Ondeh Mandeh... Ternyata Sumbar Nomor 1 Tertinggi Peredaran Rokok Ilegal di Indonesia

Ondeh Mandeh... Ternyata Sumbar Nomor 1 Tertinggi Peredaran Rokok Ilegal di Indonesia
Kepala Ditjen Bea dan Cukai Teluk Bayur Hilman Satria
Kamis, 12 Juli 2018 19:08 WIB
PARIAMAN - Tak disangka, ternyata Sumatera Barat ternyata merupakan salah satu tempat pemasaran rokok ilegal terbesar secara nasional. Diperkirakan, 17 persen dari rokok yang beredar di Sumetera Barat seperlimanya merupakan produk ilegal.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Ditjen Bea dan Cukai Teluk Bayur Hilman Satria dalam sosialisasi cukai rokok yang dilaksanakan Badan Keuangan Daerah (BKD) Pemko Pariaman bekerjasama dengan Ditjen Bea dan Cukai Teluk Bayur di gedung pertemuan Pondok Indah, Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (12/7).

Sosialisasi menghadirkan seratus orang peserta mulai dari pedagang, pengusaha rokok, unsur kepemudaan dan tokoh masyarakat.

Acara yang dibuka oleh Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Pemko Pariaman Yanrileza juga dihadiri oleh Kepala Dirjen Bea dan Cukai Teluk Bayur Hilman Satria serta narasumber dari pihak terkait.

Pada kesempatan ini Hilman Satria mengatakan, Kegiatan sosialisasi cukai rokok merupakan sinergisitas antara Badan Keuangan Daerah Kota Pariaman dengan Dirjen Pengawasan Bea dan Cukai Teluk Bayur.

"Sebagaimana kita ketahui bahwa berdasarkan hasil survei terakhir dari UGM di tahun 2018 Sumbar merupakan salah satu tempat pemasaran rokok ilegal nomor 1 secara nasional," ungkapnya seperti minangkabaunews.com.

Jadi pungkasnya, 17 persen dari rokok yang beredar di Sumetera Barat seperlimanya merupakan produk ilegal.

"Oleh karena itulah karena merasa mempunyai tanggung jawab, maka kawan-kawan dari BKD dengan menggunakan dana bagi hasil cukai rokok diselenggarakanlah kegiatan sosialisasi cukai rokok ini kepada warga Kota Pariaman," ujar Hilman.

Dengan harapan lanjutnya, setelah sosialisasi ini masyarakat dapat paham dengan pita cukai dan pengetahuan masyarakat semakin tinggi tentang peredaran rokok ilegal.

"Selain merugikan keuangan negara rokok ilegal juga merugikan kesehatan masyarakat itu sendiri, karena disinyalir rokok ilegal ini bahan dasarnya menggunakan rokok sudah kadaluarsa dan bekas rokok yang di daur ulang," ungkap Hilman.

Ia juga menyebutkan, tingginya peredaran rokok ilegal di Sumbar karena tingkat konsumsi rokok masyarakat meningkat, kemudian harga rokok ilegal yang juga sangat murah. ***

Editor:Arie RF
Sumber:minangkabaunews.com
Kategori:Uncategories
wwwwww