan itu, akibat dari demokrasi yang diperjuangkan kita nikmati sekarang, media bisa mengkritik apa saja selama tidak melanggar undang-undang, orang bisa berdemo dan sebagainya yang dulu merupakan sesuatu yang sangat mahal dan langka, interupsi DPR sesuatu yang biasa, dibanding dulu," tukasnya.

Yang ketiga, Mega menurutnya masih sehat. Saat orang yang umur 40-50 sudah sakit-sakitan, Mega masih bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri. Keempat soal aspirasi. "Sebagai politisi tentu kita harus mendengar aspirasi baik dari akar rumput, Ibu Mega mempersatukan dari dalam dan mas Jokowi menurut saya adalah magnet elektoral yang bisa menambah suara.

Jadi itu penting sekali, kita punya dua tokoh yang kompak dan solid, tidak banyak partai yang memiliki aset seperti PDI-Perjuangan yang punya ideologi, punya sejarah, punya akar rumput dan punya tokoh yang kuat," bebernya.

Dan yang kelima adalah prestasi. "Jadi 5 alasan ini yang membuat kami di PDIP perjuangan paling tidak, saya melihat regeneras itu dimaknai juga dengan keberhasilan Megawati melahirkan kader di eksekutif seperti Jokowi, Ganjar, Risma, kemudian di legislatif ada Eva, Budiman, Ganjar, Rieke, Arif Wibowo dan orang-orang yang sangat berkualitas," pungkasnya.***


Loading...
www www