Internasional

Muslimah Ini Pertaruhkan Nyawa Demi Lindungi Warga Kristen di Marawi, Begini Ceritanya

Muslimah Ini Pertaruhkan Nyawa Demi Lindungi Warga Kristen di Marawi, Begini Ceritanya
Tentara Filipina buru militan Maute di Kota Marawi. (merdeka.com)
Selasa, 30 Mei 2017 22:42 WIB
MANILA - Kisah heroik dan menyentuh hati terjadi di tengah suasana mencekam di Kota Marawi, Filipina, akibat pertempuran antara kelompok militan dan pasukan keamanan pemerintah.

Seorang muslimah asal Marano bernama Farida, dengan berani mempertaruhkan nyawa demi menolong orang-orang Kristen saat kelompok militan Maute menyerang kota mereka.

''Saya ingat ketika sekelompok teroris menerobos masuk ke toko senjata tempat saya bekerja. Ibu Farida dengan berani menghadapi mereka,'' kata Cris, yang saat itu menjadi saksi kejadian, seperti dilansir dari laman Inquirer, Selasa (30/5).

''Konfrontasi itu benar-benar dari mata ke mata. Dia menunjukkan keseriusannya kepada orang-orang bersenjata itu,'' tambahnya.

Cris bercerita, pemimpin kelompok itu memerintahkan agar senjata dalam toko diambil. Dia juga menanyai di mana para karyawan Farida berada.

Farida lalu berdiri di depan ke-13 pegawainya, seakan ingin melindungi dari teroris berjumlah sekitar 10 orang itu dan berusia belasan.

''Anda harus membunuh saya dulu sebelum Anda menyentuh mereka,'' kata Cris menirukan ucapan Farida saat itu.

Cris merupakan salah satu dari 17 karyawan toko Farida yang terletak di Basak Malutlut. Namun empat karyawan lainnya ditempatkan dalam satu cabang toko di Bunggalo yang sudah dijarah. Keluarga mereka rata-rata tinggal di wilayah Basak Malutlut.

''Seandainya para teroris itu menangkap kami, keluarga kami juga akan disandera,'' ujarnya.

Meski secara statistik orang non-muslim di wilayah itu hanya ada satu persen dari jumlah populasi di Marawi, namun proporsi mereka sebenarnya lebih tinggi karena biasanya mereka tinggal di kota besar untuk perusahaan komersial dan pembantu di rumah keluarga kaya.

Aksi pengepungan dilakukan kelompok militan di toko senjata itu memang tidak memakan korban. Namun sebagian besar senjata milik mereka dijarah oleh militan.

Sejauh ini, konflik antara kelompok militan dan pasukan pemerintah itu telah menyebabkan 14 orang dan satu pendeta disandera. Sekitar 100 orang yang sebagian besar terdiri dari para jihadis tewas akibat bentrokan itu.

Namun tidak ada tanda-tanda bahwa kelompok militan itu akan menyerah. Bahkan mereka mengancam akan membakar seisi kota agar mendapat pengakuan dari Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).***
loading...
Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:GoNews Group, Umum
wwwwww