IPW Desak Kepolisian Ungkap Pelaku yang Akibatkan Tewasnya Taruna Akpol

IPW Desak Kepolisian Ungkap Pelaku yang Akibatkan Tewasnya Taruna Akpol
Ilustrasi Taruna Akpol.
Jum'at, 19 Mei 2017 15:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Polri diminta segera mengungkapkan secara transparan kasus tewasnya taruna Akademi Polisi (Akpol) tingkat dua, Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam.

Hal itu diungkapkan Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane kepada GoNews.co, Jumat (19/5/2017). "Pelakunya harus segera ditahan dan dipecat dari taruna Akpol meskipun yang bersangkutan misalnya adalah anak seorang jenderal," ungkapnya.

Ind Police Watch (IPW) sangat menyesalkan kasus kematian Brigdatar Mohammad Adam yang diduga akibat penganiayaan sesama taruna.

"Kasus ini menyisakan misteri panjang dan sekaligus menunjukkan bahwa kekerasan masih menjadi bagian terselubung dalam sistem pendidikan di kepolisian," paparnya.

Kasus kematian Mohammad Adam bagai teori gunung es bahwa kekerasan masih cukup kental bercokol di sistem pendidikan kepolisian. "Selama ini IPW kerap mendapat laporan tentang adanya taruna yang melarikan diri atau kasus dugaan pelecehan seks. Namun setiap kali dipersoalkan IPW pejabat berwenang selalu membantahnya," tukas Neta.

Sementara itu kata dia, korban dan keluarga korban selalu tutup mulut karena khawatir dikeluarkan dari Akpol, jika buka mulut. Bahkan ada taruna yang sudah tidak kuat untuk menjalani pendidikan di Akpol, namun keluarganya tetap memaksa bertahan.

"Memang jumlah kasus kasus seperti itu tidak signifikan jumlahnya tapi tetap mengganggu profesionalisme pendidikan di Akpol," tegasnya.

Dengan adanya kasus kematian Mohammad Adam sudah saatnya Polri dan Akpol membuka diri dan membuka secara transparan apa sesungguhnya yang terjadi di lingkungan Akpol. Para mantan Gubernur Akpol juga diminta harus mau bicara jujur ke internal Polri tentang apa yang pernah terjadi di lingkungan Akpol.

"Ya terutama yang menyangkut sikap prilaku para taruna, terutama lagi yang menyangkut sebagian anak anak jenderal, sehingga bisa dilakukan pembenahan dan kasus kekerasan, seperti yang menyebabkan tewasnya Mohammad Adam tidak terulang lagi," tandasnya.

Tewasnya Adam ini katanya lagi, tentu akan berdampak pada sistem pendidikan Polri yang anti kekerasan, yang bertujuan melahirkan polisi sipil, modern, profesional, proporsional dan tidak represif. Sebab itu semua yang terlibat dalam kasus kematian Adam harus diusut tuntas secara transparan dan segera dipecat dari Akpol, meskipun ybs anak seorang jenderal maupun petinggi kepolisian.

"Polda Jateng sendiri sudah memeriksa 21 orang dalam kasus ini. Hukum harus ditegakkan dan pola pembinaan di Akpol perlu dikontrol dengan ketat dan anak anak jenderal jangan diberi keistimewaan. Bahkan yang bermasalah harus segera dipecat. Tujuannya agar pendidikan di Akpol benar benar tanpa kekerasan, tanpa pelecehan dan benar benar menghargai hak asasi manusia. Sehingga Akpol bisa melahirkan kader kader polisi sipil, modern, profesional dan anti kekerasan," pungkasnya. ***

wwwwww