La Nyalla Mattaliti, Mandiri Tanpa Koneksi, dari Supir Angkot dan Cuci Piring Pernah Dijalani 'Sang Entrepreneur Sejati'

La Nyalla Mattaliti, Mandiri Tanpa Koneksi, dari Supir Angkot dan Cuci Piring Pernah Dijalani Sang Entrepreneur Sejati
La Nyala Mahmud Mattaliti. (dok. Pribadi)
Kamis, 18 Mei 2017 21:59 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
La Nyalla Mattalitti kerap dianggap tiba-tiba muncul dan memiliki pengaruh besar di dunia usaha tanpa asal-usul. Namanya tiba-tiba meroket tanpa orang tahu dari mana asalnya.

Padahal, sendirian dia membangun usahanya. Dari kakinya sendiri. Menjadi mandiri tanpa bantuan nama besar keluarga atau koneksi.

"Saya memulai segalanya dari nol. Tanpa modal, tanpa bantuan siapapun. Bahkan hanya bermodalkan fisik. Menjadi supir angkot saya jalani, menjadi tukang cuci piring saya lakoni. Jika usaha itu halal, maka Allah yang akan menambahkan rezeki jika kita senantiasa bersyukur dan istiqomah," kata La Nyalla.

Tak jarang, usaha dia menemui jalan buntu. Bahkan rugi besar. Tapi baginya, risiko adalah teman baik pengusaha. Mereka selalu ada di setiap keputusan bisnis yang dipilih. Tanpa risiko, seorang pengusaha tak akan bisa ditempa menjadi sosok yang tahan banting, berani, dan memiliki insting bisnis yang cemerlang.

Dalam salah satu buku Entrepreneur, ditulis berbagai rangkuman perjalanan bisnis La Nyalla dari titik terendah garis startentrepreneurship. Mulai sebagai kacung hingga pencapaian tertingginya menjadi owner sejumlah perusahaan. Bisnisnya terus tumbuh dan berkembang.

"Bukan soal menjadi apa saya setelah ini. Tapi manfaat besar apalagi yang bisa terus saya ciptakan. Itulah alasan dasar mengapa saya terjun di entrepreneurship. Dan konsisten di jalur tersebut," kata La Nyalla.

Meskipun begitu, dengan pencapaian itu semua, tak ada yang ingin La Nyalla tonjolkan atau bahkan sombongkan dengan buku ini. "Saya ingin membagi semangat. Membagi energi positif kepada para pengusaha muda atau yang baru merintis bisnis. Jika saya bisa, kalian justru bisa jauh lebih baik dari saya," tandasnya.

Berikut Kisah Bisnis La Nyalla Mattalitti.

Tahun1990, ia mendirikan Autamaras, perusahaan yang bergerak di bisnis pameran. Autamaras bermitra dengan PT Maspion, menggelar Surabaya Expo. Pada tahun 1991, Surabaya Expo sukses besar dan jadi agenda rutin. Dan pada tahun1993, Surabaya Expo III digelar dan semakin besar hingga dua lokasi.

1988, dirinya masuk ke Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Dan pada tahun1989, Autamaras sempat mengalami kerugian sekitar Rp180 juta. Ia pun menanggung kerugiannya sendirian.

Tidak berhenti, iapun kembali menggelar Surabaya Expo IV sukses besar dengan digelar outdoor di lapangan Kodam V Brawijaya.

2001, dirinya mendirikan Gapeknas Jawa Timur dan memperjuangkannya. 2008 La Nyalla mendirikan tiga perusahaan lain sebagai diferensiasi bisnis PT Autamaras, CV Sabra Mas, CV Ali Afandi, CV Aulia.

Bergerak Melawan Angin

La Nyalla Mattalitti kerap dianggap sebagai sosok yang kontroversial dan fenomenal. Komentarnya yang keras terhadap pemerintah dan keterlibatannya dalam sejumlah agenda politik di Jawa Timur membuat dia mendapat citra negatif. Meski apa yang dia perjuangkan bisa dipahami dan mewakili common sense alias akal sehat orang banyak.

Padahal, La Nyalla adalah juga manusia biasa. Jauh sebelum tenar dan berjaya dengan memiliki sejumlah perusahaan, dia juga adalah seorang rakyat jelata yang merintis usaha. Dan sebagai manusia biasa, dia ikut pula mengalami pahit getirnya dunia bisnis. Dicaci, disepelekan, dan merugi untuk kemudian menanggungnya sendiri.

