Wilmar Bangun Sekolah Senilai Rp9,8 M di Tengah Kebun Sawit

Wilmar Bangun Sekolah Senilai Rp9,8 M di Tengah Kebun Sawit
Sabtu, 20 Mei 2017 21:42 WIB
PADANG - Salah satu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang perkebunan Wilmar Internasional menunjukkan komitmennya untuk menjalankan kewajibannya pada program Coorporate Social Responsility (CSR). Sejumlah program tanggung jawab social dikemas dengan sangat baik, terutama program pendidikan. Mereka membangun dua sekolah yang nilainya lebih dari Rp15 miliar di Pasaman Barat dan Solok Selatan.

Hal itu terungkap dalam pertemuan di Guest House salah satu anak perusahaan Wilmar, PT AMP di Kecamatan Palembayan, Agam, tengah pekan ini.

Pada pertemuan tersebut, Head Plantations Wilmar Indonesia, Gurcharan Singh menyebutkan, sekolah yang mereka bangun tersebut murni dikelola pihaknya. Di Pasaman Barat, kata Gurcharan, pihaknya menghabiskan dana hingga Rp 9,8 M untuk membangun sekolah bagi 615 siswa yang mengeyam pendidikan dari tingkat TK, SD dan SMP di satu komplek sekolah itu.

“Sekolah itu berada di dalam lahan perkebunan sawit yang dikelola PT Gersindo. 75-80 persen siswa yang sekolah adalah anak-anak karyawan kami. Siswanya, adalah anak-anak dari masyarakat sekitar,”kata Gurcharan yang didampingi GM Wilmar Grup Region Sumatera I, Low Kim Seng, AGM Sumbar, Jeffry Gugkang, Coorporate Secretary, Johannes dan staff Wilmar di wilayah Agam dan Pasaman Barat.

Keberadaan sekolah ini sendiri sudah ada sejak tahun 1995 silam. Saat itu, kondisinya tentu masih apa adanya. Namun, sejak tahun 2014 silam, Gurcharan yang baru pulang dari lawatan ke China, melakukan renovasi terhadap sekolah binaan mereka yang berada di wilayah perkebunan mereka di Pasaman Barat (Pasbar) dan Solok Selatan (Solsel).

“Sepulang dari lawatan ke China, saya mendapat inspirasi untuk melakukan hal serupa di sini (Pasbar dan Solsel). Seluruhnya saya adopsi. Dari awal pembangunan hingga metode pengelolaannya. Hal ini jadi komitmen kami terhadap dunia pendidikan, termasuk merawatnya,”katanya.

Sejak awal, kata pria yang lama berkiprah di kebun Sawit di Sumbar ini, ia langsung turun bersama staff untuk mengawasi pembangunan. Seluruh pembangunan sekolah ini dikerjakan kontraktor lokal dengan tetap berada dalam pengawasan dan pelatihan Wilmar. Selain itu, desain dan konstruksi langsung dipegang perusahaan.

Selain itu, Wilmar juga terlibat langsung dalam menjaga keberlangsungan sekolah tersebut secara berkelanjutan. Maka, Wilmar pun membantuk tim khusus melalui yayasan Bina Agro Minang (BAM) yang terdiri dari karyawan untuk menjadi relawan. 

Sementara, untuk tenaga pengajar, kami seleksi melalui tahapan yang ketat. Ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan yang dikelola Wilmar.

“Ini yang membedakan program CSR kami dengan perusahaan-perusahaan lain.Kami menyebutnya Hi Quality CSR (CSR Kualitas Tinggi)," ucapnya.

Saat meninjau sekolah ini, layout nya sangat tertata rapi. Posisi gedung yang terdiri dari 22 ruang kelas untuk TK, SD dan SMP ditambah fasilitas pendukung lain seperti ruang laboratorium IPA dan Komputer, ruang pertemuan yang sangat representative serta kantin, dibentuk letter U.

Di tengah, ada lapangan upacara yang dilingkar dengan jalan lingkar dengan dasar beton yang dicat merah. Jalan lingkar ini, menjadi akses ke seluruh depan ruangan.

Selain itu, sekolah ini juga punya ruang kesenian yang tidak hanya mempelajari tentang kenenian umum tapi juga kesenian lokal yang merupakan budaya Minang hingga marching band.

Untuk memberikan kenyamanan siswa, perusahaan tersebut juga menyediakan bus sekolah yang bertugas untuk menjemput dan mengantar anak sekolah.

Ditanya tentang sekolah di Solsel yang berada di tengah perkebunan sawit PT KSI, Gurcharan mengatakan, sekolah di lokasi ini lebih kecil dibanding di Pasaman Barat. Proses pembangunannya, sama-sama dimulai tahun 2014 untuk sekolah tingkatan TK dan SD. Sedangkan SMP, ia menyebut akan dibangun segera.

“Di sana (Solsel) kami menghabiskan anggaran hingga Rp6 miliar lebih untuk membangun gedung TK dan SD serta seluruh fasilitasnya,sebutnya.

Ditambahkan GM Region Sumatera I, Low Kim Seng, pihaknya mengucurkan dana tetap hingga Rp75 juta untuk operasional sekolah di Pasbar ini, termasuk gaji para guru yang juga kami beri fasilitas tempat tinggal bagi tujuh guru yang berasal dari luar Pasbar. Total, ada 37 pengajar yang mengabdi di sekolah binaan Yayasan BAM ini“Itu belum termasuk jika ada kegiatan non rutin, semisal ada siswa yang ikut lomba. Artinya, dalam satu tahun, bisa jadi dana yang kami keluarkan untuk operasional tiga sekolah ini dalam satu tahun hampir mencapai Rp1 miliar. Sementara, di Solok Selatan, saya tak ingat detailnya,”kata Low Kim Seng lagi.

Corporate Secretary Wilmar Group Indonesia Johanes menambahkan mereka tidak hanya fokus pada keuntungan bisnis, tapi juga berupaya memberdayakan masyarakat lokal melalui peningkatan pendidikan dengan membangun sekolah yang disertai dengan tempat ibadah. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:harianhaluan.com
Kategori:Pendidikan, GoNews Group, Pasaman Barat, Solok Selatan, Sumatera Barat
wwwwww