Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tenaga Medis Disebut Lari Takut Corona, Mogok lalu Dipecat
GoNews Group
23 jam yang lalu
Tenaga Medis Disebut Lari Takut Corona, Mogok lalu Dipecat
2
Rakyat Menjerit, Misharti Desak Jokowi Tarik Perpres 64/2020
Politik
12 jam yang lalu
Rakyat Menjerit, Misharti Desak Jokowi Tarik Perpres 64/2020
3
Pembobol 11 Mesin ATM Dihadiahi Timah Panas
GoNews Group
22 jam yang lalu
Pembobol 11 Mesin ATM Dihadiahi Timah Panas
4
Tenaga Medis Covid-19 di Papua Tewas Dibedil
GoNews Group
24 jam yang lalu
Tenaga Medis Covid-19 di Papua Tewas Dibedil
5
Bak 'Kuburan', Hari Pertama Lebaran, Objek Wisata TMII Lengang
Pemerintahan
20 jam yang lalu
Bak Kuburan, Hari Pertama Lebaran, Objek Wisata TMII Lengang
6
Tak Punya SIKM Jangan Coba-coba Masuk Jakarta, Dipaksa Putar Balik
Pemerintahan
38 menit yang lalu
Tak Punya SIKM Jangan Coba-coba Masuk Jakarta, Dipaksa Putar Balik
Loading...
Home  /   Berita  /   GoNews Group

Petugas Pemilu banyak Meninggal Dunia, MER-C Ancam Laporkan KPU ke Pengadilan Internasional

Petugas Pemilu banyak Meninggal Dunia, MER-C Ancam Laporkan KPU ke Pengadilan Internasional
Rabu, 15 Mei 2019 22:05 WIB
JAKARTA - Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengancam untuk melaporkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) ke pengadilan internasional yakni International Criminal Court (ICC) atau International Court of Justice (ICJ) dan United Nation Human Right Council (UNHRC).

Pembina MER-C Joserizal Jurnalis menyampaikan, KPU abai dengan banyaknya korban meninggal dari petugas Pemilu 2019. Lembaga tersebut terkesan tidak peduli dan melakukan pembiaran sehingga korban terus bertambah.

"Jadi ada pembiaran terhadap jatuhnya nyawa manusia. Ini yang akan jadi bahan bagi kita yang akan kita ajukan kepada UNHRC yang kantornya di Jenewa dan kepada ICJ dan ICC nanti ahli hukum kita yang akan menerangkan," tutur Joserizal di Kantor MER-C, Jalan Kramat Lontar, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (15/5).

Menurut Joserizal, alam dunia internasional sikap KPU dapat masuk kategori Crime Against Humanity atau kejahatan kemanusiaan.

Pihaknya pun telah melakukan audiensi dengan KPU dan Bawaslu. Hanya saja, tidak ada respon positif yang diberikan oleh lembaga penyelenggara pemilu itu.

"Terkesan tidak punya sense of crisis dan sense of emergency," jelas dia.

Bukti dari pembiaran KPU atas jatuhnya korban jiwa dari ratusan petugas Pemilu 2019 di antaranya, korban terus meningkat jumlahnya, tidak ada asuransi untuk petugas, dan proses rekruitmen yang tidak proper.

Hal itu tampak dari dikesampingkannya surat kesehatan dari Puskesmas saat penugasan. Kemudian ketika menjadi korban, tidak jelas pembiayaannya.

"Kita sampai di KPU ngomong kalau ada pasien yang butuh, dari daerah, MER-C deh yang tanggung biaya pesawatnya. Tapi untuk ICU, KPU yang tanggung," ujar Joserizal.

Jika laporan itu tembus, diharapkan ada putusan hukum yang bersifat internasional kepada KPU. Hal itu pun bisa menjadi landasan evaluasi untuk Pemilu yang akan datang.

"Yang kita harap semoga KPU serius. Kalau KPU serius kita tidak jadi lah ajukan. Misalkan dia keluarkan statement serius, maka kami tidak jadi. Tapi kalau KPU-nya ngeyel, ya kita terusin. Kita tidak takut soal pemilihan, ini soal manusia lho," tutup Joserizal.***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : Merdeka.com
Kategori : GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik

Loading...
www www