Tapi La Nyalla tak pernah menyerah dan berhenti. Dia terus berjalan meski langkahnya tertatih hingga harus terjatuh beberapa kali. Namun, dia percaya, yang tak sampai mematikanmu justru membuatmu lebih kuat.

"Saat kamu merasa semuanya seperti melawan dirimu, ingatlah bahwa pesawat bisa terbang tinggi karena bergerak melawan angin. Bukan malah mengikutinya,” paparnya.

Mengapa entrepreneurship?

Para entrepreneur adalah mereka yang mereka berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Tak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tapi juga menciptakan bisnis baru. Pekerjaan membuat orang bisa makan dan menghidupi keluarganya. Dengan sendirinya menjadi pengusaha jauh lebih mulia.

Dengan entrepreneur kemaslahatan yang dibawa bisa jauh lebih banyak. Dan pahala yang didapatkan dari melakukannya itu terus mengalir bahkan sampai kita telah tiada karena upaya kita menciptakan bisnis baru dan lapangan pekerjaan itu.

Kita tidak bisa terus menerus berharap pada negara. Pekerjaan dan kesejahteraan, misalnya. Beban negara dalam mengurus rakyat terlampau besar. Entrepreneur harus tampil untuk menjadi solusi. Memberi pekerjaan untuk masyarakat dan dengan sendirinya meningkatkan taraf hidup mereka. Menyejahterakan.

Jika seorang entrepreneur hanya berpikir soal memperkaya diri sendiri, maka mereka tak lebih dari seorang pekerja biasa. Bahkan lebih rendah derajatnya daripada seorang karyawan rendahan.

Hanya pendapatan dan pekerjaannya saja yang berbeda, tidak lebih. Seorang entrepreneur harus berpikir di luar batas-batas individualnya. Berpikir jauh ke depan. Menciptakan bisnis untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsanya.

"Saya yakin, merintis bisnis tidak gampang. Dunia entrepreneurship adalah dunia yang keras. Tapi, mereka yang mampu survive di dalamnya akan keluar sebagai pemenang.

Menyatukan Dakwah dan Bisnis

La Nyalla sudah berpikir bisnis sejakberkuliah di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Tapi, obsesinya saat itu adalah menyatukan dakwah dan bisnis. Caranya dengan menjual buku-buku agama di masjid-masjid Kota Malang. Buku-buku itu dia ambil dari toko buku milik saudara kakeknya, Haji Abdul Karim.

Hasilnya lumayan. Keuntungan yang dia dapat saat itu adalah 40 persen dari harga buku. La Nyalla menjalani bisnis pertamanya tersebut dengan perasaan tentram. Sebab, dia tak hanya bisa hidup mandiri tanpa meminta uang dari orang tuanya, tapi juga amar ma’ruf nahi munkar.

"Saya tidak pernah membeda-bedakan antara bisnis dan agama. Bahwa agama harus di jalur agama dan bisnis tetaplah bisnis. Menurut saya pandangan itu salah. Bisnis adalah muamalah. Dan muamalah itu harus tetap dilakukan dalam konteks ibadah. Dengan sendirinya ia harus sesuai etika agama,” kata La Nyalla.

Pulang dari Australia Jadi Supir Angkot

Sepulang dari Sydney, La Nyalla belum memiliki pekerjaan tetap. Tapi, dia sudah menegaskan pada dirinya sendiri bahwa entrepreneur adalah jalan yang akan dia pilih.

Karena itu, kegelisahannya saat itu bukan soal perusahaan mana yang akan menjadi tempatnya bekerja. Tapi usaha apa yang akan dia geluti dan menjadi jalan hidupnya. Di tengah masa pencarian itu, La Nyalla tetap harus bertahan hidup. Dan salah satu cara yang paling mungkin dilakukan saat itu adalah menjadi supir angkot.

Tak tanggung-tanggung, dua trayek dia ambil. Sore hari hingga subuh, dia menyewa angkot milik salah seorang temannya dan menjalankannya dari Wonokromo ke Jembatan Merah. Saat siang jika sedang senggang, giliran L300 milik rekan lainnya yang akan disewa untuk menjalankan trayek Surabaya-Malang. Pekerjaan tersebut rela dia lakoni hingga 2 tahun. Bahkan sampai berumah tangga pada 1987.

La Nyalla tak pernah merasa rendah diri dengan pekerjaan tersebut. Bagi dia, seseorang bisa memulai usaha dari garis start manapun. Yang penting adalah garis finisnya.

Jalan panjang menjadi entrepreneur terus ditekuni La Nyalla. Setelah dua tahun menjadi supir angkot, pintu usaha yang lebih besar dia rintis dengan mendirikan perusahaan kontraktor bernama Airlangga Utama Nusantara Sakti atau disingkat Autamaras.

