Dibalik Dugaan Pengeroyokan terhadap Kader PBB

Dibalik Dugaan Pengeroyokan terhadap Kader PBB
Tim Advokat PAS Lantang bersama Ali Wardi dan Ridwan Umar (korban) beserta saksi, tiba di Polres Jakarta Selatan pada Senin (21/01/2019) sekira pukul 14.00 WIB. (Dzulfiqar/GoNews.co)
Selasa, 22 Januari 2019 16:14 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Dua orang kader Partai Bulan Bintang (PBB) bernama Ali Wardi dan Ridwan Umar, menjadi korban dugaan pengeroyokan 30-an orang tak dikenal di kantor DPP PBB, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Sabtu (19/01/2019).

Sinyal informasi publik terkait insiden ini bermula dari postingan media sosial Facebook akun Dedi Suhardadi yang menyebutkan, "Pk 23.35, RS. Pusat Pertamina, sedang menunggu kawan yang sedang dirontgen untuk mengetahui potensi luka dalam kawan saya yang dikeroyok oleh orang-orang biadab,".

Ali Wardi dan Ridwan Umar, kemudian melaporkan insiden tersebut ke Polres Jakarta Selatan pada Senin (21/09/2019) dengan bukti visum dari RSPP. Laporan mereka tertuang dalam surat laporan polisi bernomor LP/173/K/I/2019/PMJ/Resort Jaksel. Dalam dokumen itu tertera nama terlapor adalah Yosep Ferdinan alias Sinyo Cs.

Vokalitas Ali Wardi di PBB

Salah satu korban, Ali Wardi, mengaku sebagai kader PBB yang juga pernah menjabat Wakil Ketua DPC Kab. Bogor. Pengakuannya juga Ia kuatkan dengan menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PBB bernomor 3201.000.011 yang dicetak 05 Oktober 2016.

Ali Wardi mengaku sadar dirinya menjadi sorotan karena sikapnya yang tegas di internal partai soal arah dukungan PBB dalam Pilpres 2019. Ali berharap PBB konsisten mendukung paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagaimana PBB konsisten berada di barisan partai pendukung Ijtima Ulama.

Di luar PBB, Ali Wardi juga aktif terlibat di Prabowo-Sandi Bulan Bintang (PASS LANTANG) dengan jabatannya sebagai Sekretaris Koordinatir Nasional (Sek Kornas) yang tentu mendukung Prabowo-Sandi dalam helatan Pilpres 2019.

Sikap vocal dan ketegasannya di PBB yang berbasis Islam, juga tercermin dengan surat yang Ia kirim ke DPP PBB terkait dugaan perilaku amoral salah satu oknum kader PBB, beberapa waktu lalu.

"Majelis Syuro, DPP," kata Ali melalui pesan Whatsapp, Senin (21/01/2019), ketika ditanya perihal penerima laporannya tersebut.

Sementara itu, Ridwan Umar yang juga hadir saat pelaporan di Polres Jakarta Selatan, mengaku minim info terkait laporan Ali soal dugaan perilaku amoral oknum kader.

"Saya tidak tahu-menahu soal apapun persoalan-persoalan di internal pengurus DPP PBB. Termasuk soal masalah amoral salah satu pengurus DPP PBB yang tadi diungkap saat Jumpers (jumpa pers)" tegas Ridwan.

Ajudan YIM Disebut-sebut

Ridwan Umar, korban lainnya dalam insiden dugaan pengeroyokan di DPP PBB, juga mengaku sebagai kader PBB. Meski tak menunjukkan KTA miliknya, Ridwan mengatakan dirinya kini tengah menjadi Caleg PBB di Cianjur.

Pengakuan Ridwan sebagai kader PBB juga diperkuat oleh Ali Wardi. Ali mengatakan, "Iya Ridwan kader, sejak awal berdiri PBB dia sudah ikut,".

Selain menjadi bagian dari PBB, Ridwan juga menjabat Wakil Ketua Komando Barisan Rakyat (Kobar) yang sejak 2016 dikenal tegas menolak kelompok-kelompok penista agama Islam.

Saat berbincang di Polres Jaksel, Ridwan tidak mengutarakan kesadaran dirinya tengah menjadi incaran. Tidak seperti Ali Wardi yang mengaku pernah beberapa kali diteror.

Tapi dari Ridwan terkonfirmasi bahwa Sinyo yang menjadi terlapor kasus dugaan pengeroyokan di DPP PBB, diduga sebagai ajudan Yusril Ihza Mahendra. "Kenapa kita bilang ajudan, karena dia kan kita tahunya supirnya, kemana-mana YIM ya ada dia (Yosep-red)," kata Ridwan.

Sementara Yusril, hingga berita ini dimuat, belum sedikitpun memberi tanggapan soal Sinyo ataupun dugaan pengeroyokan ini.

Ada Tulisan "BAIS" di Pakaian Terduga Pelaku Pengeroyokan

Masih kata Ridwan, beberapa orang tak dikenal yang menjadi terduga pelaku dugaan pengeroyokan itu mengenakan baju bertuliskan "BAIS" yang belakangan disebut sebagai Barisan Ical Syamsudin.

"Bukan satu orang pakai baju kaos BAIS tapi lebih dari satu. BAIS=Barisan Ical Syamsudin," kata Ridwan melalui pesan Whatsapp.

Ridwan juga mengatakan, Ical adalah Ketua DPC PBB Jakarta Pusat. Tapi Ia menampik jika insiden dugaan pengeroyokan di DPP PBB adalah keributan antar kader karena Sinyo (terlapor) hanya satu dari 30-an orang pelaku dan korelasi pengguna kaos/baju BAIS dengan Ical masih perlu dikonfirmasi. Adapun terduga pelaku lainnya, tidak dikenali.

"Sehingga ini aksi premanisme, bukan kader dengan kader," kata Ridwan.

Potensi Saling Lapor

Sekjen DPP PBB, Afriansyah Ferry Noer kemudian menanggapi pelaporan dugaan pengeroyokan terhadap kader PBB ini. Meski, bukan Ferry yang menjadi terlapor dan namanya tak disinggung saat jumpa pers pelapor di Polres Jaksel.

Pada berita Detik.com berjudul "PBB Akan Laporkan Balik Eks Kader yang Polisikan Ajudan Yusril", Ferry mengatakan, "Sepertinya ada beberapa pihak yang mengehendaki saya melaporkan juga, karena dianggap sudah mengganggu DPP,".

Hal ini pun direspon oleh Habib Novel Bamukmin sebagai bagian dari tim Advokat PASS Lantang yang mendampingi Ali Wardi dalam perkara dugaan pengeroyokan di DPP.

"Sebaiknya Ferry beritikad baik untuk membantu aparat kepolisian mengusut kasus ini sampai tuntas demi tegaknya keadilan, bukan memperkeruh suasana," kata Novel.

Pengungkapan Polisi Mencerahkan Spekulasi

Usai pelaporan di Polres Jakarta Selatan, Wasekjen DPP Partai Bulan Bintang (PBB) bid. Hukum dan HAM, Ismar Syafrudin mengutarakan pihaknya berharap agar kepolisian segera menuntaskan kasus ini agar berbagai spekulasi tidak beredar luas. "Karena terlapor kan non muslim," kata Ismar di Polres Jakarta Selatan.

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Politik, Hukum, Peristiwa, GoNews Group

wwwwww