Kisah Perempuan Tangguh Pembuat Tadia Dinding Asal Payakumbuh, Sedihnya Jika Anak Bertanya ''Jadi Orang Kaya Itu Enak ya Ma..''

Kisah Perempuan Tangguh Pembuat Tadia Dinding Asal Payakumbuh, Sedihnya Jika Anak Bertanya Jadi Orang Kaya Itu Enak ya Ma..
Rika Gustika pembuat tadia dindiang di kediamannya di Nagari Tabek Panjang.
Sabtu, 10 Juni 2017 22:31 WIB
Penulis: Bayu Denura
DI PINGGIR Jalan Tan Malaka, tepatnya di Jorong Dusun Planduak, Kenagarian Tabek Panjang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, terlihat seorang wanita tangguh sedang asik membuat tadia dinding, kandang ayam dan keranjang tomat. Tangannya dengan cekatan menyusun rangkaian kerajinan tangan yang harus segera diselesaikannya agar bisa dijual.

Namanya Rika Gustika (39), dia sibuk dengan pekerjaannya tanpa menghiraukan siapa yang datang, kecuali orang yang hendak membeli beraneka ragam kerajinan tangganya. Kalau ada orang yang mau membeli baru dia memandang dan menawarkan hasil pekerjaannya.

Saat ditemui GoSumbar.com, Sabtu (10/6) sore, Rika sedang sibuk bekerja. Namun disela-sela pekerjaannya, dia masih menyempatkan menjawab pertanyaan-pertanyaan. ''Pekerjaan ini lama saya geluti, ini pekerjaan turun temurun dari seorang ibu bernama Eliwati (59),'' ujar wanita cantik yang sudah menjanda sejak 7 tahun itu.

''Yah beginilah kehidupan kami, meskipun saya seorang wanita, tetap bekerja keras demi menghidupkan keluarga dengan 3 orang anak. Kalau tidak bekerja, bagaimana menghidupkan keluarga, saya punya tanggung jawab, 3 orang anak bernama Bunga Utari (19), Aisyah Putri (17) dan Muthia Latifa (11), ketiganya masih sekolah, butuh biaya yang besar. Beruntung dua orang sekolah di Multi Plus Koto nan Ampek, disana sekolah tidak dipungut biaya, bahkan dia dilatih menjahit dan memperbaiki beragam merek handphone''.

Dijelaskannya, dua orang anaknya yang sekolah di Multi Plus itu, yakni Bungga Utari setingkat SLTA kelas III dan Aisyah Putri setingkat SLTP kelas III, dia sekolah disana memang tidak membayar, ''Alhamdulillah, dia mendapat penghasilan ala kadarnya, dari hasil menjahit yang diajarkan pihak sekolah, terkadang dia dikasih uang Rp100 ribu/minggu terkadang lebih. Sedangkan Muthia Latifa, baru mau naik kelas V SD, dia sekolah di SD 03 Tabek Panjang''.

Bercerita tentang perjalanan hidup, ternyata Rika sudah merantau kemana-mana tapi gagal. ''Ingin rasanya mengubah nasib kearah yang lebih bagus lagi, tidak bekerja keras seperti sekarang ini, tapi apa boleh buat, yang namanya usaha tetap tak berubah. Kata orang, alih profesi, tapi saya tidak juga berhasil. Saya coba pula pergi merantau ke Pekanbaru, Padang dan Bogor serta daerah lainnya, tetap saja nasib belum berubah dan sekarang kembali membuat tadia dinding dan kandang ayam serta kerajang tomat di kampung'' ceritanya.

Hasil dari membuat tadia dinding ini, menurut Rika lumayan juga, rejekinya memang ibarat rejeki harimau, terkadang ada, terkadang kosong. ''Jika memang milik kita, bisa mendatangkan uang sekitar Rp300 ribu/hari, terkadang Rp50 ribu, parahnya lagi terkadang kosong alias nihil''.

''Dengan seringnya kosong itulah, saya selalu berpikir panjang. Jika malam hari, ketika makan bersama anak, kadang dia bertanya, ''jadi orang kaya itu enak ya ma''. Saya hanya bisa menjawab dalam hati. Sebab kami makan sering tak pakai lauk pauk, hanya sekedar pengganjal perut''.

Namun dia tetap optimis suatu saat hidup tetap akan berubah. Karenanya kadang saat bercanda dengan anak-anak, dia sempatkan memotivasi anak-anaknya. ''Pernah suatu hari, kami dihampiri beberapa ekor kunang-kunang, secara serentak ketiga anak saya bertanya, mama, kunang-kunang ini kecil, tetapi bisa memberi cahaya besar. Terpikir bagi saya, suatu ketika nanti, usaha kecil-kecilan ini bisa juga besar, seperti kunang-kunang tersebut. Siapa tahu, dengan bekerja mengandalkan tenaga, menggunakan parang, pisau, palu ini suatu saat anak-anak saya bisa mengubah pekerjaannya dengan menggunakan bolpoin (pena-red). Nasib itu dapat berubah tentunya jika anak berhasil sekolah,'' urai Rika Gustika.

Di tempat usahanya, Rika membuat tadia dinding dengan berbagai variasi ada yang bewarna dan ada yang polos, harganya berwarna Rp65 ribu/helai sedangkan yang polos Rp50 ribu/helai. Bahan bakunya berupa bambu yang dibeli dari orang lain. ''Saya tak punya ladang, tak punya sawah dan tak punya apa-apa, kecuali tenaga, walaupun saya seorang wanita''. ***


wwwwww