Autamaras berkantor di kawasan yang saat itu masih pinggiran Surabaya di Tenggilis Timur II Nomor 31. Saat memulai usaha, La Nyalla sudah bergaul dengan banyak pengusaha muda Surabaya yang sudah sukses. Dia tidak minder meski masih merintis.

Bahkan harus menemui mereka dengan motor Vespa pun dia jalani. Kendaraan sederhana itu harus bersanding dengan mobil-mobil bagus di masanya. "Bisnis akan selalu menemukan jalannya sendiri. Di awal pendirian, kita boleh idealis dengan rencana dan mimpi besar. Tapi pada akhirnya kita harus realistis. Melakukan apa yang bisa dilakukan terlebih dulu. Dan focus dulu di sana. Sambil perlahan mengarahkan kembali usaha kita kepada mimpi awal,” kata La Nyalla.

Bagi La Nyalla, menekuni bisnis tidak bisa sendirian. Harus ada rekan. Harus ada kerjasama dan sinergi dengan banyak pihak. Dia sadar bisnis dibangun melalui jaringan. Dan jaringan itu harus dibangun di wadah para pengusaha muda berkumpul seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Ada empat orang yang sangat berjasa mengajaknya bergabung di HIPMI. Mereka adalah Haji Aruman, Haji Djunaedy, Haji Ali Badri, dan HM Ridwan Hisjam. Mereka merekrut La Nyalla ke jajaran HIPMI Jatim. La Nyalla menyambut tantangan itu dengan penuh semangat. Sebab, inilah jalan yang dia mimpikan sejak lama. Menekuni bisnis. Berkumpul bersama para pelakunya. Tak hanya untuk membuka peluang, tapi juga ngangsu kaweruh dari para pelaku bisnis yang sudah senior.

Rugi Besar di Pameran Pertama.

Autamaras mulai mengembangkan sayapnya. Salah satu yang menjadi garapan awal mereka adalah event. Bekerja sama dengan HIPMI Jatim, Autamaras menggelar Pameran Kreativitas Anak Muda Indonesia di Wijaya Shopping Center (sekarang BG Junction).

Awalnya, kegiatan ini mendapat tantangan dari pengurus HIPMI lainnya. Mereka memprediksi kegiatan akan merugi karena peserta yang sedikit. Namun, La Nyalla nekat mengambil risiko tersebut. Dia menelan sendiri kerugian yang saat itu mencapai Rp 180 juta hasil pinjaman dari PT Maspion.

“Bisnis memang penuh risiko. Tapi bukan berarti harus dihindari. Mereka yang terbiasa menghadapi risiko akan tahu bahwa keberanian itu tak bisa dipelajari di bangku sekolah. Tapi harus dialami langsung. Dan yakinlah bahwa rezeki itu bukan hanya di satu usaha. Bisa jadi kerugian itu datang untuk membuka rezeki yang lebih besar,” kata La Nyalla.

Pameran yang merugi itu memberi rezeki kepada La Nyalla dalam bentuk lain. Berkenalan dengan PT Maspion. Perusahaan tersebut meminta Nyalla menggelar Surabaya Expo dengan Maspion sebagai sponsor utamanya. Expo yang kembali digelar di Wijaya Shopping Center tersebut berjalan sukses. Dan merupakan satu-satunya pameran terbesar di Jawa Timur.

Profit yang diraih Autamaras membuat La Nyalla bisa melunasi utang di Maspion. Bahkan mengembalikan uang sponsor. Motor Vespa yang identik dengannya pun disimpan. Berganti mobil pertama yang lahir dari jerih payahnya sendiri: Volkswagen Safari.

Sukses besar Surabaya Expo jilid pertama membawa nama La Nyalla berkibar. Terutama di kalangan pengusaha muda dan para stake holder. Kesuksesan itu juga membuat Autamaras menemukan ceruk bisnisnya: bisnis pameran. Mereka pun akhirnya meninggalkan bisnis kontraktor dan menjadikan pameran sebagai core business-nya.Kesuksesan itu juga membuka begitu banyak peluang. Salah satunya dari Pemprov Jatim.

Mereka menggandeng Autamaras untuk menggelar Surabaya II pada 1991 yang digelar di Surabaya Plasa. Perhatian besar pada pameran kedua itu ternyata jauh lebih besar. Buktinya, Mendagri Rudini datang langsung untuk membuka pameran. Peserta terus bertambah. Masyarakat membeludak.

