Pahlawan Nasional dari Riau

14 September 1945, Kapten Mansyurdin Diangkat sebagai Wakil Komandan BKR di Riau (bagian-3)

14 September 1945, Kapten Mansyurdin Diangkat sebagai Wakil Komandan BKR di Riau (bagian-3)
Kapten Mansyurdin. (dok keluarga untuk GoNews.co)
Jum'at, 10 Agustus 2018 10:08 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
PEKANBARU - Pada peringatan HUT Kemerdekaan RI, bangsa Indonesia kembali diingatkan akan perjuangan para pahlawan saat melawan penjajah. Tak terkecuali dengan masyarakat Riau, sejumlah pahlawan nasional juga lahir dari  "Bumi Lancang Kuning" Sebut saja Mahmoed Marzuki, Tuanku Tambusai, Sultan Sayrif Kasim II, Raja H Fisabillilah dan sejumlah tokoh lainnya.

Pemerintah Provinsi Riau, sebelumnya juga memasukkan daftar nama Kapten Mansyurdin, tokoh ini merupakan Komandan Polisi Tentara/PT Pertama di Riau yang juga sempat menjabat Wakil Ketua BKR Riau.

Baca Juga: Kapten Mansyurdin, Komandan Polisi Militer Pertama di Riau Hingga Kini Belum Masuk Daftar Pahlawan Nasional, Ini Kisah Perjuangannya (Bagian-1)

Kapten Mansyurdin adalah termasuk tokoh yang sangat dihormati dan disegani di negeri ini. Sang Kapten merupakan pria kelahiran Pariaman 10 Januari 1923 yang lahir dari pasangan Nurdin-Balun dan wafat pada 10 Juni 1960.

Sepanjang hidupnya, ia abdikan untuk kemajuan dan perjuangan di Riau. Berikut Ini sejarah singkat perjuangan Kapten Mansyurdin yang dihimpun GoNews.co dari data Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Riau serta cerita pihak keluarga yang masih hidup di Riau, pada kisah (bagian-3).

Pada tanggal 12 September 1945, pemimpin-pemimpin rakyat beserta para pemuda, antara lain: Mansyurdin, Umar Usman, Dt.Mangku, Wan Abdurrachman, Hasan Basri, Basrul Jamal, Toha Hanafi, Bermawi, Amat Suka, Rd.Yusuf, Rd.Selamat, Agus Ramadan, Abu Bakar Abduh, menaikkan bendera merah putih secara resmi di Kantor Riau SYU TJO KAN (Residen Riau).

Baca Juga: Imbangi Gerakan Belanda di Riau, Kapten Mansyurdin Bentuk Serikat 'Hantu Kubur' dan Kibarkan Merah Putih di Pekanbaru (Bagian-2)

Tindakan tersebut diambil alih oleh para pemuda, karena Instruksi Penaikan Bendera Merah Putih dari Gubernur Sumatera di Medan kepada Residen Riau pada waktu itu (AMINUDDIN) tidak ditanggapi, akibat sudah dipengaruhi Belanda.

Sebelumnya Sang Merah Putih pernah dinaikkan para pemuda di Kantor Riau SYU TJO KAN, tetapi tidak lama dapat berkibar karena kedatangan tentara Sekutu dari Singapore yang dipimpin Majoor Langly, yang memerintahkan Jepang untuk menurunkan Sang Merah Putih. Para pemuda pada awalnya akan menghantam tentara Jepang tersebut, namun dibatalkan dengan pertimbangan untuk menjadikan Jepang sebagai kawan dalam melawan Belanda/sekutu.

Mansyurdin dan Bermawi, serta beberapa orang pemuda mendatangi rumah Residen Aminuddin dan Keisi Karim (Komisaris) dengan maksud menanyakan pendiriannya terkait Kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya, pernah juga beberapa pemimpin rakyat mendatangi mereka, akan tetapi tidak ditanggapi, akibat pengaruh dari pihak Belanda yang sering mendatangi rumah mereka.

Akibat desakan dari Mansyurdin, Bermawi, dan para pemuda, akhirnya Aminuddin melarikan diri masuk kamp Sekutu, sedangkan Keisi Karim diperintahkan meninggalkan Riau sesegera mungkin.

Mansyurdin Diangkat Sebagai Wakil Komandan Barisan Kemanan Rakyat (BKR)

Setelah pengibaran bendera merah putih di Pekanbaru, Aparat Pemerintahan, Barisan Keamanan Rakyat (BKR), Organisasi Pemuda, dan lain-lain mulai disusun, dan disebarkan ke seluruh Riau.

Saat itu Abd.Malik diangkat sebagai Residen Riau pada tanggal 14 September 1945, sementara Hasan Basri diangkat sebagai Komandan Barisan Keamanan Rakyat (BKR), dan Mansyurdin diangkat sebagai Wakil Komandan Barisan Keamanan Rakyat (BKR).

Sang Saka Merah Putih Kembali Dikibarkan "Serikat Hantu Kubur" di Pekanbaru, Usai Diturunkan Jepang

"Serikat Hantu Kunur" yang dikomandoi Mansyurdin, kembali menaikkan bendera sang Saka Merah Putih yang sudah diturunkan Tentara Jepang di Kantor Riau Syu Tjo Kan.

Saat itu, 'Sang Merah Putih' yang sudah berkibar di Kantor Syu Tjo Kan  sejak tanggal 1 September 1945, tiba-tiba diturunkan kembali oleh Tentara Jepang.

Mansyurdin bersama 4 orang rekan-rekannya, yakni  Bermawi, Miswan, Abdullah Rukun dan Adjo Udin lalu bertindak. Pada malam harinya dengan sembunyi-sembunyi dan merangkak, mereka menaikkan kembali Sang Merah Putih di Kantor Riau Syu Tju Kan yang sedang dikawal tentara Jepang.

Barangkali Tentara Jepang yang mengawal ketiduran, atau tidak melihat akibat malam yang sangat gelap, aksi tersebut tidak diketahui mereka. Pada tiang bendera itupun ditulis kalimat yang berbunyi "AWAS SIAPA YANG MENURUNKAN MAUT", di bawah kalimat itu juga ditulis "SERIKAT HANTU KUBUR".

Kemudian, pada posisi paling atas dibuat gambar tengkorak dan kalimat-kalimat yang ditulis Albanik. Dan ternyata upaya Mansyurdin tidak sia-sia. Para tentara Jepang tidak mau lagi menurunkn bendera itu.

Maka, berkibarlah terus Sang Merah Putih di Kantor Syu Tjo Kan yang akhirnya dinamakan Kantor Residen RI Riau.

Sang Merah Putih yang dinaikkan oleh Mansyurdin dan rekan-rekannya pada tengah malam buta itu, merupakan pemberian Toha Hanafi kepada "Serikat Hantu Kubur".Bersambung ke bagian 4

wwwwww