Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakyat Menjerit, Misharti Desak Jokowi Tarik Perpres 64/2020
Politik
15 jam yang lalu
Rakyat Menjerit, Misharti Desak Jokowi Tarik Perpres 64/2020
2
Bak 'Kuburan', Hari Pertama Lebaran, Objek Wisata TMII Lengang
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Bak Kuburan, Hari Pertama Lebaran, Objek Wisata TMII Lengang
3
Tiga Kabupaten di Riau Klaim Sudah Bebas Covid-19
Kesehatan
3 jam yang lalu
Tiga Kabupaten di Riau Klaim Sudah Bebas Covid-19
4
Tak Punya SIKM Jangan Coba-coba Masuk Jakarta, Dipaksa Putar Balik
Pemerintahan
3 jam yang lalu
Tak Punya SIKM Jangan Coba-coba Masuk Jakarta, Dipaksa Putar Balik
5
Lebaran Idul Fitri, Harga Ayam Potong di Pekanbaru Naik Rp30 Ribu Per Kilo
Ekonomi
3 jam yang lalu
Lebaran Idul Fitri, Harga Ayam Potong di Pekanbaru Naik Rp30 Ribu Per Kilo
6
Panduan Covid-19 di Tempat Kerja, Saleh Daulay: Keputusan Menkes Basi
Politik
2 jam yang lalu
Panduan Covid-19 di Tempat Kerja, Saleh Daulay: Keputusan Menkes Basi
Loading...
Home  /   Berita  /   Umum

Keluarga Besar Hazairin Tak Kuasa Menitikkan Air Mata saat Sandi Takziah ke Rumahnya

Keluarga Besar Hazairin Tak Kuasa Menitikkan Air Mata saat Sandi Takziah ke Rumahnya
Sandiaga Uno saat Takziah di Pekanbaru. (Dok. BPN)
Sabtu, 18 Mei 2019 14:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
PEKANBARU - Rasa haru mendalam masih membayangi keluarga besar Hazairin (55) Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 29 Kelurahan Delima yang meninggal dunia 29 April 2019 lalu. Meski sudah hampir sebulan, rasa kehilangan kepala keluarga, masih menggayuti perasaan keluarga yang ditinggalkan.

Air mata pun kian berlinang ketika Calon Presiden nomor urut 2, Sandiaga Salahudin Uno bertakziah ke kediaman mereka.

Pilunya hati terlihat sesaat Sandi menginjakkan kaki di kediaman almarhum, Jalan Tanjung Pondok Ratu, Blok A1, Kelurahan Delima, Kecamatan Tampan, Kota Palembang, Sumatera Selatan pada Sabtu (18/5/2019) siang.

Keluarga korban, khususnya sang istri Yunita tidak berhenti menangis, begitu juga dengan dua dari empat anaknya, yakni Febi dan Inging. Keduanya ditenangkan oleh tetangga dan keluarga yang berkumpul di situ

Dedikasi almarhum sebagai Ketua KPPS terbukti nyata. Pada hari pencoblosan, almarhum sudah tiba di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada pagi hari. Ketika itu, para anggota KPPS meminta agar almarhum beristirahat, namun almarhum bersikeras ingin menunaikan tugas.

"Sudah diminta untuk istirahat saja. Hanya saja almarhum selaku Ketua KPPS tak mau meninggalkan begitu saja pekerjaannya. Dia tetap bekerja walau kondisinya sudah sakit," kata Yunita.

Mendengar kisah perjuangan Almarhum, Sandi berharap agar perjuangan Hazairin dan seluruh anggota KPPS yang meninggal dunia dapat menjadi penerang untuk menuju surga. Perjuangan mereka pun diharapkannya dapat menjadi pengingat bahwa pilar demokrasi harus tinggi ditegakkan.

"Saya secara pribadi sekaligus mewakili pak Prabowo serta seluruh tim menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian almarhum. Semoga perjuangan almarhum diridhoi Allah dan semangat agar tiang demokrasi yang ditegakkan," ungkap Sandi.***

Kategori : Umum, Pemerintahan, Politik

Loading...
www www