Loading...
Home >  Berita >  Bukittinggi

Dihelat Selama 3 Hari, Inilah Berbagai Lomba Kesenian Tradisi Minang yang Digelar di RRI Bukittinggi

Dihelat Selama 3 Hari, Inilah Berbagai Lomba Kesenian Tradisi Minang yang Digelar di RRI Bukittinggi
Selama 3 hari berturut- turut LPP RRI Bukittinggi gelar Lomba Tradisi Budaya Minang, Rabu 8 November 2017.(courtesy YPA).
Rabu, 08 November 2017 19:47 WIB
Penulis: jontra
BUKITTINGGI - Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia ( LPP - RRI) Bukittinggi menggelar festival budaya Minang. Acara ini dihelat sebagai wujud kepedulian dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Diantara jenis perlombaan yang diadakan yakni lomba Saluang, lomba Randai dan Panitahan atau berbalas pantun tingkat umum.

Perlombaan yang untuk pertama kali diadakan ini diikuti oleh grup kesenian tradisi Minang dari berbagai daerah di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, dengan puncak kegiatan pada Senin 13 November 2017 mendatang tepatnya pada malam Pagelaran Seni dan Budaya Multietnis.

Festival Budaya Minang ini dibuka secara resmi siang tadi oleh Bupati Agam yang diwakili Sekretaris Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Zuhren di Auditorium RRI Bukittinggi, yang turut dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, serta tamu dan undangan lainnya.

Sekretaris Disparpora Agam Zufren mengatakan, Pemerintah Kabupaten Agam sangat mendukung Festival Budaya yang diadakan RRI Bukittinggi ini, dalam rangka melestarikan kesenian budaya Minang terutama bagi orang Minang sendiri dan masyarakat pada umumnya.

“Jika ditilik secara nasional, ada sekitar 35 budaya daerah yang terancam punah, karena tidak ada inistiatif dan keinginan masyarakat bersangkutan melestarikan budaya yang dimilikinya, sekarang di Minangkabau hal ini juga patut diwaspadai masyarakat, maka dari itu kegiatan seperti Festival Budaya ini merupakan salah satu langkah untuk menjaga kelestarian budaya yang kita miliki,” ungkap Zufren.

Menurut Zufren, pengikisan nilai budaya yang simpel saja saat ini misalnya saat suatu keluarga mengajarkan anaknya berbahasa indonesia untuk berbincang sehari-hari, tentu saja hal demikian membuat sang anak merasa diajarkan bertutur yang berbeda dari bahasa sehari - hari keluarganya. Walaupun bahasa Indonesia juga penting, namun hendaknya lebih diutamakan bahasa Minang sebagai bahasa ibu, imbuhnya.

“Jika dicermati dalam konsep budaya dan pariwisata, bukan budaya asing yang harus kita contoh, melainkan budaya tradisional kita lah yang harusnya dijual pada para wisatawan, sehingga kelestariannya tetap terjaga, dan hal itu menjadi tanggungjawab seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat,” terangnya.

Zufren juga menyebutkan, jika dilakukan pendataan ke seluruh pelosok daerah di Kabupaten Agam dan Bukittinggi ini, akan kita temui tidak banyak lagi remaja yang dapat memainkan alat musik tradisional seperti saluang, kemudian memainkan peran dalam kesenian randai, dan panitahan, hal ini menandakan budaya Minangkabau mulai ditinggalkan oleh para generasi muda sebagai pewarisnya.

“Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Agam Melalui Disparpora terus mengupayakan menanamkan falsafah adat minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), yang diimplementasikan dengan program Agam Menyemai, bukan hanya membagikan benih tanaman, buah, dan menebar benih ikan semata, namun termasuk juga menanamkan nilai agama, seni, dan budaya ke tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya.

