Begini Kisah Trauma Jihan, Korban Selamat Bom Kampung Melayu

Begini Kisah Trauma Jihan, Korban Selamat Bom Kampung Melayu
Jihan, (Antara)
Kamis, 25 Mei 2017 21:09 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Rabu malam (24/5) itu, sekitar pukul 21.00 WIB, menjadi malam yang nahas bagi Jihan Audria (19) bersama dua rekannya. Mereka menjadi korban ledakan bom di area Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur.

Mereka baru saja melangkahkan kaki keluar dari halte transjakarta Kampung Melayu, Jakarta Timur. Ketiganya bersiap menyeberang jalan dan berganti moda transportasi menuju rumahnya di kawasan Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur. 

"Jam 21.00 WIB itu lagi keluar halte Kampung Melayu. Mau menyeberang. Waktu itu habis perjalanan dari Ancol mau pulang. Pas nengok kiri halte, ada yang jaga di sana, polisi-polisi," tutur Jihan saat ditemui di rumahnya, seperti dikutip dari Antara, Kamis (25/5).

Tiba-tiba terdengar ledakan tak jauh dari halte. Jihan dan kedua kawannya pun panik. Seketika itu juga mereka berlari menjauhi lokasi kejadian. 

Mereka berlari seakan tak ada sesuatu terjadi. Namun beberapa saat kemudian, Jihan baru menyadari bagian kepala, tepat di sebelah atas telinga kirinya bengkak. 

"Tiba-tiba ada bom meledak di situ. Langsung kabur dari situ. Kepala benjol gitu kena sesuatu sepertinya. Enggak tahu apa," kata mahasiswi jurusan akuntansi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di kawasan Matraman itu. 

Belum hilang rasa paniknya, dia kembali mendengar suara ledakan. Jihan sama sekali tak menengok ke belakang atau berusaha melihat kondisi sekelilingnya. Satu hal yang terpikir olehnya saat itu adalah segera pulang ke rumah. Bergerak sejauh dan sesegera mungkin dari Terminal Kampung Melayu.

Tiba di rumah, Jihan langsung menghubungi kedua orang tuanya yang saat itu sedang ada keperluan di suatu tempat. 

"Pertama sampai rumah, mama sama ayah lagi enggak ada. Yaudah aku langsung telpon mereka. Ayah datang langsung dibawa ke IGD ( RS Hermina Jatinegara)," ujar Jihan. 

Bagian tubuh menempel di rambut

Tiba di IGD, Jihan yang dalam kondisi sadar mengaku mendapat perawatan medis dari pihak berwenang. Kala itu dia melihat lengan baju dan rambutnya terkena percikan darah. 

Dokter lalu membersihkan darah di baju Jihan dan membuka ikatan rambutnya. Saat itulah Jihan baru menyadari, tak hanya darah tetapi ada beberapa potongan kecil daging ikut menempel di rambutnya. 

"Rambut  lagi dikuncir. Dokter membuka ikatan rambut, karena (ada bagian tubuh) mau dirontgen. Ternyata ada daging dan darah menempel," kata dia. 

Usai mendapat perawatan, Jihan sempat melihat tiga orang yang dia yakini sebagai korban bom, juga mendapatkan perawatan namun di ruang berbeda. 

"Aku sadar saat itu. Kata dokter enggak apa-apa, hanya bengkak. Ngeliat tiga orang lagi. Beda ruangan. Ada yang luka di punggung, bibir dan kaki," tutur sulung dari dua bersaudara itu. 

Saat ini, dia masih mengaku takut dan ngeri bila mengingat kejadian semalam. Dua rekannya, menurut dia, bahkan tak berani keluar rumah. 

"Takut juga naik transjakarta.Teman-teman masih trauma, Zahra dan Icha takut keluar rumah," kata dia menyudahi wawancara. 

Selain Jihan, tiga orang korban luka yang mendapat perawatan di RS Hermina yakni Damai R. Sihalono, dua petugas kepolisian berpangkat Bripda. 

Jihan dan Damai akhirnya dibawa pihak keluarga pada Kamis pagi. Sementara dua lainnya, dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I Raden Said Sukanto (RS Polri) sekitar pukul 03.00 WIB. ***

Sumber:kumparan.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Hukrim
wwwwww