Bicara Soal Leadership, La Nyalla Mahmud Mattaliti: Kepemimpinan adalah Bakat Alam

Bicara Soal Leadership, La Nyalla Mahmud Mattaliti: Kepemimpinan adalah Bakat Alam
La Nyalla Matalliti. (dok. Pribadi)
Rabu, 17 Mei 2017 15:03 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
SIAPAKAH pemimpin itu? Pertanyaan ini kembali relevan untuk diajukan di setiap episode bangsa Indonesia. Apakah pemimpin bersifat struktural? Hanya mereka yang berdiri di kursi jabatan yang layak dianggap pemimpin. Atau ia bersifat kultural? Mereka yang dianut oleh banyak orang dianggap sebagai sosok ideal kepemimpinan yang diberikan Tuhan. Dan setiap kali ia melewati fase itu, kadar kepemimpinannya akan terus meningkat sampai ia akhirnya menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

Karena itulah, pemimpin tak selalu terkait jabatan struktural. Seorang presiden bisa dikudeta oleh orang yang bahkan tak memiliki jabatan apapun. Hanya berbekal kepercayaan dari sekelompok orang yang bergerak untuk membantunya. Tapi, pemimpin juga tidak bisa tiba-tiba datang dari ketiadaan.

Bagi La Nyalla Mahmud Mataliti, pemimpin juga harus punya wadah. Harus punya tempat selama ini berkiprah. Sebagai bukti bahwa kepemimpinannya lahir dari sebuah proses panjang. Wadah itu harus nyata dan konkret. Untuk menjadi bukti bahwa dia telah memimpin organisasi, perusahaan, kelompok masyarakat, atau komunitas. Sebab, itu berarti sang pemimpin telah melalui ujian-ujian kepemimpinan secara nyata. Dan menghadapi dinamikanya secara langsung.

Dalam tulisan disalah satu buku berjudul "La Nyala Mahmud Mattaliti On Leadership" dirinya mengemas pemikiran dan pengalamannya saat menjadi pemimpin, baik itu ormas, perusahaan maupun organisasi olahraga.

"Bagi saya, pemimpin itu tidak dilahirkan, tapi juga tidak bisa diciptakan. Sekolah-sekolah kepemimpinan kerap gagal. Kadang hanya terjebak pada kata-kata indah motiviasi. Pemimpin hadir karena telah melalui sekian banyak ujian-ujian kepemimpinan,".

Sebagai pengusaha yang memimpin beberapa perusahaan, aktivis yang memberdayakan para pemuda, dan pemimpin beberapa organisasi, La Nyalla telah membuktikan bahwa dia telah melalui ujian-ujian kepemimpinan itu. Apa yang dia dapatkan dari itu semua? Inilah beberapa di antaranya.

Kekuatan Visi yang Ditopang Aksi Di era Kekinian Sekarang.

mimpi menjadi barang obralan di mana-mana. Semua orang dibujuk oleh mimpi menjadi pengusaha, mimpi menjadi politisi, mimpi kesejahteraan, dan mimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Semua mimpi itu memang menggiurkan. Dan rasa-rasanya, tidak ada siapapun yang menolak memiliki mimpi-mimpi itu. Persoalannya memang bukan soal mimpi. Tapi bagaimana mewujudkannya.

La Nyalla Mattalitti muda juga menjadi bagian dari orang-orang seperti itu. Memimpikan dunia yang dia idam-idamkan secara ideal. Dunia yang membawa bangsanya menjadi salah satu yang terkemuka. Dunia yang memberi kesempatan yang sama bagi orang-orang pinggiran.

Tapi, bedanya, La Nyalla tak mau terjebak pada mimpi itu. Dia mengubah mimpi menjadi visi. Dan dari visi itu dia berusaha wujudkan dengan aksi. Bagi dia, mimpi memang penting. Tapi seseorang tak bisa terus menerus terjebak di dalamnya. Mimpi cuma sebagai alasan mengapa seseorang bergerak.

Dan visi berfungsi sebagai pemandu langkah dan geraknya. Selama lebih dari tiga dekade, La Nyalla berusaha mewujudkan visi itu dengan aksi yang nyata. Dan dia melakukannya dari bawah. Bahkan terbawah.

Visi memberdayakan para pemuda mbeling di kawasan Sunan Giri, Gresik, dia lakukan dengan terjun langsung menemui mereka. Satu per satu. Mengatakan bahwa mereka bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi dengan pendekatannya yang simpatik dan relijius.