Zufren berharap, kedepan RRI Bukittinggi sebagai lembaga penyiaran publik terus berperan dalam melestarikan budaya Minangkabau ini, dengan mengoptimalkan acara yang berhubungan dengan agama, budaya, dan adat istiadat Minangkabau, serta kepada peserta diharapkan jangan hanya berpartisipasi semata, namun lebih kepada melestarikan budaya minangkabau, sehingga nilai yang turun temurun dari nenek moyang itu tetap terjaga, harapnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun LPP RRI Bukittinggi Samirwan mengatakan, Festival Budaya ini merupakan gagasan dari karyawan/ti, yang terselenggara sesuai dengan misi LPP RRI pada poin ketiga yakni tugas RRI adalah menyelenggarakan siaran yang bertujuan untuk menggali, melestarikan, mengembangkan budaya bangsa, memberikan hiburan yang sehat bagi keluarga, serta membentuk budi pekerti dan jati diri bangsa, ditengah arus globalisasi, ucapnya.

Selain itu, RRI merupakan salah satu media yang selalu konsisten dalam menjaga kelestarian budaya yang merupakan aset bangsa, sehingga ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

RRI Bukittinggi terus menjaga kelestarian budaya asli minangkabau, yang diwujudkan dengan program siaran yang berbudaya lokal, seperi saluang yang acaranya sudah 30 tahun mengudara, bahkan ada pengisi acara yang sudah 25 tahun mengabdi yakni Mak Pian, maka dari itu muncul ide untuk memperlombakan saluang ini, untuk melihat bakat dan minat masyarakat yang pandai memainkan alat musik tradisonal Minangkabau itu,” ujarnya.

Samirwan juga berpendapat, RRI Bukittinggi sudah sepatutnya memperoleh penghargaan, karena sudah puluhan tahun ikut menjaga kelestarian budaya bangsa. Saluang yang dimainkan dalam program Bagurau di Udaro setiap Senin malam dan pada minggu ketiga satu kali sebulan digelar hingga dini hari melalui Programa Satu ini sudah 30 tahun menjadi sahabat setia pendengar di ranah minang.

Tak hanya itu, Kesenian Randai juga selalu menjadi bagian dari siaran RRI Bukittinggi, yang diputar dalam bentuk kaset rekaman, dan hingga kini juga banyak penggemar acara yang juga telah lama disiarkan itu, sementara Panitahan disiarkan melalui dialog budaya yang diselenggarakan Seksi Pemberitaan satu kali seminggu, jelasnya.

Samirwan meminta pada seluruh peserta untuk mengikuti perlombaan ini dengan baik, berikanlah penampilan maksimal dalam kegiatan perdana ini, dan untuk penilaian seluruhnya diserahkan pada dewan juri yang keputusannya tidak dapat diganggu gugat.

Samirwan juga menyampaikan, lomba Saluang yang dilaksanakan pada 8 November 2017 ini diikuti 10 grup, Randai yang diperlombakan pada 9 dan 10 November 2017 diikuti 18 grup, dan Panitahan yang juga diperlombakan pada 9 dan 10 November diikuti 14 grup. Serta ada satu acara khusus yang diadakan pada 11 November 2017 dengan wujud memperingati Hari Pahlawan, yakni lomba mewarnai tingkat Taman Kanak-kanak, jelas Samirwan.

Agenda ini ditutup dengan persembahan seni budaya, menampilkan budaya multi etnis dari berbagai daerah yang ada tersebar di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, serta hiburan rakyat berupa permainan KIM, pada Senin 13 November 2017 mendatang.

“Kepada para pemenang nantinya, RRI Bukittinggi akan memberikan penghargaan dan uang pembinaan pada grup yang berhasil memperoleh hasil terbaik, dan nantinya sebagai wujud menjaga kelastarian budaya minang ini, seluruh peserta juga berkesempatan mengisi acara rutin yang disiarkan secara langsung dalam program yang telah disediakan,” pungkasnya.(**)


Loading...
www www