Home  /  Berita  /  GoNews Group

Soal Rencana Pemerintah Impor Dosen, Agus Hermanto: Profesor dan Dosen Indonesia Lebih Canggih

Soal Rencana Pemerintah Impor Dosen, Agus Hermanto: Profesor dan Dosen Indonesia Lebih Canggih
Wakil Ketua DPR RI, Agus Hermanto. (Muslikhin/GoNews.co)
Senin, 16 April 2018 12:58 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA – Terkait rencana Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Riset Dikti) Mohamad Nasir yang akan mengimpor dosen dari luar negeri, mendapat tanggapan serius dari Wakil Ketua DPR RI, Agus Hermanto.

Alasan menteri Nasir yang mengatakan bahwa Indonesia memerlukan 200 tenaga dosen asing agar masuk reputasi dunia di bidang pendidikan dinilai kurang tepat.

"Saya melihat kalau tujuannya untuk pertukaran pengetahuan, rasanya itu bisa saja dilaksanakan. Namun kalau khusus dosen asing itu didatangkan untuk mengajar di sini rasanya kok saya kurang sepaham," ujar Agus Hermanto, Senin (16/4/2018) di Gedung Nusantara III DPR RI.

Karena menurut politisi Demokrat itu, karena profesor - profesor di Indonesia sudah cukup canggih, cukup hebat dan cukup mumpuni. "Sehingga tentunya para profesor kita harus diberikan kesempatan yang lebih besar, karena kita ketahui sekarang banyak universitas negeri terutama yang profesornya sampai turun gunung sampai memasuki desa-desa melaksanakan pengabdian masyaarakat," tandasnya.

Ia menyarankan, agar pemerintah mengkajinya kembali rencana impor dosen tersebut. "Kita harus lihat konteksnya terlebih dahulu, kalau sekedar pertukaran informasi iya gak apa-apa. Tenaga kerja dan dosen itu berbeda, dosen itu di dalam Republik Indonesia UU diatur tersendiri ada UU dosen dan guru, UU Pendidikn Tinggi, sehingga harus juga harus implemen dan tidak boleh bersinggungan dengan Uu yang ada," paparnya.

Untuk itu kata dia, pihaknya juga berencana akan segera memanggil menteri yang bersangkutan, terkait dengan ristek dan pendidikan tinggi adalah kewajiban pihak Komisi X dan Komisi VII, saya berharap, dua komisi segera meminta klarifikasi soal ini,” tegasnya.

Sebelumnya, Pemerintah akan mengimpor tenaga pengajar untuk perguruan tinggi di Tanah Air. Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Riset Dikti) Mohamad Nasir mengatakan, Indonesia memerlukan 200 tenaga dosen asing agar masuk reputasi dunia di bidang pendidikan.

"Salah satu indikator pengukurannya (reputasi dunia) adalah staff mobilityStaff mobility ini adalah dosen asing masuk ke Indonesia, demikian pula sebaliknya Indonesia di luar negeri," kata Nasir di Gedung Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi, Jakarta, Selasa (10/4).

Terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing pada 26 Maret lalu, dinilai Nasir sangat membantu. Aturan ini bisa memfasilitasi dan mempermudah dosen-dosen asing mengajar di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memang memerlukan banyak dosen asing untuk mengajar karena jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 4500 perguruan. "Kalau kita seribu (dosen asing ke Indonesia) saja, masih sangat kurang," tambahnya.

Saat ini total dosen asing yang tercatat mengajar pada perguruan tinggi di Indonesia baru sekitar 30 orang. Meski membutuhkan lebih dari 1.000 orang, Kemenristekdikti hanya bisa menganggarkan untuk kebutuhan 200 dosen asing tahun ini.

Bidang dosen asing yang dikonsentrasikan untuk didatangkan oleh Kemenristek Dikti tahun ini yaitu sains dan teknologi. Kedua bidang tersebut dirasa perlu, karena perguruan-perguruan tinggi Indonesia banyak mencontoh riset-riset kedua bidang itu dari luar negeri, seperti Finlandia dan Jerman. ***

wwwwww