Benar-benar Gawat, Susah Beli Jagung, Peternak Ayam Petelur Terancam Bangkrut

Benar-benar Gawat, Susah Beli Jagung, Peternak Ayam Petelur Terancam Bangkrut
Ilustrasi. (net)
Jum'at, 12 Oktober 2018 19:08 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Sudah hampir tiga bulan, peternak ayam (terutama peternak ayam petelur) mengalami krisis pakan jagung. Selain ketersediaannya yang nyaris sulit ditemukan dipasaran, harga jagung juga melambung tinggi tak terjangkau.

"Kondisi para peternak sudah sangat mengkhawatirkan dan sangat berbahaya dampaknya secara jangka panjang," tegas Fadli Zon, Ketua Umum DPN HKTI yang juga Wakil Ketua DPR RI.

"Harga jagung sudah menyentuh harga Rp5.000-Rp5.300 per kg, padahal harga acuan ditingkat petani Rp3.150 per kg dan ditingkat konsumen Rp. 4.000 per kg," tandas Fadli Zon.

Dengan harga tersebut, pasokan jagung juga minim. Padahal komponen utama pakan ayam petelur adalah jagung.Dari informasi di lapangan, beberapa sentra pertanian jagung di Jawa Timur memang sedang panen, seperti di Tuban, Nganjuk, dan Trenggalek.

Namun hasil panen tersebut tak dapat dirasakan para peternak ayam petelur di Blitar dan sekitarnya karena sudah diserap feed mill.

"Jadi hasil panen langsung diambil feed mill karena sebelumnya sudah ada kontrak pembelian dengan petani. Para peternak ayam petelur rakyat yang juga kemampuan (secara kuantitas dan keuangan) membeli jagung kecil, tidak kebagian. Jadi betul ada panen jagung di sentra pertanian jagung tapi para peternak ayam petelur rakyat tidak kebagian," ujar Fadli Zon.

Kondisi ini diperparah dengan harga telur yang anjlok dibawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Informasi dan laporan yang diterima HKTI per 9 Oktober 2018, harga telur di sentra peternakan ayam petelur rakyat di Blitar sebesar Rp16.000-Rp16.300 per kg.

"Harga ini jauh dibawah harga acuan farm gate Rp8.000-Rp20.000 sebagaimana hasil revisi harga yang ditetapkan Kemendag. Peternak merugi dobel; harga pakan naik di satu sisi sedang harga telur anjlok di sisi lain. Ibarat sudah jatuh babak belur, tertimpa tangga pula," tegas Fadli Zon.

Sulit dan mahalnya harga pakan jagung membuat para peternak ayam petelur rakyat di Blitar terpaksa melakukan afkir dini ayam ternaknya. Ini menjadi reaksi awal untuk mengurangi kerugian yang semakin dalam dan untuk bertahan hidup.

"Afkir dini menjadi reaksi logis dan natural menghadapi kesulitan pakan dan kerugian yang terus mendera peternak ayam petelur. Mereka bertahan hidup tidak gulung tikar saja sudah hebat dengan menyigi kondisi seperti sekarang ini," tegas Fadli Zon.

Kondisi ini bila terus berlanjut, dalam pandangan HKTI, akan sangat membahayakan produksi dan tata niaga perteluran nasional. Pakan yang sulit dan harganya yang tak terjangkau dibarengi dengan harga telur yang anjlok akan menyebabkan frustasi dan keengganan untuk beternak kembali di kalangan para peternak.

Afkir dini yang terus dilakukan untuk bertahan hidup dan mengurangi kerugian, pada titik tertentu akan berdampak pada berkurangnya secara signifikan jumlah populasi ayam petelur di sentra peternakan ayam petelur rakyat. Berkurangnya populasi akan berdampak sejajar dengan berkurangnya produksi telur.

"Rangkaian dampak dari sulit dan mahalnya pakan jagung, bila terus berlangsung maka bukan tak mungkin akan berujung pada luluhlantaknya peternakan ayam petelur rakyat, meningkatnya pengangguran di desa sentra peternakan, dan krisis telur nasional. Dan ini dipastikan akan mengganggu ekonomi nasional," kata Fadli Zon.

"Bahaya dampak turunan dari kondisi saat ini sangat besar. Untuk membangun kembali peternakan ayam petelur rakyat akan sangat sulit dan butuh waktu panjang. Sangat disayangkan bila hal ini harus terjadi," lanjut Fadli Zon.

Karenanya menurut Fadli Zon, HKTI mendesak pemerintah untuk mengalokasikan hasil panen jagung sejumlah kebutuhan para peternak ayam petelur rakyat dengan harga sesuai acuan pemerintah, Rp.4.000. Jaminan alokasi dan harga ini harus ditetapkan dan dipenuhi Pemerintah melalui Bulog untuk waktu sepanjang tahun.

"Pemerintah harus menjamin ketersediaan pakan sesuai kebutuhan para peternak dengan harga sesuai acuan pemerintah selama sepanjang tahun," ujar Fadli Zon.

HKTI juga mendesak pemerintah, menurut Fadli Zon, bila saat ini tengah surplus atau ada panen jagung, Pemerintah tidak mengekspor ke negara tetangga tetapi menprioritaskan terlebih dahulu kebutuhan para peternak ayam petelur rakyat.

"Kalau ada surplus atau ekspor jagung maka sebaiknya ekspor distop dulu untuk penuhi kebutuhan pakan jagung para peternak. Jangan kita dapat untuk dari ekspor tapi sebagian rakyat kita ekonominya morat marit karena ekspor tersebut. Harus dahulukan kepentingan nasional," tegas Fadli Zon.

Dan hal urgen yang perlu segera dilakukan oleh Pemerintah (Kementan, Kemendag, dan BULOG) dalam pandangan HKTI adalah melakukan kerjasama pembelian dengan feed mill. Feed mil yang memiliki stock jagung dibeli oleh BULOG stocknya sejumlah kebutuhan peternak kepada feed mill untuk kemudian dijual ke peternak rakyat.

"Ini penting dilakukan segera dengan aturan sama-sama untung. Dan feed mill harus mau karena ini kepentingan nasional yang bila tidak dilakukan berpotensi akan merugikan feed mill itu sendiri bila peternakan rakyat hancur," tandas Fadli Zon.

"Ini kondisi sudah darurat pakan jagung buat peternakan ayam petelur rakyat. Kebijaksanaan pemerintah dan semua pihak yang terkait akan menyelamatkan bangsa Indonesia dari krisis telur dimasa yang akan datang," pungkas Fadli Zon.

HKTI, lanjut Fadli Zon, berkeyakinan Kementan dan Bulog akan bijak dan segera tanggap mengatasi masalah ini.***

Kategori:Uncategories
wwwwww