Dari level terbawah itu La Nyalla lantas bergerak setapak demi setapak. Dia menjadi pemimpin di perusahaan yang baru tumbuh besar di Jawa Timur, Autamaras. Selama beberapa tahun fokus dan konsisten di bisnis pameran, Autamaras terus bertumbuh bersama La Nyalla.

La Nyalla lantas beralih ke sektor usaha lain dan berhasil. Begitu terus siklus usaha dia jalani hingga dia akhirnya terjun ke organisasi massa dan politik. Dari semua keberhasilan tersebut, tak mungkin dia meraihnya tanpa leadership yang kuat. La Nyalla adalah pemimpin lebih dari lima perusahaan dan pernah sekaligus sedang memimpin lebih dari 10 organisasi.

Beberapa organisasi bahkan levelnya me-nasional. Termasuk di dalamnya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang pernah dia emban selama beberapa tahun.Tak mungkin La Nyalla meraih itu semua sebagai hadiah. Atau bahkan sebagai jabatan yang “dijatah”. Bagi orang-orang seperti La Nyalla yang dibesarkan oleh tindakan nyata, bukan lembaga-lembaga formal-struktural, kepemimpinan adalah pelajaran hidup.

Bukan pelajaran teoritis dalam kelas.

Terdapat lima poin aspek kepemimpinan yang bisa diterjemahkan dari kiprah La Nyalla selama ini, yaitu teladan, keikhlasan, percaya kepada anak muda, berpkiran terbuka (open mind), dan pengembangan kepedulian sosial atau filantropi.

Teladan

Salah satu ukuran seorang pemimpin adalah kekuatannya untuk menginspirasi. Jika seorang pemimpin mampu membuat orang lain untuk belajar lebih giat, bermimpi lebih berani, dan bertindak lebih banyak, maka seseorang itu sudah sepatutnya dianggap pemimpin.

La Nyalla juga menjadi pribadi yang penuh inspirasi. Saat memberdayakan para pemuda mbeling di kawasan Sunan Giri, Gresik, dia tak hanya memberikan mereka pidato, petuah, atau kata-kata bijak. La Nyalla memberi contoh langsung. Dia memperbaiki saluran air di kawasan tersebut. Bahkan tak jarang mengulurkan tangan saat ada yang sakit.

Dari situ, para pemuda tersebut bersimpati kepadanya. Mereka terinspirasi dengan tindakan La Nyalla hingga menggerakkan hati mereka untuk ikut berpartisipasi. Puluhan, ratusan, hingga ribuan dari mereka terinspirasi dengan tindakan La Nyalla dan memutuskan untuk mengikuti jejaknya.

Keteladanan itu tak hanya ditunjukkan kepada para pemuda mbeling. Di semua perusahaan dan organisasi yang dia pimpin, dia juga memimpinnya dengan memberikan contoh yang baik Ikhlas. Pemimpin itu menjalankan tugasnya seperti beramal. Memberikan contoh, teladan, memberdayakan, tanpa berharap balasan. Bahkan mungkin sebaliknya. Apa yang dilakukan pemimpin kerap mendapatkan sambutan yang buruk dari masyarakat sekitar.

Contohnya La Nyalla sendiri. Upaya dia memajukan olahraga di Indonesia justru disambut dengan negatif. Sudah berapa banyak dana pribadinya yang digunakan untuk membenahi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Timnas Indonesia. Tapi yang terjadi, dia justru digulingkan dari jabatannya.

Begitu juga saat dia menjabat sebagai Ketua Kadin. La Nyalla justru diganjar kriminalisasi. Dia dianggap ikut menikmati dana hibah. Padahal, yang dilakukan La Nyalla justru memberdayakan ekonomi masyarakat kecil. Keuntungan dari gerakan pemberdayaan diberikan semuanya untuk para pelaku usaha.

"Saya tahu. Di negeri ini, terkadang hal-hal baik yang kita lakukan dilihat dengan penuh kecurigaan. Saya jalan terus apapun risikonya. Ini demi rakyat kecil. Meski harus diperkarakan," kata La Nyalla.

Percaya Kepada Anak Muda.

Jika seseorang tidak percaya kepada generasi penerusnya, maka dia bukanlah pemimpin. Bahkan, lebih buruk lagi, dia punya bakat menjadi rezim. Sebab, dia sudah tidak memahami hakekat kepemimpinan. Bagi dia, kepemimpinan tak ubahnya kekuasan.

