Ini Kisah Keturunan Minang dan Arab yang Sukses Jadikan Go-Jek Bernilai Triliunan Rupiah

Ini Kisah Keturunan Minang dan Arab yang Sukses Jadikan Go-Jek Bernilai Triliunan Rupiah
Nadiem Makarim
Jum'at, 30 Maret 2018 09:20 WIB
JAKARTA - Si hijau Go-jek semakin populer. Bukan hanya di ibukota Jakarta, namun juga hampir di beberapa provinsi dan kabupatan kota di Indonesia. Gebrakannya lewat aplikasi transportasi online telah mampu membantu mengatasi persoalan transportasi yang murah dan mudah plus kesejahteraan bagi driver ojek yang selama ini kesulitan mencari pelanggan.

Ya, kesuksesan Go-Jek tentu tidak diraih dengan mudah. Pendiri perusahaan transportasi yang kini beromset triliunan rupiah ini juga mengalami proses jatuh bangun dalam berbisnis.

Nadiem Makarim, pendiri dan CEO Go-Jek juga merasakan sulitnya merintis bisnis. Namun rintangan demi rintangan itu tidak membuatnya patah semangat, namun justru membuatnya matang dalam menjalankan bisnis, hingga akhirnya Go-Jek menjadi aplikasi populer di Indonesia.

Nadim yang merupakan lulusan Harvard Business School telah menjadi salah satu sosok di dunia teknologi Indonesia yang banyak diperbincangkan.

Tahun 2011, Go-Jek sebenarnya sudah dirintis. Tapi barulah layanan itu melesat sejak peluncuran aplikasinya di ponsel Android dan iOS pada awal tahun 2015.

Nadiem sendiri berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Nono Anwar Makarim adalah seorang aktivis dan pengacara terkemuka keturunan Minang dan Arab.

Nadiem mendapatkan pendidikan bergengsi di luar negeri. Sekolah menengahnya di Singapura dan New York. Kemudian, ia masuk ke Brown University, sebuah kampus di Rhode Island, Amerika Serikat. Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan kuliah pasca sarjana di Harvard Business School dan meraih gelar Master of Business Administration.

Kembali ke Indonesia, Nadiem sempat bekerja sebagai konsultan sebelum mendirikan Go-Jek. Ia pernah mengaku memang gemar menggunakan layanan ojek untuk menembus kemacetan Jakarta.

Terbersit di pikirannya untuk memudahkan penumpang dan pengojek terhubung dengan aplikasi smartphone. Dan lahirlah aplikasi Go-Jek pada awal tahun 2015.

Menurutnya, Go-Jek punya tujuan mendorong perubahan agar sektor transformasi sektor informal seperti ojek agar yang tadinya bekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu bisa beroperasi secara profesional dengan pendapatan lebih baik.

"Kami di sini berusaha untuk menawarkan solusi lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan pekerjaan. Dimana mereka yang hanya punya motor, punya smartphone, dan berkemauan keras bisa bekerja," ujarnya saat dulu meluncurkan aplikasi Go-Jek.

"Kami juga berusaha untuk mensejahterakan tukang ojek yang mungkin selama ini penghasilannya tidak seberapa dengan memberikan pendapatan tambahan yang didapat dari Go-Jek Indonesia ini," tambahnya.

"Dengan Go-Jek, para pengemudi ojek ini setidaknya lebih produktif karena mereka tidak hanya membawa penumpang saja, tetapi juga membantu berbelanja dan juga mengirimkan paket yang mana itu semua bisa menambah pendapatannya," ungkap Nadiem.

Tak dinyana, Go-Jek cepat melesat sampai sekarang, di mana ekosistem ojek online sudah semakin matang dan valuasi Go-Jek sudah tembus USD 5 miliar. Dan nama Nadiem pun ikut melambung. Jika membahas ojek online, namanya pun hampir selalu disebut. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:detik.com
Kategori:Rantau, Sumatera Barat, GoNews Group, Umum

wwwwww