Surabaya Expo terus menggelinding bak bola salju. Pemprov Jatim mengajak bekerja sama lagi untuk menggelar Surabaya Expo III pada 1993. Perhatian pada pameran kali ini mencapai level puncaknya. Pembukaan dilakukan langsung oleh Wapres Try Sutrisno. Bahkan, saking hebohnya acara, pameran sampai digelar di dua lokasi,yakni Surabaya Plasa dan Surabaya WTC.

Di tahun yang sama, Autamaras juga mendapat order untuk menggelar pameran yang diikuti seluruh Dinas Pariwisata se-Indonesia dan sejumlah negara sahabat. Namanya, Indo Tourism.

Bagi Automaras, Indo Tourism hanya selingan. Sebab, bisnis utama mereka adalah pameran. Indo Tourism praktis hanya sebagai "partai pembuka” menuju Surabaya Expo IV yang untuk kali pertama digelar di tempat terbuka Lapangan Makodam Brawijaya, Surabaya.

Membela Gapeknas dari Kezaliman

Bukan bisnis namanya jika tanpa kompetisi. Dan kompetisi kerap melahirkan konflik. Begitu juga yang dialami Gapeknas. Sebagai salah satu wadah berkumpulnya pelaku bisnis kontruksi baru pasca Reformasi, keberadaan Gapeknas dianggap mengganggu mereka yang sudah mapan.

Pada 2001, kiprah Gapeknas dihambat oleh Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK). LPJK mencabut akreditasi Gapeknas. Akibatnya, para anggota tidak bisa mengikuti tender. Lembaga tersebut memang memiliki kewenangan untuk mencabut akreditasi berdasarkan Keppres Nomor 18 Tahun 2000.

La Nyalla memutuskan untuk melawan kezaliman ini. Langkah Nyalla tak sendirian. Selain didukung anggota Gapeknas, dia juga mendapat restu dari Gubernur Jawa Timur saat itu, Imam Utomo. Gubernur bahkan menunda segala bentuk aktivitas pelelangan di jajarannya sampai Nyalla membereskan legalitas Gapeknas2008 – Sekarang.

Bisnis La Nyalla terus berkembang. Pada 2008, perusahaannya tidak hanya PT Autamaras. Dia pun berekspansi dengan mendirikan sejumlah perusahaan, mulai dari CV Sabra Mas, CV Ali Afandi, CV Auliya, hingga PT Airlangga Media Cakra Nusantara.

Munculnya sejumlah perusahaan dalam jaringan bisnis La Nyalla tidak terlepas dari strategi diferensiasi usaha. La Nyalla tentu tak bisa hanya menggantungkan usahanya dari Autamaras yang dulu berfokus di pameran. Dia juga mengembangkan sayap dalam lini bisnis lain dengan sejumlah perusahaan.

Kini, bisnisnya terentang mulai dari konstruksi dengan berbagai turunannya, industri kreatif, hingga jasa perjalanan umrah dan haji. Dalam pengelolaan unit-unit usaha itu, Nyalla berupaya mengintegrasikan semuanya meski masing-masing memiliki core business sendiri-sendiri. Integrasi itu diwujudkan dalam penempatan kantor pusat perusahaan tersebut. Semuany ditempatkan di Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 21 Surabaya. Gedung ini tak hanya menjadi lokasi perusahaan Nyalla. Tapi juga kantor Gapeknas Jatim yang dipimpin Nyalla.

Kemudian Asosiasi Tenaga Ahli Kontruksi Indonesia (ATAKI) Jatim di mana La Nyalla merupakan penanggung jawab teknik, dan juga Askoni (Asosiasi Konsultan Nasional Indonesia).

Dalam beberapa tahun terakhir, La Nyalla cenderung ”melepas” kendali bisnisnya. Dia tak lagi mengomandoi bisnisnya secara langsung. Dia menaruh kepercayaan kepada anak-anak muda untuk menggerakkanya. Tentu saja itu tak terlepas dari kepercayaannya yang tinggi pada kaum muda. "Pemimpin yang baik adalah yang bisa melahirkan pemimpin baru, termasuk dalam hal ini pemimpin di dunia bisnis,” kata La Nyalla.

Kini, di tengah berbagai ujian, bisnis La Nyalla masih eksis. Dia boleh saja ”diserang” kanan-kiri, tapi daya survival-nya sudah teruji sejak puluhan tahun silam. La Nyalla tetaplah La Nyalla: baginya ujian hanya fase untuk menambah kematangan dan persiapan melompat ke tahap yang lebih tinggi. ***
loading...
wwwwww