Padahal, seseorang disebut sebagai pemimpin jika dia berhasil melahirkan pengganti yang lebih baik dari dirinya. Pemimpin yang baik adalah yang bisa menciptakan pemimpin baru, bukan semata-mata menghasilkan pengikut.

Karena itu, dalam menjalankan organisasi maupun perusahaan, La Nyalla selalu memberi ruang yang luas kepada anak muda. Saat menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) pada 1995-1998, misalnya.

La Nyalla tidak merasa haru mempertahankannya mati-matian. Dia justru membuka ruang bagi anak muda lainnya untuk berkiprah di organisasi tersebut. Begitu juga saat memimpin organisasi massa Pemuda Pancasila. La Nyalla melibatkan banyak anak-anak muda. Dan dia tidak pernah pandang bulu. Para pemuda mbeling yang dia berdayakan dari kawasan Sunan Giri, Gresik, dia libatkan penuh.

La Nyalla tak pernah merasa terancam dengan anak muda. Dia justru menyambut baik antusiasme dan energi mereka. "Orang tua mungkin memiliki pengalaman. Tapi anak muda memiliki energi yang besar dan memahami karakter generasinya. Jika organisasi atau perusahaan hanya berfokus pada orang tua maka mereka tak akan dinamis. Hanya jalan di tempat," kata La Nyalla.

Open Mind.

La Nyalla percaya bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang lebih banyak mendengar. Bukan sosok yang keras kepala dan menginginkan segala sesuatu seperti keinginannya. Sebab, pemimpin bukanlah one man show. Bukan pertunjukkan tunggal. Pemimpin harus mengelola organisasi yang dibangun dari individu-individu yang beragam. Karena itu, La Nyalla selalu mendengarkan orang-orang yang berkompeten setiap kali hendak melakukan sesuatu.

Dalam mengelola beberapa perusahaannya, misalnya. Dia selalu melibatkan orang lain. Dia juga terbuka terhadap informasi dan pengetahuan baru. Hal itu terbukti meski sudah mapan dengan berbagai perusahaan yang dia dirikan, La Nyalla tetap berupaya mengembangkan bisnis baru untuk semakin memberi manfaat ke lebih banyak orang.

Filantropi.

Bagi La Nyalla, pemimpin harus bisa memberi contoh yang baik. Dan salah satu contoh yang baik itu adalah philanthropy alias dalam bidang amal. Philanthropy tak cuma sekadar memberi kepada orang yang membutuhkan, tapi juga menunaikan hak orang lain yang terbawa dalam rezekinya.

Karena itu, La Nyalla selalu memberikan 2,5 persen dari pendapatannya untuk pondok pesantren, pembangunan masjid, panti asuhan, dan beragam kegiatan sosial. Secara rutin La Nyalla berkeliling membantu mereka yang membutuhkan. Bahkan kerap orang yang tidak dia kenal tiba-tiba saja dia bantu.

Pondok Pesantren Rodhiyatul Jannah yang berlokasi di Jalan Kedung Cowek Nomor 220, Surabaya, adalah contohnya. Pondok pesantren ini menjadi bagian dari gerakan philanthropy La Nyalla. Dia yang membangun musholla, madrasah, asrama santri yatim, beserta perabotnya. Bahkan, ponpes yang berdiri sejak 1994 ini mengangkat La Nyalla sebagai pembinanya.

Berikut Biodata Lengkap La Nyalla.

Lahir di Jakarta, 10 Mei 1959, mengenyam pendidikan SD Bhinneka Bhakti, Surabaya (1965-1971), SMP Negeri 1 Surabaya (1971-1974), SMA Negeri 3 Surabaya (1974-1977), Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (1977-1984).

Kiprah Usaha

Manajer PT Airlanggatama Nusantara Sakti. Komisaris PT Airlangga Media Cakra Nusantara. Komisaris PT Pelabuhan Jatim Satu.

Kiprah Organisasi

Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, Ketua DPW Asosiasi Konsultan Indonesia (ASKONI) Jawa Timur, Ketua GAPEKNAS, Ketua Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI), Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur, Wakil Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur.

La Nyalla juga pernah menjabat Ketua Pengprov PSSI Jawa Timur, Anggota Komite Eksekutif PSSI, Ketua umum PSSI versi KPSI, Wakil Ketua Umum PSSI, Ketua umum PSSI. ***
loading...
wwwwww